Home Ekbis Buntut Pergub DKI No. 142 Tahun 2019

Buntut Pergub DKI No. 142 Tahun 2019

KAWALI DKI Jakarta Anjurkan Memakai Plastik Ramah Lingkungan

59
0
SHARE
Buntut Pergub DKI No. 142 Tahun 2019

Keterangan Gambar : Pemakaian kantong plastik sekali pakai rusak lingkungan (foto kawali)

KAWALI DKI Jakarta Anjurkan Pakai Plastik Ramah Lingkungan

 

Jakarta, parahyangan-post.com-KAWALI Jakarta menganjurkan pemerintah memakai plastik ramah lingkungan untuk mengatasi masalah lingkungan.

Himbauan tersebut disampaikan untuk menyikapi  Pergub DKI no. 142 Tahun 2019  tentang pelarangan pemakaian kantong plastik sekali pakai.

Ketua KAWALI DKI Jakarta Mardian mengatakan, pihaknya  mencoba memberikan solusi.  Mengacu pada aturan perundangan 18/2008 terkait persampahan. Masyarakat tetap dapat menggunakan kantong plastik ramah lingkungan ber SNI dan mudah terurai di alam secara alami. Pemerintah melalui KLHK sudah memberikan standar terkait dengan kantong plastik ramah lingkungan yang ber SNI ecolebel. Jadi kalau ini yang harus dijadikan solusi untuk pengendalian sampah plastik konvensional.

“Kantong plastik tas belanja reusable konvensional (sponbon) yang selama ini ada yang dianggap ramah lingkungan sudah terbukti tidak mudah hancur dalam tanah apalagi terurai secara alami hingga waktu 100 tahun dan bahkan ribuan tahun,” tutur Mardian melalui rilis yang diterima parahyangan-post.com.

Mardian menegaskan, KAWALI DKI Jakarta mengusulkan agar pemerintah,  baik pusat dan daerah agar tetap memberikan ruang penggunaan kantong plastik ramah lingkungan yang ber SNI ecolebel dan yang sudah standar ecolebel mudah terurai di alam berdasarkan yang sudah ada hasil uji laboratoriumnya.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) DKI Jakarta Ellen Hidayat keberatan dengan pemberlakuan Pergub 142 Tahun 2019. Karena akan sulit mengawasi pedagang yang jumlahnya demikian banyak.

“Sudah adilkah Pergub 142 Tahun 2019 ini dimana pengelola pasar bisa terkena sanksi berat hanya karena ada pedagang (tenant) yang menggunakan kantong plastik,” tanyanya melalui rilis yang diterima parahyangan-post.com, Senin 29/6.

Menurut Ellen, Pergub Pemprov DKI tersebut  akan membuat perekonomian mandeg, apalagi di saat pandemi corona masih merajalela.

Dampak pelarangan penggunaan plastik sekali pakai ini, lanjutnya,  akan memukul industri dan berpotensi membuat lebih dari 5000 orang akan kehilangan pekerjaan di Jakarta.  Dengan asumsi per hari ada sekitar 300 ton sampah yang dibuang.  Tiap 2 ton sampah memerlukan 1 orang tenaga kerja. Dikalikan 30 hari maka untuk jangka waktu sebulan, membutuhkan 5000 orang pekerja.

Dikatakan, jika dilihat dari aspek lingkungan kantong belanja ramah lingkungan (spon bon reusable) yang akan diberlakukan Pemprov DKI Jakarta belum sepenuhnya menjawab permasalahan sampah plastik di DKI Jakarta.  *** (lutan/pp/rls)