Home Agama Imam Al-Ghazali Ulama Jenius dari Persia

Imam Al-Ghazali Ulama Jenius dari Persia

254
0
SHARE
Imam Al-Ghazali Ulama Jenius dari Persia

Oleh : Arizqi Ihsan Pratama, Mahasiswa Program Doktor Pendidikan Islam Sekolah Pas?asarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor. Dosen Tetap Sekolah Tinggi Agama Islam Darunnajah Bogor.

Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad ibn Muhammad bin Ahmad al-Ghazali al-Tusi, lahir di Tabiran, Tus pada tahun 450 H/ 1058 M. Ia dijuluki Abu Hamid karena mempunyai putera bernama Hamid yang meninggal sewaktu masih kecil. Tidak diketahui banyak tentang keluarga al-Ghazali. ‘Abd al-Gafir hanya menyebut nama ayah, Muhammad dan nama kakek, Muhammad. Ibn Khalikan menambah nama datuk, Ahmad. Subki dan Murtada lah yang memberi informasi lebih banyak, yaitu bahwa ayah al-Ghazali, Muhammad, adalah seorang penenun bulu domba dan  menjualnya di pasar di Tus. Ayahnya wafat ketika al-Ghazali berusia 6 tahun. Tetapi ibunya sempat menyaksikan ketika al-Ghazali mulai melasat dan namanya mulai populer di mata orang banyak.

Menjelang wafat, ayah al-Ghazali mewasiatkan dia dan saudaranya, Ahmad, kepada seorang kawan yang penganut tasawuf dari kalangan orang baik-baik, untuk mendidik keduanya dengan biaya dari harta peninggalannya. Bapak asuh pun melaksanakan tugasnya dengan baik sampai harta waris itu habis. Karena ia miskin dan tak mampu lagi memikul biaya hidup kedua anak itu, maka keduanya terpaksa masuk madrasah. Didikan dan situasi keluarga sendiri dan keluarga bapak asuh tempat al-Ghazali belajar baca-tulis dan mendapat didikan nilai-niali tasawuf, merupakan didikan dasar yang pertama kali membentuk jiwa al-Ghazali. Kemudian al-Ghazali mempelajari fiqh pada Ahmad ibn Muhammad al-Razakani, di samping ilmu-ilmu lain seperti nahwu dan saraf, yaitu di madrasah Nizamiyyah. al-Ghazali masuk madrasah dalam usia 10 tahun. Di sini al-Ghazali sudah mulai merasakan kecintaannya yang besar kepada ilmu. Sebab menurut pengakuannya sendiri ia adalah seorang yang genius dan kritis sejak kecil, sehingga ingin melanjutkan studi ke tingkat yang lebih luas.

Menurut Zahabi dan Subki, yang banyak dikutip para penulis sesudahnya, dari Tus al-Ghazali meneruskan studinya ke Jurjan pada Imam Abu Nasr al-Isma’ili. al-Ghazali belajar di sini kurang lebih 5 tahun. Kemudian ia, bersama sekelompok pemuda dari Tus, melanjutkan studinya di Nesapur pada Imam al-Haramain. Fase yang berlangsung 5 tahun sejak 437 H, sampai wafatnya Imam al-Haramain, tahun 478 H ini, merupakan fase yang sangat penting dalam perkembangan intelektual al-Ghazali. Dengan kecerdasan dan daya analisis kritis yang luar biasa dan daya hafal yang kuat, di sini ia memperlihatkan  aktivitas  studi  yang serius dan prestasi  yang mengagumkan. Imam al-Haramain pun menjuluki al-Ghazali dengan “Bahrun Mughriq”, mengangkatnya menjadi asisten Guru Besar dalam memberi kuliah dan bimbingan kepada para mahasiswa, yang jumlah seluruhnya di Nizamiyyah Nesapur itu 400 orang. Di sini al-Ghazali sudah mampu berijtihad dan mengarang kitab serta menjadi rujukan orang sehingga popularitasnya melejit.

