Home Polkam BPIP Bolehlah Belajar ke Aceh

BPIP Bolehlah Belajar ke Aceh

80
0
SHARE
BPIP Bolehlah Belajar ke Aceh

JAKARTA (Parahyangan-post.com) -- Rakyat Lebih Pancasilais Dibanding Aparat. Sehingga mereka tidak tidak perlu ditanyakan rasa Pancasilaismenya.

Ternyata rakyat lebih paham menghayati dan mengamalkan Pancasila secara murni dan konsekuen, tidak jarkoni (hanya bisa berujar tapi tidak bisa melakoni). Mau bukti? 

Terbukti ada 94 pengungsi Rohingya yang belum jelas arahnya entah  dari mana datangnya. Apakah dari Bangladesh atau dari Rakhine, Myanmar? Yang jelas mereka sudah lama terombang-ambing di lautan lepas mengalami dehidrasi. 

Uniknya, mereka ditolak untuk merapat ke perairan Aceh oleh petugas yang mewakili pemerintah. Tentu saja  penduduk setempat protes. Dan mereka memaksa untuk membawa pengungsi ke daratan melihat penderitaan pengungsi di atas kapal terapung-apung antara bisa merapat atau tidak. Penduduk dengan sigap dapat menerima dengan baik daripada aparat setempat.

Terlihat pengungsi  kehausan, kelaparan dan sangat membutuhkan pertolongan.
" Kalau kalian takut resiko jabatan, baiklah kami saja yang menjemput mereka dan   memberikan mereka makanan dan minuman." Ujar salah seorang penduduk.

Para  penduduk  terlihat penuh nada kekesalan pada salah satu aparat yang melarang pengungsi Rohingya merapat ke daratan.

Warga penduduk di tepi pantai dengan segera bergotong-royong  mengulurkan bantuan secara spontan. Dalam waktu singkat sudah terkumpul uang Rp 1,3 juta yang mereka belikan nasi bungkus dan air mineral. Ramai kapal-kapal nelayan penduduk menjemput kapal pengungsi Rohingya yang terapung menjelang di laut dan menariknya ke tepi pantai.

Pas di tepi pantai serta merta penduduk yang sudah menunggu menjemput dan menggendong mereka yang terlihat lemas. Segera semua pengungsi diberi makan dan juga air.

Salah seorang alumni TAPLAI LEMHANNAS, Suta Widhya SH iba melihat isak tangis pengungsi saat mereka terselamatkan oleh penduduk Aceh. Kerasnya keinginan warga Aceh membantu, mengisyaratkan bahwa Pancasila itu sudah mereka praktekkan saat melihat sekumpulan manusia sedang bertaruh dengan nyawa di lautan.
Inilah Pancasila yang sebenarnya, yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab sesuai Sila kedua Pancasila. 

Masyarakat lebih mampu menunjukkan Sila Kedua pada pengungsi Rohingya dibanding aparat. Sukarelawan dari masyarakat Aceh ini ikut menggerakkan pemerintah mereka yang langsung ikut memberikan fasilitas bagi pengungsi.


Kebutuhan mereka yang awalnya dipenuhi oleh penduduk secara sukarela, saat ini sudah ditanggung pemerintah setempat.
Sebuah bukti Pancasila itu sudah ada di dalam jiwa masyarakat kecil kita, jauh sebelum dimasukkan dalam Arsip Negara 18 Agustus 1945. 

"Dari Aceh, Pancasila itu sudah dipraktikan. Sedangkan di Jakarta masih banyak orang, khususnya PDIP yang diduga ingin menerjemahkan Pancasila dengan hanya 3 sila atau 1 sila, yaitu sila Gotong Royong. Bayangkan aparat bila menghadapi kedatangan TKA Cina, adakah sama perlakuannya dengan yang ditunjukkan kepada para pengungsi?" Tutup Suta.


(hans/pp)