Home Edukasi ISLAM AS THE WAY and THE PHILOSOPHY of LIFE

ISLAM AS THE WAY and THE PHILOSOPHY of LIFE

196
0
SHARE
ISLAM AS THE WAY and THE PHILOSOPHY of LIFE

Oleh: J. Faisal, M.Pd 
Pemerhati Pendidikan/Mahasiswa Doktoral Sekolah Pascasarjana UIKA Bogor

Islam 

Islam bukanlah agama produk pemikiran manusia atau produk pemikiran budaya. Islam juga bukanlah sebuah agama yang mengalami evolusi, yang selalu berkembang dari masa-masa. Islam adalah satu-satunya agama yang asli bersumber dari Tuhan semesta alam, Allah Subhannahu Wata’ala. Karena itulah Islam tidak akan pernah lekang oleh waktu, dan akan selalu sesuai dengan zaman kehidupan manusia.

Agama lain boleh jadi ‘menerbitkan’ kitab suci mereka berulangkali, karena dianggap tidak sesuai dengan zaman, oleh para penganutnya. Atau bisa saja membuat cabang  agama baru bagi para pemrotesnya. Tetapi Islam mempunyai sebuah kitab suci yang memang otoritasnya adalah kewahyuan yang bersumber langsung dari Allah SWT, sehingga akan selalu terjaga keotentikannya sampai hari kiamat. Islam juga mempunyai seorang uswah/contoh dari golongan manusia yang terpilih. Terpilih karena terjaga ahlaknya, kejujurannya, ketaatannya, dan kesabarannya yang memang dapat dijadikan panutan oleh manusia seluruh alam, yaitu Nabi besar Muhammad Rasulullah SAW. 

Keyakinan terhadap kenabian Rasulullah SAW adalah pintu masuk bagi manusia untuk dapat mengenal Allah SWT dengan benar. Karena itulah dapat dipahami mengapa Rasulullah SAW sangat gigih mengajak umat manusia untuk ber-Islam dan beriman kepada Allah SWT, dan mengakui kerasullannya. Rasulullah SAW sangat keras menolak kemusyrikan. Beliau juga sangat menolak kompromi atau tawar menawar dalam hal Tauhid dan Ubudiyah, seperti yang termaktub dalam surat Al Kafirun. Sebab, tugas utama Rasulullah SAW, dan semua nabi sebelumnya adalah menyeru kepada seluruh manusia tanpa terkecuali agar hanya menyembah kepada Allah SWT. Berdasarkan dua landasan ini, yaitu Al Qur’an dan contoh suri tauladan (As Sunnah) Rasulullah SAW, umat Islam wajib mengimani dan mentaatinya jika dia tidak ingin   dirinya disebut kafir atau keluar dari jalan Islam.

Islam dan Iman

Antara Islam dan iman tidak dapat dipisahkan satu sama lain.  Seseorang yang berIslam , yang sudah  bertauhid meng-esa-kan Allah wajib hukumnya untuk melaksanakan rukun-rukun ber-Islam, yaitu mengucapkan dua kalimat syahadat, mengerjakan sholat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, membayar zakat, dan berhaji.

Tetapi ber-Islam saja tidaklah cukup. Seorang muslim haruslah mebuktikan  keIslamannya dengan keimanan. Di sinilah ajang pembuktian apakah seorang muslim tersebut  memang benar-benar mau ber-Islam secara keseluruhan (kaffah) atau tidak. Iman memerlukan tiga cara dalam aplikasinya. Pertama, seseorang yang beriman haruslah mengakuinya di dalam hati. Ini wajib dilakukan agar orang tersebut mempunyai azzam atau niat yang kuat untuk menjadi seorang yang beriman. Rasulullah SAW bersabda bahwa segala sesuatu amal itu dinilai berdasarkan niatnya. Kedua, seseorang yang mengaku dirinya beriman haruslah melafadzkan dengan mulutnya atau mengatakan dengan sesunngguhnya bahwa dia memang adalah orang yang beriman. Ketiga, seorang yang mengaku dirinya beriman harus mengaplikasikan keimanannya ke dalam perbuatan, sikap, dan sifatnya ke dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan bisa menjadi contoh suri tauladan bagi masyarakat di sekitarnya. 

