Home Agama Gagal Haji dan Adab Kepada Rakyat

Gagal Haji dan Adab Kepada Rakyat

177
0
SHARE
Gagal Haji dan Adab Kepada Rakyat

Oleh: H. J. Faisal *)

KEGAGALAN - Keberangkatan calon jamaah haji Indonesia pada tahun 2020/1441 H tahun lalu mungkin dapat dimaklumi oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Pemakluman tersebut dikarenakan situasi masyarakat dunia yang memang masih dicekam ketakutan akan bahaya virus Corona dimana pembuatan penawar atau vaksinnya masih dalam proses pada waktu itu.

Tahun 2021 atau tahun 1442 H ini, pemerintah kembali meniadakan perjalanan ibadah haji ke tanah suci. Meskipun sudah ada vaksinasi untuk wabah Covid-19 yang telah diterima masyarakat dunia, dan masyarakat Indonesia, tetapi pemerintah tetap membatalkan keberangkatan umat Islam Indonesia untuk berhaji, yang secara resmi diumumkan oleh Menteri Agama pada tanggal 3 Juni 2021 yang lalu. 

Alasan yang diungkapkan pemerintah terhadap pembatalan keberangkatan jamaah haji Indonesia pada tahun ini adalah karena untuk menjaga keselamatan jiwa jamaah, dan juga dikarenakan waktu persiapan haji yang mendesak, sehingga pemerintah merasa tidak mampu untuk mengejar waktu persiapan pelaksanaannya. What some silly reasons…..I think.

Pemerintah juga berdalih bahwa keputusan pembatalan tersebut sudah dikonsultasikan dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Pertanyaannya yang muncul adalah, apakah memang anggota DPR kita sudah seputus asa itukah dalam memperjuangkan hak-hak rakyat yang mereka wakili untuk memperjuangkan  hak rakyatnya  untuk beribadah menunaikan kewajiban agamanya yang sangat mendasar, yaitu ibadah haji, yang menjadi rukun agama?

Belakangan akhirnya terungkap bahwa ternyata keputusan pemerintah untuk membatalkan keberangkatan jamaah haji Indonesia lahir secara premature alias mendahului keputusan Kingdom/Kerajaan Saudi Arabia (KSA) terhadap pelaksanaan haji dunia tahun 2021 ini. Sudah dipastikan bahwa ketidaksabaran pemerintah dalam berdiplomasi sudah menjadi ciri khas Negara ini. Ditambah lagi dengan kelemahan berdiplomasi di tingkat Internasional merupakan ‘penyakit’ yang memang belum sembuh bagi para petinggi negara ini. 

Baiklah kita kesampingkan dahulu fakta-fakta lain, seperti fakta masalah vaksin Sinovhac yang tidak diterima oleh KSA, atau masalah kuota yang mungkin tidak sebanyak seperti tahun-tahun normal sebelum pandemik, sehingga dikhawatirkan akan menimbulkan kecemburuan sosial di antara sesama calon jamaah haji Indonesia. Bahkan ada kecurigaan dari sebagian besar masyarakat Indonesia bahwa dana haji sudah habis terpakai oleh pemerintah untuk pembiayaan infrastruktur yang dibangun oleh pemerintah. Wallahu’allam bisshowab.  

Tetapi fakta bahwa Indonesia telah mendahului keputusan KSA dalam masalah kuota dan waktu pelaksanaan ibadah haji benar-benar sebuah perbuatan yang tidak bisa diterima secara rasional. 

Mengapa demikian? Bagi seorang tamu yang mendahului tindakan atau keputusan seorang tuan rumah jelas merupakan sebuah tindakan yang kurang beradab. Apalagi kegiatan berhaji ini membawa ‘gerbong’ rakyat Indonesia yang luar biasa banyaknya. Ditambah lagi masa penantian untuk beribadah haji yang tidak bisa dibilang sebentar, antara 10 sampai dengan 15 tahun lamanya. 

