Home Seni Budaya Benyamin Davnie

Benyamin Davnie

Perhalus Watak PNS dengan Sentuhan Seni

161
0
SHARE
Benyamin Davnie

Keterangan Gambar : Wakil Walikota Tangsel Benyamin Davnie membacakan puisi karya Khalil Gibran berjudul Anakmu Bukanlah Anakmu pada gelaran Sastra Semesta 4 yang berlangsung di Bengkel Kreatif Hello Indonesia, Sawah Baru Ciputat, Minggu 23/2 (foto aboe)

Benyamin Davnie: Perhalus Watak PNS dengan Sentuhan Seni

Tangsel, parahyangan-post.com Sentuhan seni perlu untuk memperhalus watak Pegawai Negeri Sipil dalam melayani masyarakat. Hal tersebut disampaikan Wakil Walikota Tangerang Selatan Benyamin Davnie pada gelaran Sastra Semesta 4 yang berlangsung di Bengkel Kreatif Hello Indonesia (BKHI), Jl. Merpati Raya 33, Sawah Baru, Minggu 23/2.

“Pegawai Negeri Sipil terkesan kaku dalam melayani masyarakat. Ibaratnya mereka memakai kaca mata kuda. Jalannya lurus terus. Tidak bisa lihat kiri kanan guna menyikap situasi disampingnya,” tutur Benyamin.

Kakunya pegawai negeri tersebut, lanjut Benyamin yang digadang-gadang maju dalam kontestasi  Pilkada 2020 Tangsel ini, disebabkan adanya sejumlah peraturan yang tidak bisa  mereka langgar. Sebab kalau berani melanggar akan berakibat fatal bagi karirnya.

“Disamping  itu memang  ada sebagian PNS yang  enggan melayani masyarakat di luar  tugas pokoknya. Nuraninya belum tersentuh untuk membantu  masyarakat dengan ikhlas,” tambah Benyamin.

Lebih jauh Benyamin bercerita, dia pernah melakukan terobosan yang melanggar aturan demi malayani masyarakat dan alasan kemanusiaan.

Kejadiannya,  suatu waktu terjadi kecelakaan motor. Korban yang masih remaja tidak terselamatkan dan  meninggal di rumah sakit. Ketika hendak dibawa pulang, rumah sakit meminta biaya pengobatan yang jumlahnya sekitar Rp. 225 juta. Orang  tua kelabakan, maklum mereka keluarga tidak mampu. Karena kecelakaan terjadi diwilayah Tangsel maka ini menjadi tanggung jawab Pemkot Tangsel.

Masalahnya adalah si anak/orangtuanya  tidak mempunyai KTP Tangsel. Melainkan Kabupaten Bogor, padahal tinggalnya tidak begitu jauh dari perbatasan kota. Bagian Keuangan Pemkot tidak berani mengeluarkan dana tersebut karena takut menyalahi aturan.

“Saya kemudian menelpon Dinas Dukcapil untuk membuatkan mereka KTP Tangsel. Dalam tempo dua hari selesai. Dan biaya untuk mengeluarkan korban dari rumah sakit dicairkan,” tambahnya.

Menurut Benyamin, jelas hal tersebut menyalahi aturan. Tetapi ini alasan kemanusiaan yang Pemkot mempunyai kemampuan, wewenang dan hak  untuk melakukannya.

“Jadi, pejabat harus juga mempunyai keberanian. Kalau tidak mempunyai keberanian dalam melayani akan dijauhi masyarakat,” tambahnya.

Di sisi lain Benyamin bercerita. Pihaknya sering mengajak PNS di lingkungannya untuk  mengasah kepekaan nurani dan meningkatkan etos kerja dalam melayani masyarakat.  Seperti training ke ESQ (Ary Ginanjar), Rumah Perubahan Rhenal Khasali dan MarkPlus Hermawan Kertajaya. Namun hasilnya belum memuaskan. Saat ditraining mereka sadar, tetapi setelah itu kembali ke habitat asli. “kaku dan enggan melayani dengan tulus”.

Makanya Benyamin yakin hanya senilah yang mempu mengasah kepekaan PNS dalam melayani masyarakat. Karena seni itu halus dan lembut. Mudah tersentuh oleh penderitaan orang lain.

“Saya akan mengajak PNS untuk datang dan ikut menggairahkan dunia kesenian di Tangsel. Anggaran untuk kesenian ini ada. Hanya saja selama ini habis untuk acara yang sifatnya seremoni. Belum menyentuh kepada substansinya, yaitu memperhalus watak manusianya,”  tutup Benyamin, yang dalam acara itu sempat membacakan puisi Khalil Gibran berjudul "Anakmu Bukanlah Anakmu"

Sastra Semesta 4 yang digelar di BKHI diinisiasi perupa Ireng Halimun dkk. Dihadiri oleh sejumlah seniman dari berbagai daerah dan dari berbagai bidang seni. Tampak juga penyair Noorca M Massardi. Noorca juga membacakan puisinya. 

Dalam waktu dekat Sastra Semesta akan menggelar kegiatan spektakuler dan heboh. Yaitu “1000 perupa melukis 1000 wajah pejabat”. Kegiatan akan berlangsung di Tangsel.***(aboe)