Seorang muslim bisa saja melakukan sebuah kesalahan atau dosa yang disengaja, tetapi dengan adanya iman di dalam dirinya, maka  kesalahan ataau dosa tersebut urung dia lakukan, ataupun jika memang dosa tersebut sudah terlanjur dilakukannya, maka dia segera menginsyafinya dan berjanji tidak akan melakukan hal tersebut lagi.   Seorang muslim bisa saja melakukan korupsi, berbohong, menipu, dan kejahatan lainnya yang memang dilarang oleh Allah SWT, tetapi jika dia beriman dan menyadari atau percaya akan adanya hari pembalasan, maka semua kejahatan tersebut pasti tidak akan dilakukannya. Di dalam keimanan yang kuat, seorang mukmin akan merasa bahwa dirinya selalu diperhatikan dan diawasi oleh Allah dan para malaikatNya (sikap Ikhsan). Sehinggga, tidak akan ada niat sedikitpun untuk melakukan segala sesuatu yang dilarang oleh Allah SWT meskipun ada kesempatannya untuk berbuat di situ. 

Islam adalah sebuah agama yang holistic. Islam tidak hanya mengatur jasad manusia saja, atau jiwa manusia saja. Seluruhnya telah diatur di dalam Islam. Bagaimana seseorang menjaga hubungannya dengan Allah (Habluminnallah), dan bagaimana seseorang menjaga hubungannya dengan sesama manusia  (Habulminannas), serta bagaimana manusia menjaga hubungannya dengan alampun telah jelas aturannya di dalam Islam melalui Al qur’an dan Assunnah. Inilah bukti kesempurnaan sebuah agama yang memang bersumber langsung dari Tuhan yang Maha Esa, Allah Subhannahu Wata’ala.

Inilah mengapa dikatakan bahwa Islam adalah sebuah agama yang berisikan ilmu, cara hidup, dan pandangan hidup.

Islam Sebagai Ilmu 

Allah SWT telah membekali manusia dengan akal yang sempurna, lebih sempurna dari semua makhluk ciptaanNya, bahkan malaikat sekalipun.  Apapun agama yang dianut oleh manusia, selama dirinya masih menjadi seorang manusia, maka dia akan dibekali akal yang sempurna pula oleh Allah SWT. Dengan akal inilah, maka manusia bisa memperoleh ilmu dan menjadi berkembang dan dapat mengalami kemajuan dalam kehidupannya.

Islam adalah agama yang berisikan ilmu, baik ilmu yang bersumber dari wahyu Allah SWT, yaitu Al Qur’an, yang kemudian disebut ilmu Kauliyyah. Dan yang kedua adalah ilmu yang bersumber dari alam yang Allah SWT bentangkan di dunia ini, yang kemudian disebut ilmu Kauniyyah.

Umat Islam sangat diwajibkan untuk mencari ilmu sebanyak-banyaknya, dan juga mengamalkannya dengan seikhlas-ikhlasnya. Ilmu yang bagaimanakah yang wajib dicari dan diamalkan oleh umat Islam? Pastinya ilmu yang bermanfaat. Raslullah SAW bersabda, ‘Tuntutlah ilmu dari buaian sampai ke liang lahat’ (Al Hadits). Dari hadits ini jelaslah bahwa menuntut ilmu bukanlah sebuah kewajiban  yang sesaat. Ini adalah sebuah kewajiban yang harus dilakukan seumur hidup. Dan dengan demikian, ketika umat Islam tidak lagi ada keinginan untuk mencari ilmu semasa dia hidup, maka sesungguhnya dia telah mati.