Negara tetangga dekat kita, Malaysia mungkin kita bisa jadikan contoh yang lebih beradab kepada rakyatnya dalam urusan pemberangkatan haji tahun 2021 ini. Di dalam pernyataannya. Seperti yang diberitakan oleh Hidayatullah.com pada Sabtu 5 Juni 2021 kemarin, bahwa Menteri pada Kantor Perdana Menteri Malaysia Urusan Agama Zulkifli Mohamad al-Bakri menyatakan bahwa pihaknya masih menunggu jawaban dari pemerintah Saudi Arabia terkait pemberangkatan jamaah haji Malaysia ke tanah suci. Menurut Malaysia, adab setiap tahun, negaranya menunggu surat dari Saudi sebelum berangkat.

“Yang  pertama menjadi adab kita sebagai sebuah negara termasuk dengan Arab Saudi. Kita akan menunggu jawaban resmi dari mereka yang diantar surat kepada kita. Itu praktik biasa yang dilakukan setiap tahun,” ujar Zulkifli dalam acara bincang-bincang ‘Takut Allah atau Takut Covid 19’ di TV1 Malaysia, Jumat (4/6/2021) dikutip Antara News. 

Zulkifli juga mengatakan bahwa banyak pengumuman muncul namun masih berasal dari media massa sehingga pihaknya menunggu jawaban secara resmi. “Surat ke Tabung Haji (Lembaga Pengelola Haji Malaysia) masih kita tunggu dan pemerintah Malaysia juga masih menunggu,” katanya. 

Adapun terkait kewajiban vaksin bagi calon jemaah haji, meskipun ada pengurangan kuota, Malaysia sudah memvaksin lebih dari 4.000 orang anggota calon jamaah melalui Kementrian Kesehatan Malaysia (KKM). “Ini menjadi standby manakala ada informasi pemberangkatan haji Arab Saudi sudah siap siaga,” tambah Zulkifli.  

Itulah contoh dari negara yang menjalankan adab yang benar kepada rakyatnya.  

Pada akhirnya, apapun masalah yang dihadapi oleh pemerintah dalam kegagalan pemberangkatan haji pada tahun 2021 ini (untuk yang kedua kalinya), harus menjadi koreksian yang mendalam bagi pemerintah, jika masih ingin mendapatkan kepercayaan bagi rakyatnya, khususnya muslimin Indonesia.

Janganlah menciptakan Social Distrust yang lebih besar lagi. Bukan masalah pengembalian dana haji yang dipermasalahkan oleh para kaum muslimin calon jamaah haji Indonesia yang gagal berangkat tahun ini. Percayalah, sekali niat untuk pergi ke tanah suci, pantang surut bagi mereka untuk memutarbalikkan niat, apalagi untuk memutarbalikkan biaya haji mereka untuk keperluan-keperluan lainnya. Tidak. Muslimin Indonesia hanya meminta usaha pemerintah untuk menjalankan dan mengusahakan semaksimal mungkin amanat mereka para kaum muslimin. 

Akhirnya keputusan sudah diambil oleh pemerintah dalam masalah pembatalan pemberangkatan haji tahun ini. ‘Nasi sudah menjadi bubur,’ tetapi yang pasti, muslimin Indonesia tidak ingin makan ‘bubur’ lagi tahun depan. 

Untungnya, muslimin Indonesia adalah muslimin yang sabar, manut, baik, cinta NKRI, berjiwa nasionalisme, dan pasti Pancasialis, karena menjadi seorang muslim Indonesia yang baik sudah pasti menjadi seorang nasionalisme dan seorang Pancasilais yang baik pula. 

Pasrah adalah kata kuncinya kembali tahun ini.

Wallahu’allam bisshowab. 

Jakarta, 6 Juni 2021/ 25 Syawal 1442H

*) Penulis adalah Pemerhati Pendidikan/ Mahasiswa Doktoral Pascasarjana UIKA, Bogor.