Imam al-Haramain, yakni Abu al-Ma’ali ‘Abd al-Malik al-Juwaini (419-478 H), adalah tokoh keempat mazhab teologi Asy’ariyah sesudah al-Asy’ari (260-324 H), al-Baqillani (w. 403 H) dan Abu Hamid Muhammad al-Isfarayaini (w. 408), dan tokoh mazhab fiqh Syafi’iyah. Pengalaman dan tradisi intelektual bersama al-Juwaini ini lah yang paling berkenan di hati Imam al-Ghazali.

Sepeninggal Imam al-Haramain, Imam al-Ghazali meninggalkan Nesapur menuju Wazir Nizam al-Mulk di Mu’askar, sebuah kota yang indah, yang menjadi tempat tinggal para pembesar Saljuk yang dikelilingi para tokoh ulama, politisi dan pujangga terkemuka. Ia mendapat sambutan luar biasa dari Wazir, apalagi sesudah terbukti keunggulannya dalam diskusi-diskusi dan perdebatan-perdebatan ilmiah rutin di istana Wazir yang dihadiri para tokoh ulama, politisi dan pujangga, sehingga popularitas Imam al-Ghazali semakin memun?ak dan menjadi buah bibir di mana-mana. Di sini Imam al-Ghazali tinggal bersama isteri dan ketiga puterinya selam kurang lebih 6 tahun sejak wafatnya Imam al-Haramain sampai ketika pindah ke Bagdad dengan tiga kegiatan pokok: debat dan diskusi-diskusi ilmiah, berfikir dan merenung dalam keadaan skeptik dan mengkaji serta mengarang kitab mengenai ilmu kalam.

Kemudian Nizam al-Mulk mengangkat Imam al-Ghazali menjadi Guru Besar sekaligus Rektor Nizamiyyah Bagdad dalam usia 34 tahun. Ketika memasuki Bagdad, ia mendapat penghormatan yang luar biasa yang menyerupai kultus. Fase yang berlangsung selama 4,5 tahun ini, diisinya dengan tiga kegiatan pokok sesuai jabatan formalnya, yaitu mengajar, meneliti dan menulis karya ilmiah, dengan melakukan pembaharuan dalam Islam, dan mengabdi pada masyarakat, termasuk mengelurkan fatwa-fatwa secara umum dan memberikan advis-advis politik kepada pemerintah. Di sini Imam al-Ghazali meraih sukses gemilang, baik sebagai guru besar maupun sebagai konsultan hukum. Ia banyak dikunjungi orang untuk ditimba ilmunya, dan mereka mengagumi kuliah dan dialog-dialognya yang tiada tandingannya, sehingga ia menjadi bukan saja Imam Iraq sesudah Imam Khurasan, tapi juga Hujjatul Islam yang reputasi dan kharismanya mengalahkan para gubernur, para menteri dan istana Khilafat sendiri.

Studi kritis terhadap ilmu Kalam sudah selesai di Mu’askar. Kemudian setelah selesai dari ilmu Kalam, Imam al-Ghazali mulai mengkaji filsafat. Stelah meneliti filsafat, Imam al-Ghazali tampil mendudukkan persoalan secara proporsional, yaitu: mendeskripsikan realitas problem-problem filsafat dan konsep-konsep pemecahan yang diajukan sebagian filosof, dengan kitab Maqasid al-Falasifah, kemudian melakukan falsifikasi terhadap sebagian konsep mereka dengan kitab Tahafut al-Falasifah, berdasarkan kriteria yang dipakai bersama dengan kitab Mi’yar al-‘Ilm. Di saat-saat inilah ia mendapat gelar monumental, Hujjatul Islam.

Kemudian Imam al-Ghazali mengalihkan perhatiannya kepada Ta’limiyah, baik karena motif internal/ ilmiah, yang pokok, untuk menemukan ilmu yaqini, maupun karena motif eksternal/ politis, yaitu mendapat tugas dari Khalifah untuk menyusun  buku  yang memaparkan  kepada  publik hakekat mazhab mereka. Hasil penelitiannya dituangkan dalam beberapa kitab, antara lain Fada’ih al-Batiniyyah wa Fada’il al-Mustazhiriyyah yang mencerminkan kedua motif tersebut. Prestasi gemilang dalam melikwidasi pemikiran kaum Batini ini memperkokoh gelar Hujjatul Islam.

