Home Agama Antara Kedermawanan dan Keterhormatan

Antara Kedermawanan dan Keterhormatan

163
0
SHARE
Antara Kedermawanan dan Keterhormatan

Oleh : Abdan lillahil ahad

Kedermawanan. Beruntunglah orang yang terlahir dengan membawa sifat baik ini. Sebab, kedermawanan adalah salah satu sifat baik yang harus dimiliki oleh orang mukmin sejati. Mengapa tidak? karna rosulullah sendiri yang mengatakan dalam salah satu sabdanya

" Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu , dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam. Barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah ia menghormati tetangganya. Dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya”. 

Begitulah hadist itu mengabadi setelah diriwayatkan oleh al-Bukhâri (no. 6018, 6136, 6475),  dan Muslim (no. 47), serta Ahmad (II/267, 433, 463), dan  Abu Dawud (no. 5154).

Itulah  makna cinta yang terkandung didalamnya.  makna lainya adalah kita diperintahkan untuk berbagi dan memperhatikan. Dan berbagi adalah salah satu jenis nilai  kedermawanan. Dan kemampuan memperhatikan adalah salah satu cabang seni yang harus dimiliki oleh orang beriman. Sebab dari seni memperhatikan itulah lahirnya cinta kasih. Jadi jangan bilang kau mencintainya kalau kau tidak mampu memperhatikanya.

Ada pintu lain dimana sifat kedermawanan itu bisa muncul dalam diri seorang mukmin selain dari bawaan lahir. Yaitu dorongan kezuhudan. Zuhud adalah perasaan tidak butuh terhadap 'dunia' justru pada saat dunia berada pada genggamannya. Jika dorongan kezuhudan itu menguat, maka dia akan berkembang menjadi kemurahan hati. Dan kemurahan hati pasti akan keluar mencari saluranya; maka, lahirlah kedermawanan. 

Tetapi ada cerita lain yang mengusik perjalanan karir kedermawanan seseorang. Yaitu sifat meminta-minta yang dimiliki oleh orang lain diluar dirinya. Sedermawan dan semurah hatinya seseorang akan terusik dengan sifat meminta- minta orang lain. Awalnya dia rajin memberi ketika diminta. Dan selalu memberikan pertolongan ketika dibutuhkan. Namun ketika ada orang yang sama yang datang untuk meminta bantuan dan berkali-kali dengan kasus yang sama.

Maka Dari sinilah mulai sebuah ancaman kedermawanan itu bermula. Ancaman kedermawanan mulai terusik. Dia bukan tidak mau memberi. Tetapi terusik dengan sifat meminta-minta orang lain. Itu sebabnya untuk menghindari ancaman kedermawanan itu , orang terbaik setelah Rasululullah yaitu Abu bakar, justru tidak menunggu orang miskin datang menemuinya. Dialah yang mendatangi dan berburu orang- orang miskin.

Begitu juga dengan orang paling dermawan dikalangan sahabat rasul yaitu Abdurahman bin auf. Dia Selalu memantau sahabat yang sedang membutuhkan bantuan. Karna selain sifat kedermawanan. 

Ada juga jenis sifat lain yang dimiliki oleh orang mukmin sejati. Yaitu " iffah". Menjaga keterhormatan diri. Sifat ini hampir terbalik dengan kedermawanan. Sesusah- susahnya dia, dia tidak akan merendahkan dirinya meminta kepada orang lain. Bahkan kepada saudaranya sendiri. Ini adalah sifat mukmin yang patut di banggakan dan ditiru. Itu sebabnya Allah mengabadikan sikap orang- orang yang mempunyai sifat iffah ini dalam Alquran.  

Dia padahal miskin dan susah.  Tetapi orang lain tidak melihat bahwa dia sedang susah. Dia tidak pernah menampakan kesusahan. Untuk menjaga keterhormatan diri. Allah berfirman"

“Orang yang tidak tahu menyangka, mereka (orang-orang fakir) itu adalah orang-orang yang berkecukupan karena mereka ta’affuf (menahan diri dari meminta-minta kepada manusia).” (al-Baqarah: 273)

Maka dalam peristiwa yang lain rosulullah pun ikut berkomentar tentang sifat iffah ini.

" Kebaikan (harta) yang ada padaku tidak ada yang aku simpan dari kalian. Sesungguhnya siapa yang menahan diri dari meminta-minta, Allah subhanahu wa ta’ala akan memelihara dan menjaganya. Siapa yang menyabarkan dirinya dari meminta-minta, Allah subhanahu wa ta’ala akan menjadikannya sabar.

Siapa yang merasa cukup dengan Allah subhanahu wa ta’ala dari meminta kepada selain-Nya, Allah subhanahu wa ta’ala akan memberikan kecukupan kepadanya. Tidaklah kalian diberi suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” (HR. al-Bukhari no. 6470 & Muslim no. 1053)

Dari sinilah terlihat bedanya antara sifat dermawanya Allah dengan sifat demawan manusia. Kalau sifat kasih nya Allah tidak pernah terusik dengan permintaan hambanya. Malah semakin seorang hamba meminta, Allah semakin senang dengan orang yang meminta itu. Tapi berbeda dengan sifat kedermawanan manusia. Ada masa jenuhnya. Ada masa afkirnya. 

Begitulah Allah sebagai tuhan mengajarkan kita tentang posisi ketuhanaNya. Bahwa, ada perbedaan yang sangat jelas sifat kasih manusia dengan sifat kasihNYA. Maka dari dua sifat mulia ini, kita bisa melihat posisi diri kita berada di bagian yang mana.

Jikalau kita lebih dekat dengan kedermawanan maka carilah orang- orang iffah itu.  Tapi, jika kita lebih dekat kepada jenis orang- orang iffah.  Maka bersabar dan jangan mendatangi orang-orang dermawan itu. Karna khawatir akan mengusik karir kedermawanannya. 

Dengan dua sifat mulia ini. Allah menjadikan hidup ini tidak seperti kertas hitam putih. Tetapi lebih mirip kepada pelangi yang mempunyai banyak warna. Dan orang- orang yang mempunyai kedua sifat itu.  Mereka dua-duanya sama- sama mulia. Bukan hanya di hadapan manusia. Tapi juga dihadapan Allah. 

Wallahu a'lam.