Home Agama Antara Keangkuhan dan Kehormatan.

Antara Keangkuhan dan Kehormatan.

#serial Kehidupan# bagian pertama

261
0
SHARE
Antara Keangkuhan dan Kehormatan.

Oleh  :  Abdan Lillaahil Ahad  )*

Mungkin kau perlu meninjau kembali cara berfikirmu kawan. Bahwa keangkuhan dan kesombongan mempunyai akar yang berbeda dengan kehormatan dan harga diri. Sepintas kelihatan dari luar mereka tampak sangat mirip. Tapi dari dalam mempunyai akar yang tidak pernah menyatu. 

Kesombongan dan keangkuhan lahir dari akar pandangan terhadap diri sendiri yg terlalu berlebihan. Sejenis pemujaan diri. Itu sebabnya menimbulkan fantasi perasaan lebih. Lebih dari orang lain. Dan perasaan itu seringkali dinikmati sampai habis. Sehingga pada akhirnya akan menimbulkan efek kejatuhan sejatuh2nya. Tambahan lagi adalah talenta yang sempurna dalam segala hal.

Berbeda dengan harga diri dan kehormatan. Itu adalah sejenis kelayakan. Sumbernya adalah kepercayaan akan kemampuan diri. Diperkuat dengan kesadaran pengabdian yang mengabadi. Sehingga melahirkan pekerjaan2 dan karya2. Dia tidak terlalu menikmati karya itu. Tetapi orang2 mengakui dan merasakanya. Jadilah keberadaannya dihormati sebagai sebuah nilai entitas. 

Tetapi selalu ada bias antara keangkuhan dan harga diri. Antara kesombongan dan kehormatan. Orang2 yang mampu melepaskan dirinya dari bias ini, maka dialah pahlawannya. Dialah pemenangnya. Dan layak mendapatkan penghormatan di dunia dan akhirat. Tetapi bagi yang tidak mampu mengatasi masalah ini maka mungkin suatu ketika dia akan berada pada posisi tertinggi. Bahkan paling tinggi. Tapi suatu saat pula dia akan jatuh ketempat yang paling rendah. Seperti ketika firaun, Qorun dan namrudz di diangkat oleh Allah pada derajat yang tinggi. Tapi karna keangkuhannya mereka akhirnya jatuh sejatuh- jatuhnya.  

Berbeda dengan kisah Raja Thalut. Pemimpin Bani Israil pada pertempuran melawan tentara Jalut. Raja Daud dan raja Sulaiman. Mereka juga mempunyai kedudukan yang tinggi. Selain mereka Raja dalam kehidupan dunia, mereka juga sebagai nabi.

Kemampuan mereka juga luar bisa. Sampai- sampai rakyat raja Sulaiman bukan hanya dari kalangan manusia. Tapi juga dari golongan jin, binatang dan bahkan angin. Tapi itulah rahasia mengapa Allah tetap menjaga dudukan mereka.

Sebabnya adalah mereka punya kesadaran terhadap pengabdian. mereka sadar bahwa semua ini adalah milik Tuhan. Dan mereka mengakui dengan mengatakan. Hadza min Fadli Robbi. Ini adalah karunia dari Robku. 

Jadi kalau kita ingin mengabadi dalam posisi yang terhormat dan mempunyai harga diri. Maka sering-seringlah mengakui pemberian Allah. Dengan begitu paling tidak kau akan menjadi orang terhormat walaupun tanpa posisi. Atau mempunyai harga diri walaupun tidak berharta. 

*)  Abdan Lillaahil Ahad alumni S1 Libya dan S2 Jordania,  saat ini menjadi ketua Yayasan Semesta Al Quran. Yang mengelola Pesantren Tahfidz Al Qur'an 30 juzz di Jakarta dan di Tanjungsari Bogor.