Imam al-Ghazali wafat pada hari Senin, 14 Jamada al-Akhirah 505 H/ 18 Desember 1111 M, dimakamkan di Tabaran, Tus, dan kuburannya banyak diziarahi orang. Menurut laporan adiknya (Ahmad al-Ghazali), Imam al-Ghazali wafat sesudah berwudu, salat subuh, kemudian minta diambilkan kain kafan lalu mengambil dan menciumnya serta menutupkannya kepada kedua matanya dan berkata : “Sam’an wa ta’atan li al-dukhul ‘ala al-malak” (aku rela dan patuh, silahkan masuk wahai malaikat). Kemudian ia menelentangkan kakinya dan menghadap qiblat, sehingga wafat sebelum matahari terbit. Tapi sebelum wafat seseorang sempat meminta nasihat kepadanya. Ia menjawab “Engkau harus ikhlas”, dan terus mengulanginya sampai wafat. Komentar-komentar orang terhadap Imam al-Ghazali, berupa pujian sampai ke tingkat kultus, terlalu banyak untuk disebutkan, baik dari zaman klasik maupun dari zaman modern.

Banyak sumber sekunder, selain sumber primer sendiri, yang menyebut kitab-kitab Imam al-Ghazali. Sumber-sumber Arab sebelum Badawi umumnya tidak mempersoalkan otentisitas dan kronologi, dan tidak usah diartikan membatasi jumlah.  Badawi  menuturkan   sejarah  singkat penelitian karya tulis Imam al-Ghazali di Barat. Ia dimulai sejak pertengahan abad ke-19 M oleh Gosche (Berlin, 1858), disusul oleh Macdonald (dalam JAOS, 1899), dan Goldziher (Aljazair, 1903 dan Leiden, 1916). Penelitian kronologi pertama kali oleh Massignon (Paris, 1929), sedang otentisitasnya oleh M.A. Palacios, kemudian oleh Watt berdasarkan kriteria tertentu (1952), yang diikuti G.F. Hourani (1959). Pada tahun yang sama muncul karya Maurice Bouyges yang disempurnakan oleh Michel Allard. Inilah kitab terlengkap dan paling terpercaya dari kalangan orientalis, baik dari segi penghitungan jumlah maupun segi kronologi dan otentisitas, sekalipun kualitasnya di bawah derajat karya Badawi dari  kalangan  muslim yang datang sesudahnya.

Karya Badawi berbeda dengan semua karya sebelumnya dari empat segi. (1) Ia menunjukkan sejumlah manuskrip setiap kitab, baik yang otentik maupun yang palsu, berikut tempat keberadaan dan keadaan menuskrip tersebut. Ia merupakan kitab pertama yang menghimpun manuskrip kitab-kitab Imam al-Ghazali; (2) ia melaporkan kitab-kitab yang sudah dicetak berikut tempat dan tahun penerbitan; (3) melaporkan semua kitab yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa lain, berikut studi otentisitas dan isinya dalam bahasa-bahasa selain Arab; (4) menunjukkan sumber-sumber baik primer maupun sekunder yang menunjukkan setiap kitab; (5) menyusun kronologi berdasarkan penunjukan kitab Imam al-Ghazali yang satu terhadap yang lain, kemudian sumber-sumber yang membicarakan boigrafi Imam al-Ghazali khususnya al-Munqi?; dan (6) melampirkan 19 appendix berupa cuplikan-cuplikan sumber mengenai karya tulis Imam al-Ghazali.