Sedangkan tingkatan ilmu berdasarkan hukumnya terbagi dua tingkatan, yaitu:  Pertama, fardhu `ain (menjadi kewajiban setiap orang). Ilmu syar`i yang wajib diketahui dan dipelajari semua orang adalah ilmu syar`i yang menjadi syarat seseorang untuk bisa memahami aqidah pokok dengan benar dan tata cara ibadah yang hendak dikerjakan. Termasuk juga ilmu tentang praktek mu`amalah yang hendak dia lakukan.

Kedua, fardhu kifayah. Tingkatan yang kedua adalah ilmu syar`i yang harus dipelajari oleh sebagian kaum muslimin dengan jumlah tertentu, sehingga memenuhi kebutuhan untuk disebarkan kepada umat. Dalam kondisi ini, jika sudah ada sebagian kaum muslimin dengan jumlah yang dianggap cukup, yang melaksanakannya maka kaum muslimin yang lain tidak diwajibkan.

Bagi mereka yang ingin mengkhususkan diri mempelajari ilmu syar`i lebih mendalam, hendaknya dia meniatkan diri untuk melaksanakan tugas fardhu kifayah dalam bentuk mencari ilmu. Agar dia mendapatkan tambahan pahala mengamalkan amalan fardhu kifayah, disamping dia juga mendapatkan ilmu.

Jika demikian, maka pertanyaan yang muncul adalah mengapa ilmu yang dipentingkan dalam Islam. Mengapa tidak jabatan, harta, kedudukan, hiburan, wanita, atau kesenangan lainnya? Karena tidak ada satu peradaban yang bangkit tanpa didahului oleh tradisi ilmu. Dan tidak terkecuali peradaban Islam. Sebaliknya, jika sebuah kumpulan masyarakatnya hanya mementingkan harta, kedudukan, jabatan, hiburan, dan wanita, maka dapat dipastikan masyarakat tersebut akan sangat jauh dari peradaban yang luhur, dan terjatuh ke dalam peradaban yang bodoh dan nista.  

Rasulullah SAW telah memberikan teladan yang luar biasa dalam hal keilmuan ini. Di tengah kebodohan bangsa Arab yang berada di tengah gurun pasir yang panas, Rasulullah SAW berhasil mewujudkan peradaban sebuah masyarakat yang sangat tinggi tradisi keilmuannya. Itulah mengapa sebabnya para sahabat Rasulullah SAW yang tadinya adalah orang-orang jahiliyah yang diliputi kebodohan, menjadi orang-orang yang sangat gila ilmu. Hal ini terbukti dari majunya peradaban Islam sampai beberapa ratus tahun setelah Rasulullah SAW wafat hampir di seluruh bagian dunia ini.

Tradisi ilmu yang didorong oleh kandungan yang ada di dalam Al Qur’an telah berhasil mengubah para sahabat Rasulullah SAW menjadi manusia-manusia yang cerdas dan berahlak mulia; mengubah generasi-generasi Arab Jahiliyah yang tidak diperhitungkan dalam pergolakan dunia, menjadi pemimpin-pemimpin kelas dunia yang disegani kawan maupun lawan pada saat itu.

Untuk memahami segala sesuatunya tentu harus dengan ilmu. Dengan ilmu yang benar, maka amal yang kita lakukan juga menjadi benar. Amal yang benar adalah amal yang sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya, juga sesuai dengan tuntunan para ulama. Dan itulah amalan yang diterima, yang akan mendapatkan pahala dari Allah SWT. Sehingga,  untuk menjadi muslim dan mukmin yang sejati tentunya harus berilmu. 

