Home Agama Hadiah Terindah

Hadiah Terindah

#Advetorial

72
0
SHARE
Hadiah Terindah

"Yud, badanku rasanya ndak karuan. Tadi pagi gak sholat subuh Le, mau wudhu kalau kena air badan menggigil." Aku menarik nafas panjang membayangkan wajah keriput wanita sepuh di seberang sana yang berbicara dengan suara serak.

"Pripun Bu? Sudah periksa ke dokter? Kalau tidak bisa wudhu kan ibu bisa tayamum?"

"Ini lagi nunggu Lik Sam, mau diantar ke Puskesmas, "

"Tayamum ki apa Le?" Aku cuma bisa menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal. Menjelaskan tayamum lewat handphone kepada perempuan yang tigapuluh tahun lalu melahirkanku jelas bukan perkara mudah mengingat usianya mendekati enampuluh lima tahun.

Sepanjang hari pikiranku tidak bisa lepas dari memikirkan ibu, aku anak bungsu dari lima bersaudara. Satu-satunya anak lelaki, jadi tidak heran kalau aku sangat dekat dengan ibu,  dibanding keempat kakakku.

Semangat ibu menjalani Islam, agama yang tertera di KTPnya seiring dengan semangatku mengenal Islam secara lebih mendalam sewaktu aku mulai menuntut ilmu di kampus negri ternama di Bandung.

Iya, keluargaku, keluarga besarku memang memeluk Islam sejak dari jaman kakek nenek. Islam yang sebatas status di KTP. Pelajaran Pendidikan Agama Islam yang kudapat di sekolah sekedar membuatku tahu tempat ibadah orang Islam itu di masjid, kitab sucinya al Quran, nabinya Muhammad dan satu-satunya tuhan adalah Allah. Sholat bagi kami hanya sebagai pelengkap, saat hari Jumat, saat Lebaran, saat orang-orang sekampung rame ke masjid di bulan puasa. Bukan sesuatu yang wajib, yang harus dilakukan.

Demikian pula dengan lingkunganku, sebuah desa di lereng gunung Sumbing, masyarakatnya tidak terlalu memperhatikan pendidikan agama anak-anaknya, yang penting kami baik, berbuat baik kepada orang lain dan berusaha untuk tidak merugikan orang lain.

Kehidupan di kampus, terutama dilingkungan kost membuka mataku, menyadarkan bahwa beragama itu bukan sekedar status tetapi membawa konsekuensi terhadap pemeluknya. Konsekuensi untuk menjalankan seluruh ajaran dan nilai-nilainya dengan sungguh-sungguh.

Aku kost di sekitar pesantren ternama, dengan pimpinan pesantren seorang ulama yang sangat terkenal di negri ini di kawasan Geger Kalong, Bandung. Awalnya teman kostku sering mengajak sholat Jumat ke masjid di pesantren tersebut, lama-lama aku tertarik mengikuti setiap acara kajian yang diadakan di pesantren itu.

Semangat itu kutularkan kepada keluargaku saat ada kesempatan liburan pulang ke kampung. Hingga sekarang aku sudah lulus dan mendapat pekerjaan di kota yang sama. 

Tentu saja waktu bertemu yang hanya setahun dua kali sangat jauh dari cukup untuk membuat mereka memahami tuntunan Islam, bersyukur kakak-kakakku mendapatkan suami yang kefahaman agamanya lebih baik dari kami, hanya saja mereka merantau mengikuti suami mereka masing-masing. Tinggal ibu sendirian di rumah setelah bapak meninggal sebulan sesudah aku wisuda.

Yang kupikirkan hanyalah, agar ibu di masa tuanya bisa lebih memahami aturan agama ini, melaksanakan semua syariatNya semampu yang beliau bisa. Menjemput husnul khotimah di sisa usianya. Tapi bagaimana caranya? Siapa yang akan menuntunnya? Tak terasa mataku memanas, mengingat semua kebaikan dan pengorbanan ibu kepada kami anak-anaknya.

