Home Agama ISLAMOPHOBIA DAN ISU RADIKALISME

ISLAMOPHOBIA DAN ISU RADIKALISME

85
0
SHARE
ISLAMOPHOBIA DAN ISU RADIKALISME

Keterangan Gambar : Foto : Ilustrasi (sumber foto : nt/pp)

Oleh : Trisna
Aktivias Muslimah

 

Isu radikalisme kembali muncul setelah Menag Fachrul Razi mengeluarkan pernyataan kontroversial terkait kriteria pelaku radikalisme. Disebutkan lebih jauh bahwa paham radikal di lingkungan ASN dan masyarakat masuk melalui orang berpenampilan menarik (goodlooking) dan memiliki pemahaman agama (Islam) yang baik. Bahkan disebutkan pula bahwa salah satu ciri orang berpaham radikal adalah para hafiz Alquran. Tentu saja pernyataan tersebut menuai banyak tanda tanya, mengapa Menag secara nyata memojokkan umat Islam dan menyandingkan pemahaman Islam dengan pemahaman radikal?

Hal itu diungkapkan Fachrul diacara webinar bertajuk ‘Strategi Menangkal Radikalisme pada Aparatur Sipil Negara’yang disiarkan di youtubeKemenPAN-RB Rabu (2/9/2020).“Cara masuk mereka gampang, pertama dikirim seorang anak yang goodlooking, penguasaan bahasa arab bagus, hafiz, mulai masuk, ikut-ikut jadi imam, lama-lama orang disitu bersimpati, diangkat jadi pengurus masjid, kemudian mulai masuk temannya dan lain sebagainya, mulai masuk ide-ide yang tadi kita takutkan”, Ucap Fachrul. 

Kemudian Fachrul juga meminta kepada seluruh kementerian & lembaga pemerintahan untuk tidak menerima peserta yang memiliki pemikiran dan ide mendukung paham khilafah sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) atau Pegawai Negeri Sipil (PNS). Sekalipun Fachrul sendiri menyatakan bahwa paham khilafah tidak dilarang dalam regulasi di Indonesia, namun ia menuturkanpenyebaran paham tersebut harus diwaspadai ditengah-tengah masyarakat. Pernyataan kontradiktif Fachrul di tersebut pada akhirnya semakin membuka tabir betapa ngawurnya definisi radikal yang hingga saat ini selalu dihembuskan oleh rezim. Parahnya lagi cap 'radikal' justru menjadi alat gebuk penguasa kepada siapa saja yang tidak berpihak pada rezim, termasuk di antaranya ASN atau anggota masyarakat yang mendakwahkan ide khilafah dan Islam kafah. 

Menanggapi pernyataan Menag tersebut, MUI menilai pernyataan Fachrul sangat menyesatkan. “MUI meminta agar Menag menarik semua tuduhannya yang tidak mendasar karena itu sangat menyakitkan dan mencederai perasaan umat islam yang sudah punya andil besar dalam memerdekakan negara ini, dan mengisi kemerdekaan dengan karya nyata”, ucap wakil ketua MUI, Muhyiddin Junaidi kepada wartawan detik. ( 4/9/2020) 

Lebih lanjut Muhyiddin menyinggung pernyataan  Menag yang banyak berkaitan dengan isu-isu radikal, yang kemudian ia sebutkan kerap menyudutkan umat Islam. Muhyiddin sangat menyayangkan sikap Menag yang disinyalir mendukung pihak-pihak yang memiliki agenda terselubung untuk mengkriminalisasi kaum muslimin dan ajaran-ajaran Islam. Muhyiddin pun menegaskan bahwa cap radikal seharusnya tidak hanya condong disematkan pada kaum muslimin, dan seharusnya label tersebut diberikan kepada golongan atau kelompok manapun yang melakukan tindakan kekerasan yang merusak. 

Padahal dibanding dengan mengurusi isu radikal, masih banyak permasalahan yang justru butuh perhatian khusus dari rezim. Terlebih lagi dengan kondisi pandemi seperti saat ini, angka kasus positif COVID-19 yang tidak kunjung turun seharusnya menjadi fokus utama negara guna menyelamatkan sebanyak mungkin nyawa rakyat. Selain itu perekonomian rakyat yang secara langsung terdampak oleh pandemi, harus segera diselesaikan dan dicarikan jalan keluar oleh negara. Bertambahnya jumlah pengangguran secara drastis dan menurunnya daya beli masyarakat akibat pandemi misalnya akan semakin memperburuk kondisi perekonomian rakyat Indonesia. Dan bayang-bayang resesi di Indonesia pun tampaknya semakin tidak bisa dielakkan. Maka bukankah akan lebih baik jika negara lebih banyak menghabiskan waktu dan perhatiannya untuk menyelesaikan masalah pandemi ketimbang isu radikalisme? 

Sedangkan kita melihat dengan jelas bahwa isu radikalisme nyatanya hanya digunakan untuk memojokkan umat Islam dan ajaran Islam. Terlebih lagi sejak awal menjabat sebagai Menag, Fachrul Razi begitu vokal menyuarakan genderang perang terhadap radikalisme yang sejatinya adalah menyulut api kemarahan kaum muslimin saja. Bahkan rezim saat ini terlihat begitu panik dengan fenomena banyaknya kaum milenial yang justru berbondong-bondong mendalami Islam. 

Tak salah jika disebut rezim terjangkit islamophobia, sehingga kemudian berbagai cara pun dilakukan guna membendung kebangkitan Islam, salah satunya dengan menyandingkan kata "goodlooking" dan "radikal". Padahal upaya meredupkan cahaya Islam tidak akan pernah bisa meraih keberhasilan sebagaimana janji Allah Swt, "Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahayaNya, walau orang-orang kafir membencinya" (QS. Ash-Shaf: 8). 

Oleh karena itu, upaya para musuh Allah untuk menghentikan kebangkitan Islam adalah usaha yang sia-sia belaka. Mencegah bangkitnya Islam ibarat meludah ke arah matahari, akan berbalik mengotori wajah-wajah mereka sendiri. Kemenangan Islam tak akan pernah bisa dibendung sebagaimana firman Allah Swt, "Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima Tobat" (QS. An-Nashr: 13). (*)