Ibnul Munayir pernah berkata bahwa posisi ilmu dalam amal adalah sebagai pengendali niat. Karena seseorang baru bisa berniat untuk beramal dengan niat yang benar, jika dia memahami (baca: mengilmui) tujuan dia beramal. Hal ini sebagaimana penjelasan yang disampaikan oleh Ibnu Batthal, dengan mengutip keterangan al-Muhallab, yang mengatakan: 

Amal itu tidak mungkin diterima kecuali yang didahului dengan tujuan untuk Allah. Inti dari tujuan ini adalah memahami (mengilmui) tentang pahala yang Allah SWT janjikan, serta memahami tata cara ikhlas kepada Allah SWT dalam beramal. Dalam keadaan semacam ini, bolehlah amal tersebut diharapkan bisa memberikan manfaat, karena telah didahului dengan ilmu. Sebaliknya, ketika amal itu tidak diiringi dengan niat, tidak mengharapkan pahala, dan kosong dari ikhlas karena Allah maka hakekatnya bukanlah amal, namun ini seperti perbuatan orang gila, yang tidak dicatat amalnya.(Syarh Shahih Bukhari karya Ibnu Batthal, Syamilah, 1/145). 

Lebih dari itu, setiap orang yang hendak beramal, dia dituntut untuk memahami amal yang akan dia kerjakan. Agar tidak terjerumus dalam kesalahan dan menyebabkan amalnya tidak diterima. Inilah yang membedakan umat Islam, Nasrani, dan Yahudi dalam memahami ilmu. 

Ketiga jenis manusia ini Allah sebutkan dalam al-Qur’an, di surat al-Fatihah, ayat 5 sampai dengan 7. Allah berfirman:

???????? ?????????? ?????????????? (5) ??????? ????????? ?????????? ?????????? (6) ?????? ???????????? ?????????? ????? ???????????? (7)

“Berilah kami petunjuk ke jalan yang lurus {} yaitu jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat {} Bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan bukan jalan orang-orang yang sesat.”

Pada ayat di atas, Allah membagi manusia terkait dengan hidayah ilmu menjadi tiga golongan: 

Pertama, golongan orang yang mendapat nikmat. Merekalah golongan yang mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat dalam beragama. 

Kedua, golongan orang-orang yang dimurkai. Merekalah orang-orang Yahudi 

Ketiga, golongan orang-orang yang sesat, yaitu orang-orang Nasrani. 

Syaikhul Islam menjelaskan sebab kedua umat yahudi dan nasrani dimurkai dan disesatkan  (dikafirkan) oleh Allah SWT: 

Kesimpulannya, bahwa kekafiran orang yahudi pada asalnya disebabkan mereka tidak mengamalkan ilmu mereka. Mereka memahami kebenaran, namun mereka tidak mengikuti kebenaran tersebut dengan amal atau ucapan. Sedangkan kekafiran nasrani disebabkan amal perbuatan mereka yang tidak didasari ilmu. Mereka rajin dalam melaksanakan berbagai macam ibadah, tanpa adanya syariat dari Allah… karena itu, sebagian ulama, seperti Sufyan bin Uyainah dan yang lainnya mengatakan: “Jika ada golongan ulama yang sesat, itu karena dalam dirinya ada kemiripan dengan orang yahudi. Sedangkan golongan ahli ibadah yang rusak karena dalam dirinya ada kemiripan dengan orang nasrani” (Iqtidha’ Shirathal Mustaqim, Ahmad bin Abdul Halim al-Harrani, dengan Tahqiq Dr. Nashir al-`Aql, Kementrian Wakaf dan Urusan Islam KSA, 1419 H, jilid 1, hal. 79 ). 

Penjelasan di atas memberikan pemahaman bahwa titik perbedaan antara umat Islam dengan kaum Yahudi dan Nasrani adalah terkait masalah ilmu dan amal. Umat Islam menduduki posisi pertengahan, dengan menggabungkan antara ilmu dan amal, dan inilah yang insyaAllah akan mendatangkan ridha Allah SWT. 