Malamnya, kudiskusikan hal ini kepada istriku. Sebenarnya dia merasa senang kalau ibu mau tinggal bersama kami, banyak majelis talim yang bisa ibu ikuti di masjid sekitar tempat kami tinggal. Tapi aku yakin ibu akan tetap teguh pada pendiriannya, untuk tinggal di tanah kelahirannya bersama karib kerabat kami.

"Bagaimana kalau ibu masuk pondok pesantren saja Pah?" Dahiku berkerut mendengar usul istriku. 

" Yang benar saja Mah, orangtua disuruh masuk pondok, bisa apa? Yang ada kecapekan tidak bisa mengikuti kegiatan pondok yang padat aktivitasnya!" Ada-ada saja memang istriku itu.

"Lho Pah, ini pondok pesantren khusus lansia, bulan  kemarin bapaknya bu RT masuk ke sana. Bu RT yang cerita,"

"Ha?! Emang ada?"

"Ada Pah kata bu RT, bapaknya nyantri di daerah Semarang,  deket rawapening."

"Jangan-jangan panti jompo Mah?"

"Bukan, ini pondok, bapaknya bu RT betah di sana." Kupikir menarik juga ada pondok khusus lansia, ah aku harus segera mencari tahu informasi ini lebih banyak dan memberitahu ibu. Semoga saja ibu mau menerima usulku.

"Apa Le? Ibu yang sudah renta begini kamu suruh nyantri?"

"Iya bu, ngapunten nggih. Ibu berkenan kah? Yudi tidak memaksa Bu, ini cuma usul. Lagipula tidak disana selamanya, Ibu boleh ikut  yang tiga bulan saja."

"Lha kalau belajar ngaji aku ki seneng. Tapi ya malu sudah keriput peyot begini belum bisa alip alipan. Nanti gek kiyainya mutung ngajarin Ibu."

"Ndak Bu, insya Allah tidak, ini memang pondok pesantren khusus piyayi sepuh. Jadi ustadz-ustadznya juga mafhum menghadapi orangtua."

"Lha biayane, apa tidak memberatkan kamu tho Yud?"

"Tidak Bu, Insya Allah tidak, ini harusnya tugas Yudi membimbing Ibu, tapi karena Ibu tidak mau tinggal disini, dan Yudi juga belum bisa tinggal di kampung jadi Yudi hanya bisa menitipkan ibu agar didampingi ustadz-ustadz yang bisa membimbing Ibu."

"Gusti Allah, alhamdulillah, ya Le, iya, Ibu mau. Ibu mau jadi santri. Tapi nanti kalau ndak betah piye?"

"Ibu bisa menghubungi Yudi, Ibu bisa pulang kapanpun Ibu mau."

Alhamdulillah akhirnya ibu mau nyantri di pondok pesantren khusus lansia, kami yang mengantarkan beliau ke sana bulan lalu. Syukurlah ibu betah di sana, selain mendapat teman sebaya, juga kegiatan pondok di rancang sesuai dengan kebutuhan lansia. 

Sungguh hanya ini hadiah terindah yang bisa kupersembahkan untuk wanita mulia itu. Semoga membawa beliau kepada akhir yang baik, menghadap Sang Pencipta dengan jiwa yang tenang dalam ketaatan. Semoga.

Nurmaya Sahar, May, UjungAspal171020

PESANTREN KASEPUHAN RADEN RAHMAT 
Desa Gedong, Kec. Banyubiru Kab. Semarang Jawa Tengah 
Telp: 0812-9968-619 
Whatsapp : 0856-9329-9145
FB / IG / Twitter / You Tube : Pesantren Lansia 
Bank : Syariah Mandiri No.Rek 7 9999 333 72, Atas Nama Pesantren Raden Rahmat
www.pesantrenlansia.com 
www.travelansia.com