Home Agama CARA MENGENALI AIB-AIB JIWA

CARA MENGENALI AIB-AIB JIWA

56
0
SHARE
CARA MENGENALI AIB-AIB JIWA

Keterangan Gambar : J.Faisal, Pemerhati Pendidikan/Mahasiswa Doktoral Sekolah Pascasarjana UIKA Bogor dan Ketua Umum Yayasan Anugerah Qalam Indonesia (YAQIN) (sumber foto : ist/dok/pp)

Oleh: J. Faisal *)

Pendahuluan ;
Berbicara tentang aib  di bulan suci Ramadhan 1441 H ini menjadi sesuatu yang istimewa. Karena di bulan suci inilah, momentum yang tepat bagi muslimin dan mukminin untuk bermuhassabah tentang aib-aib diri, baik aib dzohir maupun aib jiwa, sehingga keluar dari Ramadhan tahun ini, kita  benar-benar menjadi muslimin dan mukminin yang suci lahir dan batin. InsyaAllah. 

Arti kata aib dalam bahasa Indonesia, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ((KBBI) adalah  berarti sebuah keadaan yang membuat malu. Tentu saja, rasa malu tersebut ditimbulkan dari kesalahan atau keadaan yang tidak mengenakkan, yang pernah dilakukan terhadap orang lain.

Tidak ada seorangpun manusia di dunia ini yang ingin mempunyai atau mendapatkan aib dalam hidupnya. Ya, karena aib itu dapat merendahkan harga dirinya di depan manusia lainnya. Rasa  malu adalah konsekuensi yang harus diterima oleh seorang manusia, jika aibnya diketahui oleh orang lain. Besarnya kadar rasa malunya, tergantung dari besarnya aib yang dia miliki.

Aib Dzohir 
Aib yang bersifat dzohir atau nyata, biasanya ditimbulkan karena kesalahan perbuatan  secara fisik yang seseorang lakukan. Atau dari perkataan kasar, dan tidak pantas yang pernah diucapkan kepada orang lain. Pastinya, kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan tersebut bertentangan dengan hukum yang berlaku di masyarakat, baik yang berupa hukum positif, maupun yang berupa hukum adat. Perlu ditekankan pula dalam hal ini, bahwa kelainan fisik atau cacat yang diderita seseorang secara fisik, bukanlah merupakkan sebuah aib. Karena itu adalah keadaan yang sudah ditetapkan oleh Allah SWT. 

Memang tidak ada manusia yang tidak pernah berbuat kesalahan dalam hidupnya, karena memang manusia adalah tempatnya alpa, salah, dan dosa. Tetapi manusia yang baik bukanlah manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan. Manusia yang baik adalah manusia yang mau belajar untuk menjadi lebih baik dari kesalahan-kesalahan yang dia pernah lakukan, dan berjanji serta berupaya sekuat mungkin untuk tidak mengulangi kesalahan-kesalahan tersebut di masa yang akan datang. 

Namun mungkin bagi sebagian orang, aib dari kesalahan-kesalahan tersebut tetap saja membuat dirinya merasa malu. Inilah tanda atau ciri-ciri dari orang yang masih memiliki iman dalam dirinya, yaitu memiliki rasa malu.  Tetapi jika seseorang tidak memiliki rasa malu dari aib yang dimiliki, sebagai akibat dari kesalahan-kesalahan yang dia pernah lakukan, maka ini salahsatu ciri telah hilangnya iman di dalam hatinya. Naudzubillah… 

Aib Jiwa
Jika seorang manusia dapat dengan mudah mengenali aib dzohiriahnya, kemudian bagaimana dengan aib jiwanya? Dapatkah manusia mengenali aib-aib atau penyakit-penyakit jiwanya dengan mudah? Biasanya untuk aib jiwa ini, orang lain lebih mengetahuinya daripada dirinya sendiri. Aib-aib jiwa ini adalah sifat-sifat buruk mental atau ‘penyakit-penyakit’ jiwa seorang manusia, yang terkadang keberadaannya tidak disadari dengan cepat oleh si pemiliknya. Meskipun secara fisik manusia tersebut sehat, tetapi belum tentu jiwanya sehat pula. Sehingga, ungkapan di dalam tubuh yang sehat, terdapat pula jiwa yang kuat, masih diragukan kebenarannya. 

Aib-aib jiwa atau ‘penyakit-penyakit’ jiwa seorang manusia, antara lain kesombongan, kedengkian, iri, hasut, egois, temperamental, riya, dendam, tamak dan rakus, ‘bermuka dua’, kebodohan, kemalasan berusaha, selalu mengandalkan bantuan orang lain, memanfaatkan keberadaan atau kelebihan orang lain, merasa benar sendiri tanpa mempunyai ilmu, dan sifat-sifat buruk kejiwaan lainnya. Ketika sifat-sifat buruk yang merupakan aib jiwa ini keluar, biasanya orang lain yang dapat merasakan terlebih dahulu daripada manusia si pemilik sifat buruk tersebut. 

Di sinilah pentingnya seorang manusia untuk mengenal jiwanya sendiri, mengenal semua aspek kepribadiannya sendiri, sehingga dia dapat mengenal sifat-sifat buruk dan sifat-sifat baik yang dia miliki. Mengapa demikian? Karena ini bukanlah menjadi masalah selama seorang manusia tersebut hidup di dunia saja, tetapi ini menjadi tanggungjawab yang dibawa oleh seorang manusia hingga ke akhirat.