Berikut Kitab-kitab yang dipastikan otentisitasnya: (1) Al-Ta’liqat fi Furu’ al-Mazhab; (2)  Al-Mankhul fi al-Usul; (3)  Al-Basit fi al-Furu’, (4) Al-Wasit; (5) Al-Wajiz; (6) Khulasat al-Mukhtasar wa Naqawat al-Mu’tasar; (7)  Al-Muntakhal fi ‘Ilm al-Jidal; (8) Ma’akhiz al-Khilaf; (9) Lubab al-Nazr; (10) Tahsin al-Ma’akhiz (fi ‘Ilm al-Khilaf); (11) Kitab al-Mabadi wa al-Ghayat; (12) Kitab Syifa’ al-Galil fi al-Qiyas wa al-Ta’lil; (13) Fatawa al-Gazali; (14) Fatwa; (15) Gayat al-Gaur fi Dirayat al-Daur; (16) Maqasid al-Falasifah; (17)  Tahafut al-Falasifah; (18) Mi’yar al-‘Ilm fi Fann al-Mantiq; (19) Mi’yar al-‘Uqul; (20) Mahk al-Nazr fi al-Mantiq; (21) Mizan al-‘Amal; (22) Kitab al-Mustazhiri fi al-Radd ‘ala al-Batiniyyah; (23) Kitab Hujjat al-Haqq; (24)  Qawasim al-Batiniyyah; (25) Al-Iqtisad fi al-I’tiqad; (26) Al-Risalah al-Qudsiyyah fi Qawa’id al-‘Aqa’id; (27) Al-Ma’arif al-‘Aqliyyah wa Lubab al-Hikmah al-Ilahiyyah; (28) Ihya’ ‘Ulum al-Din; (29) Kitab fi Mas’alat Kulli Mujtahid Musib; (30) Jawab al-Gazali ‘an Da’wat Mu’ayyid al-Mulk lahu li Mu’awadat al-Tadris bi al-Nizamiyyah fi Bagdad; (31)  Jawab Mafsal al-Khilaf; (32) Jawab al-Masa’il al-Arba’ allati Sa’alaha al-Batiniyyah bi Hamdan min al-Syaikh al-Ajall Abi Hamid Muhammad ibn Muhammad al-Gazali; (33) Al-Maqsad al-Asna Syarh Asma’ Allah al-Husna; (34) Risalat fi Ruju’ Asma’ Allah ila Zat Wahidah ‘ala Ra’yi al-Mu’tazilah wa al-Falasifah; (35)  Bidayat al-Hidayah; (36) Kitab al-Wajiz fi al-Fiqh; (37) Jawahir al-Qur’an; (38) Kitab al-Arba’in fi Usul al-Din; (39) Kitab al-Madnun bihi ‘ala Gairi Ahlihi; (40) Al-Madnun bihi ‘ala Ahlihi; (41) Kitab al-Durj al-Marqum bi al-Jadawil; (42)  Al-Qistas al-Mustaqim; (43) Faisal al-Tafriqah bain al-Islam wa al-Zandaqah; (44) Al-Qanun al-Kulli fi al-Ta’wil; (45) Kimiyay Sa’adat (dalam bahasa Persi); (46) Ayyuha al-Walad; (47) Nasihat al-Muluk; (48) Zad Akhirat (dalam bahasa Persi); (49) Risalat ila Abi al-Fath Ahmad ibn Salamah al-Dimami bi al-Mausil; (50) Al-Risalat al-Laduniyyah; (51) Risalat ila Ba’di Ahli ‘Asrih; (52) Misykat al-Anwar; (53) Tafsir Yaqut al-Ta’wil; (54) Al-Kasyf wa al-Tabyin fi Gurur al-Khalq Ajma’in; (55) Talbis Iblis; (56) Al-Munqiz min al-Dalal wa al-Mufsih ‘an al-Ahwal; (57) Kutub fi al-Sihr wa al-Khawas wa al-Kimiya’; (58) Gaur al-Daur fi al-Mas’alat al-Suraijiyyah; (59) Tahzib al-Usul; (60) Kitab Haqiqat al-Qaulain; (61) Kitab Asas al-Qiyas; (62) Kitab Haqiqat al-Qur’an; (63) Al-Mustasfa min ‘Ilm al-Usul; (64) Al-Imla’ ‘ala Musykil al-Ihya’ (65) Al-Istidraj; (66) Al-Durrah al-Fakhirah fi Kasyf ‘Ulum al-Akhirah; (67) Sirr al-‘Alamain wa Kasyf Ma fi al-Darain; (68) Asrar Mu’amalat al-Din; (69) Jawab Masa’il Su’ila ‘anha fi Nusus Asykalat ‘ala al-Sa’il; (70) Risalat al-Aqtab; (71) Iljam al-‘Awam ‘an ‘Ilm al-Kalam; (72)  Minhaj al-‘Abidin.

