Home Disaster DPRD JABAR AKAN PERJUANGKAN 4 SOLUSI PENCEGAHAN BANJIR

DPRD JABAR AKAN PERJUANGKAN 4 SOLUSI PENCEGAHAN BANJIR

Pertemuan Sungai Cikeas-Cileungsi

169
0
SHARE
DPRD JABAR AKAN PERJUANGKAN 4 SOLUSI PENCEGAHAN BANJIR

Keterangan Gambar : Ketua KP2C Puarman (paling kiri) bersama anggota DPRD Jabar dan Kepala Desa yang meninjau lokasi bencana banjir di Perumahan Villa Nusa Indah, Bojongkulur, Kabupaten Bogor. (foto Puarman)

Parahyangan-post.com-Dua anggota Komisi IV DPRD Jawa Barat, H. Muhammad Ikhsan (F-PKS) dan Prasetyawati (F-Gerindra) meninjau langsung kondisi sungai Cileungsi dan Cikeas pasca banjir hebat 1 Januari 2020 lalu. Peninjauan itu sebagai bagian dari  kunjungan kerja ke Daerah Pemilihan (Dapil) mereka.

Peninjauan dilakukan di P2C (Pertemuan Cileungsi-Cikeas)  di Perumahan Vila Nusa Indah 1, Bojongkulur, Kecamatan Gunung Putri, Bogor, Kamis siang (30/01/2020).

Dalam peninjauan itu mereka didampingi Ketua Komunitas Peduli Sungai Cileungsi-Cikeas (KP2C), Puarman serta Kepala Desa Bojongkulur dan jajarannya.

Dalam kesempatan itu, Puarman  mengatakan bahwa KP2C ikut prihatin atas bencana banjir besar 1 Januari 2020 dan ancaman banjir yang selalu menghantui warga. "Terutama warga yang berada di 26 perumahan yang bermukim di sepanjang Sungai Cileungsi, Sungai Cikeas dan Kali Bekasi di saat musim hujan tiba," ujar Puarman.

Menurut Puarman, sebagai sebuah komunitas yang memfokuskan kegiatan pada  "early warning system'" atau sistem peringatan dini, edukasi sungai dan pencegahan bencana banjir, sejak dua tahun lalu KP2C telah mengeluarkan "4 Rekomendasi" sebagai solusi dalam mengatasi banjir di sepanjang ketiga sungai tersebut.

Keempat rekomendasi itu adalah "normalisasi sungai" karena sungai semakin dangkal akibat meningginya sedimentasi di badan sungai. Normalisasi sungai terakhir dilakukan tahun 1973. "Maka, normalisasi atau pengerukan sungai sudah saatnya dilakukan untuk sungai Cileungsi dan sungai Cikeas," ujarnya.

Terkait tanggul di sejumlah perumahan terdampak banjir yang terindikasi rapuh, KP2C juga merekomendasikan perlu dilakukan pembangunan tanggul permanen. Tanggul-tanggul tersebut mengalami kerusakan akibat dorongan air sungai yang sangat deras dan kuat.

Rekomendasi berikutnya adalah pembangunan pintu pengendali air guna mengatur volume air yang datang dari hulu. "Sebuah pintu pengendali air perlu dibangun di antara perbatasan Kabupaten Bogor dan Kota Bekasi di Jawa Barat," ujarnya.

Pembangunan waduk di hulu Cileungsi dan Cikeas merupakan rekomendasi yang juga disodorkan KP2C kepada pemerintah di tingkat pusat maupun daerah. Pasalnya, melimpahnya air hujan dari hulu sungai menjadi sebab utama banjir di kawasan hilir. Miliaran rupiah terkuras sia-sia akibat bencana itu.

"Untuk itu, sebuah waduk di hulu Sungai Cileungsi dan Cikeas perlu dibangun sebagai penampung air hujan dari hulu, dan sekaligus bisa dimanfaatkan untuk kemanfaatan warga masyarakat," tambah Puarman.

Menerima empat rekomendasi KP2C tersebut,  Prasetyawati berjanji  akan memperjuangkan rekomendasi itu di DPRD provinsi dan juga akan didorong ke  DPR RI.

Sementara Muhammad Ichsan yang mengaku  menjadi korban banjir awal Januari lalu, sepakat untuk mencari solusi  bersama instansi dan pihak-pihak terkait dalam pencegahan banjir akibat luapan Sungai Cileungsi,  Cikeas dan Kali Bekasi.

 

Penulis: Sancoyo