Home Opini Kecerdasan Manusia

Kecerdasan Manusia

92
0
SHARE
Kecerdasan Manusia

Oleh: J. Faisal
Pemerhati Pendidikan/Mahasiswa Doktoral Sekolah Pascasarjana UIKA Bogor


Pendahuluan 

Mungkin masih banyak di kalangan orangtua saat ini yang masih merasa bangga jika anak-anak mereka mendapatkan nilai pelajaran yang tinggi di sekolahnya. Para orangtua tersebut merasa mendapat ‘jaminan’ bahwa anak-anak mereka memang cerdas dan merasa anak-anaknya akan berhasil di masa depannya.

Begitupun sebaliknya, banyak pula orangtua yang merasakan kesedihan dan kekecawaan jika anak-anak mereka mendapatkan nilai pelajaran yang tidak tinggi, atau nilai yang pendek di sekolahnya. Mereka sepertinya langsung ‘pasrah’ dengan masa depan anak-anaknya. Pasrah dalam artian yang negatif, pastinya.

Lantas pertanyaannya adalah, apakah jika anak mendapatkan nilai akademis yang tinggi di sekolahnya, maka dapat dipastikan masa depannya akan menjadi cerah? Begitupun sebaliknya, jika si anak selalu mendapatkan nilai mata pelajaran yang jelek di sekolahnya, maka akan dipastikan masa depannya akan menjadi suram?

Memang tidak ada satu manusiapun yang akan tahu tentang seperti apa, bagaimana, dengan siapa, dan dimana masa depannya akan dijalani. Tetapi yang pasti, di luar faktor nasib dan keberuntungannya, setiap manusia sebenarnya sudah dibekali oleh Allah Subhannahu wata’alla dengan bekal kecerdasan masing-masing. Tinggal bagaimana masing-masing pribadi manusia tersebut mencari, dan menggali potensi kecerdasan yang dimiliki. Dengan bekal kecerdasan itulah, maka manusia akan dapat menjalani kehidupan di masa depannya.

Jadi alangkah naifnya jika kita sebagai orangtua masih beranggapan bahwa jika anak-anak kita tidak mendapatkan nilai pelajaran yang tinggi di sekolah, maka kita langsung menganggap anak-anak kita bukanlah anak-anak yang cerdas. Padahal sesungguhnya, kecerdasan manusia pada masa anak-anak masih dan sedang terus berkembang sampai mereka dewasa, tua, dan batasnya adalah kematian.

Bisa jadi jika anak-anak kita kurang berkembang di bagian kognitifnya, tetapi mereka akan berkembang di bagian afeksi atau psikomotornya, atau di bagian-bagian lainnya.

Itulah mengapa Rasulullah Salallahu ‘alaihiwassalam bersabda bahwa kita sebagai manusia haruslah menuntut ilmu dari kecil hingga kematian kita. Itu semua karena kecerdasan manusia pada dasarnya tidak pernah berhenti berkembang sampai saat kematiannya. 

Kecerdasan Menurut Para Ahli 

Dari uraian singkat di atas, kemudian timbul pertanyaan. Sebenarnya, apakah arti dari kecerdasan itu sendiri? Dan apakah jenis-jenis kecerdasan yang dimiliki oleh seorang manusia?

Banyak sudah ilmuwan dan para ahli pendidikan dan psikologi yang telah meneliti tentang kecerdasan manusia. Hasil penelitiannya pun beragam. Kesimpulan para masing-masing ahli tentang kecerdasan pun sangat beragam. Ada yang meninjau kecerdasan manusia dari sisi kognisi, bahwa manusia yang cerdas adalah manusia yang mempunyai daya berfikir yang kuat, seperti kesimpulan yang didapat oleh Alferd Binet dengan Intelligent Quotient (IQ).

Ada juga ahli yang melihat kecerdasan manusia dari sisi emosionalnya, seperti hasil penelitian yang dilakukan oleh Daniel Goleman. Sedangkan Paul Scholtz melihat arti kecerdasan manusia sebagai sebuah respon atas kesulitan yang dihadapi, dan kemudian mencari celah jalan keluar untuk menyelesaikan segala macam kesulitan tersebut. Teorinya ini kemudian dikenal dengan Adversity Quotient (AQ)

Lain pula halnya dengan teori yang diungkapkan oleh Danah Zohar dan Ian Marshall. Mereka melihat bahwa kecerdasan manusia diukur dari kecerdasan ruhaniyah dan tingginya tingkat keimanan manusia kepada Tuhannya. Teori kecerdasan ini dikenal dengan teori Spiritual Quotient (SQ).