 Islam Sebagai Pandangan dan Panduan Hidup 

Pernahkah kita mendengar ungkapan-ungkapan saudara semuslim dan seiman kita, yang mengatakan bahwa untuk melakukan kegiatan ekonomi atau politik sebaiknya tidak usah membawa-bawa agama. Ekonomi dan politik adalah kegiatan duniawi, sementara agama adalah urusan akhirat. Dan banyak juga masyarakat yang mengatakan ” janganlah terlalu fanatik dengan agama (baca: Islam), Indonesia kan Negara yang majemuk, jadi kita harus penuh toleransi, lah…”, atau juga mereka yang sering berkata bahwa semua agama adalah sama, Tuhannya sama, hanya cara menyembahnya saja yang berbeda… 
 

Pernah juga ada seorang cendekiawan muslim tanah air yang hidup di era tahun 70an sampai dengan tahun 2000an, yang kini sudah almarhum. Beliau mengatakan bahwa beliau mempunyai hati yang berkiblat ke Mekah, tetapi otak yang berpihak ke Amerika. Kemudian, saya sebagai orang awam berfikir, apakah bisa antara hati dan otak seorang manusia menjadi tidak sinkron? Apakah dengan semakin banyaknya ilmu yang kita miliki, membuat hati dan otak menjadi semakin berbeda cara pandangnya? 

Benarkah demikian? 

Jika kita mengaku diri kita sebagai seorang yang memeluk agama Islam, artinya secara sadar kita telah memilih Islam sebagai pandangan dan ajaran atau panduan  hidup kita. Maka wajiblah bagi kita untuk melaksanakan semua kewajiban yang ada di dalam Islam. Artinya kita harus semakin dapat  memahami bahwa Islam adalah bukan hanya sekedar agama. Islam harus dijadikan sebagai carapandang dan gaya hidup (The Style of Life ) seorang muslim. Tidak ada perbedaan pandangaan antaara hati dan otak. Keduanya harus menyatu, yaitu terisi dengan Islam. Inilah yang diartikan dengan pelaksanaan Islam secara kaffah. Artinya juga tidak ada pemisahan antara kegiatan hidup keseharian kita dengan Islam kita. Dengan kata lain, tidak ada sekulerisasi atau pemisahan ajaran Islam dengan dengan kegiatan hidup kita dalam segala aspeknya, misalnya baik itu dalam bidang politik, ekonomi, pendidikan, dan lainnya. 

Semuanya harus sejalan beriringan dalam konteks keIslaman. Allah SWT telah mengatur segala cara manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya di dunia melalui Al Qur’an  dan Sunnah-sunnah Rasulullah SAW. 

 

Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas mengatakan bahwa Islam memiliki pandangan hidup yang berbeda dengan agama atau peradaban lainnya. Al-Attas menjelaskan sebuah sejumlah karakteristik pandangan hidup Islam, antara lain: (1) Berdasarkan kepada wahyu, (2) Tidak semata-mata merupakan pikiran manusia mengenai alam fisik, dan keterlibatan manusia dalam sejarah, social, politik, dan budaya, (3) Tidak bersumber dari spekulasi filosofis yang dirumuskan berdasarkan pengamatan dan pengalaman inderawi, (4) Mencakup pandangan tentang dunia dan akhirat. 

Pakar pemikiran Islam tanah air, Dr. Adian Husaini, menilai bahwa pandangan Islam al-Attas ini adalah visi mengenai realitas dan kebenaran (The Vision of Reality and Truth), atau pandangan Islam mengenai eksistensi (Ru’yat al-Islam lil Wujud). Al-Attas menegaskan, bahwa pandangan hidup Islam bersifat final, dan telah dewasa sejak lahir. Islam tidak memerlukan proses ‘pertumbuhan’ menuju kedewasaan yang mengikuti proses perkembangan sejarah. Jadi, karakteristik pandangan hidup Islam adalah sifatnya yang final dan otentik sejak awal. Ini sangat berbeda dengan sifat agama-agama lainnya, maupun kebudayaan atau peradaban umat manusia yang selalu berkembang mengikuti dinamika sejarah.

Wallahu’alam bissowab