Home Edukasi GLOBALISASI, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN INDONESIA

GLOBALISASI, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN INDONESIA

368
0
SHARE
GLOBALISASI, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN INDONESIA

Oleh: J. Faisal, M.Pd 
Pemerhati Pendidikan/Mahasiswa Doktoral Sekolah Pascasarjana UIKA Bogor 

Globalisasi dunia dalam berbagai bidang saat ini masih menjadi isu hangat berbagai negara dalam mengiringi proses perubahan yang terjadi di seluruh dunia. Proses kegiatan yang berlangsung dalam seluruh bidang, seperti ekonomi, politik, teknologi, bahkan pendidikan telah tergiring ke satu tujuan, yaitu menjadi masyarakat dunia yang satu, yang tidak boleh ketinggalan trend dari perubahan yang terus terjadi itu sendiri. 

Pada dasarnya, globalisasi itu sendiri hanyalah suatu proses penyatuan dunia berdasarkan hegemoni barat terhadap penguasaan teknologi dunia. Ini adalah puncak dari ketamakan dunai barat yang menjadikan data, teknologi dan komunikasi sebagai alat untuk model penjajahan baru terhadap negara-negara di dunia yang masih miskin dan berkembang untuk terus menggantungkan diri secara ekonomi, politik, pertahanan, bahkan pendidikan kepada mereka. 

Khususnya dalam bidang pendidikan, Negara Indonesiapun tidak ingin ketinggalan dalam hal mengikuti kemajuan pendidikan yang dipadukan dengan globalisasi kemajuan teknologi barat, khususnya teknologi dalam bidang informasi dan komunikasi. Ini juga yang menjadi alasan utama Presiden Indonesia yang memilih seorang Nadiem Makarim, seorang pengusaha muda dalam bidang teknologi untuk menjadi seorang Menteri Pendidikan, dan bukannya seorang ahli pendidikan yang memang mengerti tentang dunia pengajaran, pedagogi, kurikulum, dan yang menyangkut unsur-unsur pendidikan lainnya.  

Bos Go Jek ini dianggap mampu untuk mengadopsi teknologi informasi dan komunikasi ke dalam dunia pendidikan, yang notabene hal tersebut dianggap Presiden akan dapat membawa kemajuan dalam bidang pendidikan Indonesia secara instan. Meskipun tidak sesederhana itu sebenarnya. Atau memang karena pikiran sang Presiden yang terlalu sederhana dalam memahami apa itu arti pendidikan? 

Menurut Prof. Sidek Baba dalam bukunya Tajdid Ilmu dan Pendidikan, pendidikan adalah sebuah proses pengajaran dan pembelajaran, dimana kedua proses ini bukan sekedar proses pemindahan tujuan, dan keterampilan, atau teknologi   dari guru kepada siswa. Tetapi pendidikan merupakan suatu proses transformasi. Proses perpindahan (transfer), dan perubahan (transform) merupakan inti dari proses pendidikan yang memberikan focus kepada pemikiran, hati, dan tindakan atau amal, agar proses keilmuan masuk ke dalam diri seorang manusia. Dalam Islam, pendidikan adalah proses untuk membuat seseorang menjadi beradab. Adab di sini merujuk kepada proses mendisiplinkan akal, hati, dan tindakan. Proses ini melebihi nilai-nilai karakter yang sedang digaungkan oleh pemerintah, dengan pola pendidikan karakternya. 

Akal yang menerima ilmu memerlukan disiplin yang tinggi, supaya kebenaran dan kebaikan dalam ilmu itu mampu diterima untuk membentuk kualitas berfikir yang lebih bermanfaat. Dengan demikian, kualitas ilmu yang bermanfaat dan mengandung kebenaran akan menyerap ke dalam hati, dan terbina nilai-nilai murni untuk memperkaya jiwa manusia. Manusia yang jiwanya mulia, akan memancarkannya dalam amal dan perbuatan. Proses tranformasi dalam pendidikan ini sangat penting, karena akan membangun ilmu dan nilai yang ada pada manusia itu seutuhnya. 

Di dalam dunia pendidikan, secanggih apapun teknologi dalam bentuk dan fungsinya, tetap hanya dilihat sebagai alat. Teknologi memang memudahkan manusia dalam mengerjakan dan mempercepat sesuatu, tetapi sekali lagi, penguasaan teknologi bukanlah merupakan suatu tujuan pendidikan yang hakiki. Sifat teknologi memang selalu berkembang, produknya selalu kreatif dan inovatif. Ini dikarenakan ‘tradisi’ penelitian yang memang selalu melihat ke arah masa depan. Input-input terbaru dalam pengembangan teknologi menyebabkan teknologi dapat memasuki setiap sector kehidupan manusia dan memang membawa kegunaan dan kemudahan yang banyak sekali. Tetapi yang perlu diingat sekali lagi, secanggih apapun teknologi dalam bentuk dan fungsinya, tetap hanya dilihat sebagai alat, dan bukan sebagai tujuan. 

Antara fungsi, dan alat di dalam dunia pendidikan memang harus berjalan seiringan. Keduanya harus menyatu dalam prosesnya untuk tercapainya tujuan pendidikan itu sendiri, yaitu sesuai dengan yang diamanatkan oleh UUD 1945, Pasal 31, yang menegaskan bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk meningkatkan keimanan, ketaqwaan, dan akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan bangsa. 

Begitupun dalam amanat UU No 20/2003 tentang Sisdiknas dan UU No 12/2012 tentang Pendidikan Tinggi, yang menegaskan tentang tujuan pendidikan untuk membentuk manusia beriman, bertaqwa, dan berahlak mulia. 

Dengan demikian, semakin jelas bahwa jika dunia pendidikan Indonesia mampu menggunakan dan menerapkan teknologi global yang terus berkembang sebagai suatu alat yang dapat lebih membangun keimanan, ketaqwaan, dan kemuliaan ahlak para peserta didik, maka penggunaan teknologi dalam pendidikan, khususnya teknologi informasi dan komunikasi telah berhasil dengan baik. 

Tetapi sebaliknya, jika gembar-gembor penggunaan teknologi dalam pendidikan ternyata tidak mampu digunakan sebagai alat untuk menghasilkan peserta didik yang beriman, bertaqwa, dan mulia, sesuai dengan tujuan pendidikan yang diamanahkan UUD 1945, pasal 31 khususnya, dan juga UU No 20/2003 tentang Sisdiknas, maka dapat dipastikan kegagalannya dan harus diadakan perbaikan yang menyeluruh kembali. Tentu saja, hal ini akan membutuhkan waktu, dan energy yang lebih lama lagi. Itulah resikonya jika membuat sistem trial and error dalam dunia pendidikan, karena ketidakpahaman masalah yang dihadapi.(*)