Home Polkam Kasus Penolakan UAS Masuk Singapura

Kasus Penolakan UAS Masuk Singapura

Wamenag: Prabowo dan Gatot Juga Pernah Mengalami hal Sama

128
0
SHARE
Kasus Penolakan UAS Masuk Singapura

Keterangan Gambar : Wakil Menteri Agama RI DR. H. Zainut Tauhid Sa’adi M.Si, (foto ist)

Kasus Penolakan UAS Masuk Singapura

Wamenag:  Prabowo dan Gatot Juga Pernah Mengalami hal Sama

Jakarta, parahyangan-post.com- Penolakan Ustad Abdul Somad (UAS) memasuki negara Singapura masih memanas. Bahkan hari ini (Jumat 20/5) akan ada demo besar-besaran oleh Pertahanan Ideologi Sarekat Islam (Perisai) ke Kedutaan Singapura di Jakarta.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Menteri Agama  RI DR. H. Zainut Tauhid Sa’adi   M.Si, mengajak umat Islam  agar bersikap proporsional dan tidak bersikap emosional.

Secara pribadi ia  ikut prihatin atas kejadian yang menimpa UAS tersebut. Namun hal seperti itu,  katanya,  sebenarnya sering juga menimpa orang lain.

“Misalnya Pak Prabowo pernah tidak diijinkan masuk ke Amerika Serikat sewaktu beliau ingin menghadiri kelulusan putranya di Boston pada tahun 2000. Hal serupa juga menimpa mantan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantio ditolak masuk ke Amerika Serikat tahun 2017. Dan saya kira masih banyak kejadian serupa yang menimpa warga negara Indonesia lainnya. Jadi menurut saya hal tersebut hal biasa dan tidak perlu dibesar-besarkan,” tuturnya kepada pers di Jakarta, Jumat.

 

Yang harus dipahami, lanjut Zainut  bahwa petugas imigrasi di berbagai negara termasuk Indonesia memiliki otoritas untuk menolak atau menerima warga asing untuk masuk wilayah suatu negara. Hal itu sepenuhnya menjadi kewenangan negara tersebut.

“Indonesia sendiri melalui pihak Kantor Imigrasi Kelas 1 Khusus TPI Bandara Soekarno Hatta selama tiga bulan terakhir dari bulan Januari - Maret 2022 telah melakukan penolakan masuk 234 warga negara Asing (WNA) dari berbagai negara dengan berbagai alasan,” tambahnya.

Menurutnya, ada beragam alasan penolakan warga negara asing masuk ke suatu negara selain alasan keimigrasian, misalnya karena masuk dalam daftar cekal, paspor rusak atau palsu, tidak kooperatif, mengganggu ketertiban umum dan lain sebagainya.

“Jadi menurut saya masalah pencekalan terhadap UAS meskipun kita ikut prihatin terhadap kejadian tersebut namun sebaiknya kita tetap bersikap proporsional, tidak perlu emosi yang berlebihan, apalagi mengaitkan masalah tersebut dengan intervensi politik negara, misal menyebut "pesanan Jakarta". Hal tersebut sangat tidak relevan dan tidak beralasan,” tambahnya.

Zainut mengajak umat  melakukan muhasabah untuk mengambil hikmah dan pelajaran dari peristiwa tersebut.

“Mari kita membangun sikap hidup yang lebih terbuka dan toleran agar tidak selalu dihantui perasaan curiga dan syak wasangka yang berlebihan. Ajaran agama Islam mengajarkan bahwa kita harus menjauhi prasangka, karena sebagian prasangka itu dosa,” tutupnya. *** (aboe/pp/rls)