Home Agama Antara Optimisme dan Pesimisme

Antara Optimisme dan Pesimisme

#Serial kehidupan# (2)

165
0
SHARE
Antara Optimisme dan Pesimisme

Oleh : Ust. Abdan Lillaahil Ahad. *)

Ketika sebuah pasukan berkumpul dimedan perang. Berkali-kali dia coba untuk menembus benteng pertahanan Romawi melalui selat bosporus, Berkali-kali itu juga dia gagal. Karna di dalam selat itu ada rantai besar yg terbentang sepanjang selat. Sehingga kapal-kapal besar tidak bisa lewat. Sangat Mustahil di tembus. Pertanyaannya, apakah Muhammad Al Fatih muda pesimis karna tidak bisa menembus benteng laut Romawi yang begitu kokoh? 

Atau dia berhenti menjadi penglima perang dan mencari pengganti lain? Jawabanya adalah "tidak".  

Ancaman kegagalan itu memang ada. Bahkan ancaman pesimisme itu kuat sekali.  Tapi ancaman itu bukan berasal dari dirinya. Tapi dari luar dirinya. Ancaman itu berasal dari sebagian prajurit-prajurit yang ikut dalam perang itu. Energi sudah banyak habis. Harta sudah banyak keluar. Tetapi kemenangan belum juga terlihat. Disinilah ancaman keputus-asaan semakin menguat. Ditambah dengan logika dan realita lapangan yg membenarkan itu. 

Tapi apa yang dilakukan oleh Sultan Muhammad Al Fatih dalam rangkaian kegagalan-kegagalannya. Maka Inilah rahasianya. Dia memohon petunjuk kepada Allah untuk di berikan cara menembus benteng yg angkuh itu. Dia minta cara. Bukan minta kekuatan. Kemudian Allah memberikan ilham kedalam kepala sang sultan muda ini. Untuk menembusnya bukan melalui jalur laut. 

Tapi menembus gunung dengan membawa semua kapal-kapal perang itu. Ini adalah pekerjaan yang mustahil. jauh dari nalar. Cenderung menghancurkan logika. Gila. Tapi itulah solusi dari Allah atas jawaban istikharahnya. 

Maka dia lakukan itu. Dia optimis dan dia menang. Ada sentuhan wahyu yang ikut bekerja. Dia percaya bahwa petunjuk langit tidak mungkin salah. Begitulah cerita kecil tentang optimise. Dahulu Optimis selalu menang dari pesimis. Tapi dizaman ini, kenapa pesimis seringkali menang dari optimis. Jawabanya adalah keimanan. Orang2 beriman tidak punya kata pesimis dalam jiwanya. Mereka selalu ceria dan optimis. 

Ruang kegembiraan selalu ada  dalam relung hatinya. sekalipun kegagalan berkali-kali mereka temui. Itulah uniknya. Apakah mereka berhenti? 

Tidak. Mereka hanya mengalihkan sedikit arahnya sambil mencari cara untuk terus maju. Mungkin kau juga mengalaminya kawan. Atau semua orang pasti mengalaminya.  
Maka tips dari optimis itu sendiri adalah "kerjakanlah hal-hal yang mustahil". Maka kau akan dapat keajaiban. Ketika didalam logika kebanyakan orang apa yang kau lakukan itu adalah suatu yang mustahil, maka sesungguhnya kau sudah menempuh separuh keberhasilan. 

Sebab kata "mustahil" itu adalah perkataan yang lahir dari jiwa yang kerdil dan miskin keimanan. Ditambah lagi dengan sifat kepengecutan dan kemalasan. Maka kata-kata mustahil itu semakin menguat. Tapi bagi orang2 beriman tidak ada kata mustahil. Sebab mereka percaya bahwa Allah seringkali memberi solusi bukan dengan cara yang normal. Tapi selalu dengan cara yang mustahil. 

Kuncinya adalah kuat iman dan kuat ruhiyah. Itu sebabnya salah seorang mujahid yg lumpuh hampir seluruh tubuhnya kecuali dari leher ke kepala beliau pernah mengatakan. "Kekuatan iman itu bisa melahirkan keajaiban- keajaiban".  Itu perkataan Syaikh Ahmad Yasin. Pendiri organisasi HAMAS di Gaza. 

Organisasi paling solid didunia. Beliau yakin betul dengan keimanannya. Dan imannya itulah yang membuat beliau bisa memimpin organisasi besar itu dalam keadaan cacat parah. Jadi. Masih adakah ruang untuk pesimisme ketika anda mengaku beriman? Jawabanya hanya anda yang tau. Sebab itu berhubungan dengan keimanan anda. 

Wallahu A'lamu...

*)  Abdan Lillaahil Ahad, Alumni S1 Libya dan S2 Jordania. 
Saat ini menjadi Ketua Yayasan Semesta Al Qur'an.Yang mengelola Pesantren Tahfidzul Qur'an 30 juzz di Jakarta dan di Tanjungsari Bogor.