Jika demikiian, bagaimanakah cara seorang manusia untuk dapat segera mengenali sifat-sifat buruknya, agar tidak menjadi dosa bagi dirinya sendiri? Seperti yang pernah disabdakan oleh Rasulullah SAW, yaitu: “Apabila Allah menghendaki kebaikan di dalam diri seorang hamba, maka Dia akan memperlihatkan kepadanya aib-aib dirinya.” 
Menurut ulama dan filosof besar Islam, Imam Gazali di dalam kitab Ihya Ulumiddinnya, menulis bahwa sekurangnya ada tiga cara seorang manusia untuk dapat mengenali aib-aib apa saja, atau sifat-sifat buruk apa saja yang dia miliki di dalam jiwanya, sehingga dia bisa meninggalkannya dan meyelematkannya dirinya dari siksa Allah SWT di akhirat kelak. Cara-cara tersebut, antara lain: 

1.    Cara yang paling utama adalah dengan duduk di hadapan seorang syekh atau guru, dan melakukan segala sesuatu yang dia perintahkan. Saat itu, terkadang aibnya akan tampak di matanya sendiri, dan terkadanga gurunya yang akan memperlihatkan kepadanya. Ini merupakan cara muhassabah yang paling utama dan paling tinggi. Mengapa demikian? Karena selaain memperlihatkan aib-aib jiwa kepada seseorang, sang gurupun akan langsung memberikan nasihat-nasihatnya, sehingga orang tersebut akan langsung menyadarinya dan mendapatkan ilmunya untuk menghilangkan aib-aib jiwanya tersebut. Hanya saja di masa sekarang, cara ini mungkin sangat jarang dilakukan. 

2.    Cara yang lain adalah dengan mencari seorang  teman yang saleh dan mengetahui ilmu dalam perkara ini, lalu bergaul dengannya dan menjadikannya sebagai pengawas atas dirinya, yang akan memperhatikan kondisi-kondisinya dan menunjukkan aib-aibnya. Ini merupakan hal yang dilakukan oleh para pembesar imam dalam ilmu agama.
Umar r.a. pernah berkata: “Semoga Allah merahmaati orang yang menunjukkan kepadaku aib-aibku.” 

Umar bin Khattab r.a. pernah bertanya kepada Salman al- Farisi tentang aib-aibnyaa ketika Salman datang kepadanya. Umar bertanya, “Apa yang kamu dengar tentangku, yaitu hal yang tidak kamu sukai?” 

Salman enggan menjawab, tetapi Umar mendesaknya. Salman pun berkata, “Aku mendengar bahwa kamu mengumpulkan antara dua lauk dan bahwa kamu memiliki dua baju untuk siang hari dan satu baju untuk malam hari.”   

Umar bertanya kembali, “Apakah kamu mendengar selain keduanya?” 

Salman nenjawab, “Tidak”
Umar kemudian berkata kembali, “Adapun dua hal ini, aku telah menghentikan keduanya.” 

Umar juga pernah bertanya kepada Hudzaifah, pemegang rahasia Rasulullah SAW tentang orang-orang munafik, “Apakah kamu melihat di dalam diriku tanda-tanda kemunafikan?”
Begitulah, melalui segala keagungan derajatnya dan ketinggian pangkatnya, Umar bin Khattab r.a. selalu mencurigai dirinya sendiri. 

3.    Cara berikutnya adalah, dengan mencurigai diri kita sendiri. Jika seorang muslim tidak menemukan teman yang saleh, maka dengarkanlah perkataan orang-orang yang dengki. Janganlah diabaikan seorang pendengki yang mencari-cari aib dari kaum mukminin. Sebaliknya, ambillah manfaat dari hal itu. Curigailah diri kita atas semua aib jiwa yang dituduhkan kepada diri kita. Janganlah kita marah apabila seseorang menunjukkan kepada kita suatu aib. Sungguh, aib-aib jiwa itu adalah ular-ular dan kalajengking-kalajengking yang akan menyengat kita di dunia dan di akhirat. 

Karena itu, apabila ada orang yang memperingatkan kepada kita bahwa ada seekor ular di dalam baju kita dan akan mematuk kita, maka terimalah peringatannya dalam hal ini. Apabila kita marah jika ada orang lain yang menunjukkan aib-aib jiwa kita, maka dengan demikian hal itu sesungguhnya menunjukkan kelemahan iman kita terhadap akhirat.

Sebaliknya, apabila kita mengambil kebaikannya dalam hal ini, maka itu menunjukkan kekuatan iman kita. 

Mata kebencian adalah dengan memperlihatkan sifat-sifat buruk seorang manusia. Sementara itu, kekuatan iman memberikan kepada kita suatu manfaat, yaitu bahwa kita dapat mengambil ‘keuntungan’ dari celaan dan cacian seorang pendengki. 

Semoga kita selalu dapat menyadari semua aib-aib dalam diri kita, baik itu aib yang bersifat dzohir, terlebih lagi aib-aib dalam jiwa kita. Semoga Allah selalu menutup aib-aib kita.

Aamiin ya Robbal’alamiin.
Wallahu’alam bissowab

*) Pemerhati Pendidikan/Mahasiswa Doktoral Sekolah Pascasarjana UIKA Bogor, dan Ketua Umum Yayasan Anugerah Qalam Indonesia (YAQIN)