Adapun teori tentang kecerdasan yang saat ini sedang berkembang adalah teori kecerdasan majemuk atau Multiple Intelligences (MI), yang dihasilkan oleh Howard Gardner, seorang psikolog dari Universitas Harvard, Amerika. Menurut Gardner, kecerdasan seseorang dapat dilihat dari banyak dimensi, tidak hanya kecerdasan verbal (berbahasa), atau kecerdasan logika semata. Itulah mengapa, Gardner memberi label ‘multiple’ pada luasnya makna kecerdasan. Dia menyimpulkan bahwa ranah kecerdasan seorang manusia akan terus berkembang sampai manusia tersebut menemukan kondisi akhir terbaiknya. Itulah mengapa Gardner menulis ada 6 kecerdasan manusia di dalam MI, tetapi kemudian ditemukan kembali kecerdasan lainnya, sehingga menjadi 9 kecerdasan di buku terakhirnya. Kesembilan kecerdasan majemuk tersebut adalah kecerdasan musikal, naturalis, linguistik, interpersonal, intrapersonal, visual spasial, logika matematika, kinestetik, dan kecerdasan moral atau ahlak.

Setelah Gardner mengeluarkan teorinya tentang berbagai macam kecerdasan yang dimiliki oleh seorang manusia, maka banyak para ahli dan praktisi pendidikan maupun psikolog saat ini, yang meyakini bahwasannya kecerdasan manusia akan selalu berkembang. Dan pastinya, masih banyak lagi kecerdasan yang belum ditemukan oleh para ahli lainnya, bahkan oleh Gardner sendiri.

Di dalam bukunya yang berjudul Sekolahnya Manusia, Munif Chatib membuat sebuah analisa sederhana dari beragam teori dan makna tentang kecerdasan. Menurut Munif Chatib, kecerdasan seseorang adalah proses kerja otak, dan emosi seorang manusia sampai orang tersebut menemukan kondisi akhir terbaiknya. 

Kondisi Akhir Terbaik

Jika demikian, apakah sebenarnya yang dimaksud dengan kondisi akhir terbaik? Mari kita ikuti beberapa ilustrasi berikut ini. J.K Rowling adalah seorang penulis yang cerdas dan berhasil. Dia menemukan kondisi akhir terbaiknya pada usia 43 tahun ketika dia berhasil menulis novel Harry Potter untuk pertama kalinya. Rowling merasa perubahan besar terjadi dalam hidupnya di usia tersebut saat dia menuangkan ide ‘gila’nya ke dalam bentuk tulisan fiksi Harry Potter. Artinya, sebelum Rowling ‘mampu’ menuangkan ide gilanya yang cerdas tersebut, pada hakikatnya dia sedang mengalami proses perkembangan kecerdasannya yang sedang berjalan. Dan bentuk kondisi akhir terbaiknya muncul dengan ‘lahir’nya  Harry Potter.

Penulis cerita detektif yang terkenal dari Inggris, Agatha Christie pun demikian halnya. Dia mendapatkan kondisi akhir terbaiknya di usia 30 tahun, setelah novel detektif pertamanya terbit, dan dibuat pula film thrillernya.

Bahkan seorang ilmuwan sosiologi muslim termasyhur, Ibnu Khaldun mendapatkan kondisi terbaik dari kecerdasannya di bidang ilmu sosiologi dan politik di usia 43 tahun, dengan terbit buku pertamanya Al Muqaddimah di tahun 1377. Dan kecerdasannya tersebut terus berkembang sampai akhir hayatnya.

Memang ada juga manusia yang mampu mendapatkan kondisi akhir terbaiknya dengan lebih cepat. Misalnya Stevie Wonder, yang mampu bermain musik dengan baik di usia 10 tahun, dan terus berkembang hingga dia dewasa.

Atau ada juga Sayyid Muhammad Husein Thabathaba’I dari Iran. Husein mampu menghafal Al Qur’an sekaligus maknanya di usia 5 tahun. Dan di usia 7 tahun, Husein muda mendapatkan gelar Doktor kehormatan dari sebuah universitas di Inggris. 