Demikian sejarah singkat Imam al-Ghazali sebagai Ulama yang jenius di zamannya, tokoh terkemuka yang memiliki pengaruh dan pemikiran yang telah menyebar ke seantero dunia Islam. Semoga tulisan ini dapat menambah khazanah keilmuan Islam (intellectual treasure) sehingga kita dapat mengambil hikmah dan pelajaran dan menjadi inspirasi dan motivasi bagi kita semua untuk terus belajar, mengembangkan dan mengamalkan Ilmunya. 

Wallahu ta’ala a’lam

Sumber Ba?aan: 
Badaw?, ‘Abd al-Rahm?n, Mu’allaf?t al-Gaz?l?, Kwait, Wal?kat al-Ma?b?’at, cet. III. 1977. 
Brockelmann, Carl, Geschichte der arabischen Literatur, Leiden, E.J. Brill. 1937. 
Fawqiyyah Husayn Mahm?d, al-Juwayn? Im?m al-Haramayn, Mesir, al-Mu’assasah al-Mi?yriyyah al-‘?mmah. 1965. 
Al-Gaz?l?, Hujjat al-Isl?m, Ab? H?mid, Muhammad ibn Muhammad, Fad?’ih al-B??iniyyah, ed. N?d? Farj Darw?sy, Kairo, al-Maktab al-Saq?f?. t.t. 

                       , Maq??id al-Fal?sifah, ed. Sulaym?n Duny?, Mesir, D?r al-Ma’?rif cet. II. t.t. 

                       , al-Munqi? min al-Dal?l, ed. Ahmad Gal?sy, Mesir, Maktabah wa Ma?ba’ah Muhammad Al? ?ab?h wa Awl?duh, cet. II. 1952. 

                       , Tah?fut al-Fal?sifah, ed. Sulaym?n Duny?, Mesir, D?r al-Ma’?rif, cet. IV. t.t. 

Ibn Kh?lik?n, Ab? al-‘Abb?s, Ahmad ibn Muhammad, Wafay?t al-A’y?n wa Anb?’u Abn?’i al-Zam?n, Bayrut, D?r al-?aq?fah, jld. IV. t.t. 

Lewis, B., et al, ed. The Encyclopaedia of Islam, Leiden, E.J. Brill, vol. II. 1965.

Macdonald, Duncan B., M.A., B.D.“Al-Gaz?l?”, dalam Development of Muslim Theology, Jurisprudence and Constitutional Theory, New York, Charles Scibner’s Sons. 1899.

Marmura, Michael E. Al-Ghazali, The Incoherence of the Philosophers, Universitas Brigham Young Press: Utah. 2000.

Mufatteh, Muhammad. Peran Ilmuwan Islam Dalam Kemajuan Ilmu Pengetahuan, Teheran: Yayasan Pemikiran Islam, 1408.

Gearon Eamon. Turning Points in Middle Eastern History, Virginia: The Great Courses. 2016.

Mahraj?n al-Gaz?l? f? Dimasyq, ed. Ab? H?mid al-Gaz?l? f? al-?ikr? al-M?’awiyyah al-T?si’ah li M?l?dih, Damaskus, al-Majlis al-A’l? li Ri’?yat al-Fun?n wa al-Adab wa al-‘Ul?m al-Ijtim?’iyyah. 1961.

Murtad?, al-Sayyid Muhammad al-Husayn? al-Zubayd?, Ithaf al-Sadat al-Muttaq?n bi Syarh Ihy?’ ‘Ul?m al-D?n, Bayrut, D?r al-Fikr, jld. I-X. t.t.

Al-Subk?, T?j al-D?n, Tabaq?t al-Sy?fi’iyyah al-Kubr?, Mesir, ‘?s? al-B?b? al-Halab? wa Syurak?’uh. 1968 M.

Watt, W. Montgomery, Muslim Intellectual: A Study of al-Ghazali, Edinburgh, The Edinburgh University Press. 1963

Al-?ahab?, Muhammad ibn Ahmad. Siyar A’l?m al-Nubal?’, Bayrut, Mu’assasah al-Ris?lah, jld. XIX. 1994 M.