Faktor Utama Pendukung Munculnya Kecerdasan Seseorang

Tentu saja sebagai manusia biasa, para tokoh-tokoh kontemporer yang disebutkan di atas, dan  para tokoh-tokoh dunia lainnya juga mempunyai kelemahan-kelemahan. Kelemahan-kelemahan tersebut bisa berupa kekurangan-kekurangan yang ada di dalam dirinya, seperti kekurangan di dalam perkembangan mental dan kekurangan di dalam ketidaksempurnaan fisik.

Stevie Wonder, misalnya. Dia sudah mengidap kekurangan fisik berupa kebutaan sejak lahir. Sama  halnya dengan Franklin D. Roosevelt, yang menjadi Presiden Amerika dan menjalankan pemerintahannya di atas kursi roda karena sakit polio yang dideritanya. Atau Agatha Christie yang mengidap Learning Disability, yaitu kelambatan dalam menerima pelajaran. Belum lagi J.K. Rowling yang mudah mengalami depresi, atau Louis Pasteur, ilmuwan yang menemukan hampir 1.800an vaksin, tetapi ternyata dia menderita Attention Defisit Disorder (ADD), yaitu sebuah kelainan mental dalam memperhatikan sesuatu atau hiperaktif, dan lain sebagainya.

Tetapi bagi mereka, kelemahan-kelemahan tersebut bukanlah sebuah kendala yang harus disesalkan atau diratapi. Justru dengan kelemahan-kelemahan yang mereka miliki, mereka tetap bersemangat untuk menumbuhkan kecerdasan-kecerdasan dalam diri mereka.

Pertanyaannya adalah, bagaimanakah dengan segala keterbatasan tersebut, para tokoh-tokoh hebat dunia tersebut bisa menemukan kecerdasan mereka? Ya benar, jawabannya adalah dengan bantuan orang-orang disekitar lingkungan mereka.

Pastinya, dalam menemukan kecerdasannya, seorang manusia tidak bisa berhasil dengan sendirinya. Dia harus dibantu oleh lingkungannya, baik itu orangtua, guru, sekolah, teman, maupun system pendidikan yang diimplementasikan di suatu wilayah atau Negara.

Jika kita tinggal di dalam sebuah wilayah atau lingkungan yang tidak memandang kekurangan sebagai kendala, maka dapat dipastikan kita bisa menemukan kecerdasan yang dimiliki oleh diri kita, anak-anak kita untuk menemukan kondisi akhir terbaik kita.

Sebaliknya, jika kita tinggal di wilayah atau lingkungan yang tidak memahami apa kekurangan kita, dan bagaimana mengelola kekurangan kita untuk mendapatkan kelebihannya, maka dapat dipastikan kecerdasan akan sulit untuk berkembang.

Apalagi ditambah dengan sistem pendidikan suatu Negara yang tidak mempunyai pola pendidikan  yang jelas, dan tidak memahami bagaimana mengembangkan kecerdasan anak-anak bangsanya, maaf…seperti di Negara ini, maka akan dapat dipastikan bahwa anak-anak bangsa, dan para warga Negara tersebut akan tumbuh menjadi warga Negara yang tidak bisa mengembangkan kecerdasan mereka sendiri.

Sekarang bayangkan jika lingkungan tempat tinggal seorang Louis Pasteur hanya memandang kelemahannya dia sebagai orang yang hiperaktif dan sulit fokus terhadap sebuah permasalahan, Mungkin saja Louis Pasteur akan berakhir di sebuah rumah sakit jiwa, dan mungkin juga kita tidak akan pernah mendapatkan vaksin rabies atau vaksin-vaksin penting lainnya dari seorang Louis Pasteur saat ini.

Atau misalnya jika kedua orangtua Sayyid Muhammad Husein Thabathaba’I tidak mendukung kelebihan yang dimiliki oleh anak ‘ajaib’ mereka, maka mungkin seorang Sayyid Muhammad Husein Thabathaba’I hanya akan menjadi seorang anak yang biasa-biasa saja, dan tidak tumbuh menjadi seorang anak kebanggaan umat muslim dunia seperti saat ini.

Jadi, jika kondisi lingkungan seseorang berada dalam keadaan yang kondusif dan selaras dengan kecendrungan kecerdasan yang dimiliki, maka dapat dipastikan orang tersebut akan dengan cepat menemukan kondisi akhir terbaiknya. Sebaliknya, jika kondisi lingkungannya tidak mendukung, maka orang tersebut akan tumbuh sebagai orang atau manusia yang biasa-biasa saja, dan tidak akan pernah memeberikan manfaat kepada sesama. Mungkinkah itu diri kita sendiri?

Wallahu’alam bissowab