Home Edukasi ADA APA DENGAN REMAJA INDONESIA?

ADA APA DENGAN REMAJA INDONESIA?

83
0
SHARE
ADA APA DENGAN REMAJA INDONESIA?

Oleh: J. Faisal, M.Pd
Pemerhati Pendidikan/Mahasiswa Doktoral Sekolah Pascasarjana UIKA Bogor

Ada apa ya dengan remaja di Negara ini? Kenapa dari hari kehari  sepertinya semakin banyak saja berita nnegatif tentang remaja Indonesia. Contoh nyata yang terjadi baru-baru ini adalah  ada seorang siswi sMPN yang bunuh diri di sekolahnya. Ada juga siswi SMP yang dibunuh, dan mayatnya dibuang begitu saja di gorong-gorong di depan sekolahnya. Belum lagi tentang kelakuaan para remaja yang pesta seks di sebuah apartemen di Jakarta. Ada lagi, hanya karena motornya rusak, seorang siswa SMK bunuh diri di Surabaya, dan yang lainnya. Itu baru ‘kejadian’ yang terjadi  di kalangan usia SMP. 

Ternyata di kalangan siswa pendidikan tinggipun tidak ‘mau kalah’. Bulan ini saja, terjadi 5 kasus bunuh diri di kalangan mahasiswa di wilayah Jabodetabek. Sepertinya pesta seks, narkoba, pamer status, dan bunuh diri merupakan hal yang ‘biasa saja’ di kalangan remaja Indonesia, terutama bagi remaja-remaja yang tinggal di daerah perkotaan. 

Kasus-kasus yang melibatkan remaja sebagai pelaku penganiyaan, perkelahian, pencurian, perampokan, pembunuhan, pemerkosaan, dan lainnya seperti sudah menjadi konsumsi public yang disampaikan oleh media sehari-hari.  Sudah serapuh itukah mental anak dan remaja Indonesia? Apa yang salah dengan dunia remaja Indonesia? Apa yang salah juga dengan dunia pendidikan Indonesia, yang notabene memberikan pendidikan untuk para remaja ini? 

GAGALNYA PENANAMAN PENDIDIKAN KARAKTER 

Bukankah sudah 5 tahun terakhir ini, pemerintah telah membuat sebuah kebijakan pendidikan karakter untuk para peserta didik atau siswa Indonesia lewat kurikulum pendidikan nasioanal? Saya melihat kebijakan pendidikan karakter ini sangat banyak ketidakjelasannya daripada kejelasannya. Mengapa demikian? Karena sejak digulirkannya program  pendidikan karakter  untuk siswa Indonesia, tidak pernah ada tolak ukurnya tentang karakter siapa yang dapat dijadikan contoh? Kemudian karakter model apa yang dapat diterapkan yang sesuai dengan jiwa dan budaya siswa-siswa di Indonesia? Karena jika hanya mengambil contoh-contoh dari nilai-nilai kebaikan karakkter dari norma dan nilai yang berlaku umum, maka hal tersebut belumlah cukup. Dan karakter tidak bisa disaamakan maknanya dengan akhlak.  Karena di dalam agama Islam (agama yang secara mayoritas dianut oleh masyarakat Indonesia), arti karakter sangatlah jauh berbeda dengan arti akhlak.

S
ebagai contoh, menurut pandangan manusia barat, seorang ibu yang merawat anaknya dari hasil perzinahan, dapaat dikatakan bahwa ibu tersebut adalah seorang ibu yang berkarakter, karena dia mau merawat anaknya dengan baik, meskipun sebagai seorang pezina . Manusia barat tidak memandang bahwa perbuatan si ibu tersebut yang berzinah dengan laki-laki tanpa adanya ikatan pernikahan, bukanlah perbuatan buruk (baca: tidak berahlak), selama mereka tidak merugikan orang lain. 

Sementara di dalam Islam, zina merupakan sebuah dosa besar yang sangat dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya. Ini adalah merupakan perbuatan manusia yang tidak berahlak. Sedangkan Rasulullah SAW diutus oleh Allah SWT ke dunia untuk menyempurnakan Akhlak manusia,  bukan karakter manusia. 

Dan bukankah pemerintah juga telah mempunyai banyak komponen Negara, seperti Dinas Sosial, dan KPAI yang bertugas khusus untuk mengawasi dan melakukan pembinaan terhadap kehidupan anak dan remaja Indonesia? Lantas apa saja hasil kerja para komponen Negara yang terkait dengan pembinaan anak dan remaja Indonesia? Saya juga tidak tahu. 

Tetapi  pada kesempatan ini, saya enggan untuk mengomentari atau menulis tentang kegagalan kinerja  para komponen Negara ini. Karena berhasil atau gagal, toh mereka pasti sudah menerima gaji dan mereka juga pasti sudah merasa ‘bekerja’. Dan setiap ada kasus kejahatan atau perilaku negative dari para remaja, mereka pasti hanya akan mengatakan bahwa itu hanyalah sebuah kasus parsial biasa, atau hanya perbuatan oknum remaja atau oknum pelajar, dan tidak perlu dikhawatirkan. Padahal sebenarnya mereka tidak tahu solusinya. 

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN MENTAL REMAJA 

Pada kesempatan ini  saya akan mencoba untuk menuliskan tentang factor-faktor yang mempengaruhi  perkembangan mental remaja, dan juga beberapa solusinya agar hal-hal negative dan kejahatan usia remaja tidak selalu terulang kembali. Tetapi sebelumnya, mari kita samakan persepsi dahulu mmengenai batasan usia seorang remaja, dan bagaimana sebenarnya kondisi kejiwaan remaja di usianya tersebut. 

Ada baiknya kita menyimak pendapat Elizabeth Hurlock dalam buku Psikologi Perkembangan karya Elizabeth Hurlock – yang banyak dirujuk para psikolog dan sekolah di Indonesia . Menurut Elizabeth Hurlock,  awal masa remaja adalah sekitar usia 13-16 tahun. Sedangkan akhir masa remaja sekitar 16-18 tahun. Hurlock menyebut, masa remaja sebagai periode peralihan, usia bermasalah, masa mencari identitas, usia yang menimbulkan ketakutan, dan masa yang tidak realistis. 

Hurlock antara lain menulis juga bahwa dengan semakin mendekatnya usia kematangan yang sah, para remaja menjadi gelisah untuk meninggalkan stereotip belasan tahun dan untuk memberikan kesan bahwa mereka sudah hampir dewasa. Berpakaian dan bertindak seperti orang dewasa ternyata belumlah cukup. Oleh karena itu, remaja mulai memusatkan diri pada perilaku yang dihubungkan dengan status dewasa, yaitu merokok, minum minuman keras, menggunakan obat-obatan (terlarang), dan terlibat dalam perbuatan seks. Mereka menganggap bahwa perilaku ini akan memberikan citra yang mereka inginkan. 

Berdasarkan pendapat Hurlock ini, maka jelaslah bagaimana gamangnya mental remaja di masa usia pertumbuhannya. Pada masa ini, seorang remaja akan sangat mudah terpengaruh untuk mengikuti seseorang yang dianggap berpengaruh baagi jiwanya. Keberpengaruhan tersebut di dadapatkan karena orang tersebut dianggap mampu dan paham akan keinginan, ketakutan, dan kesenangan remaja tersebut.  

Faktor Orangtua dan Keluarga 


Tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan mental seseorang dalam pertumbuhannya sangat ditentukan oleh peran orangtua dan keluarga dalam membimbingnya. Anak atau remaja yang dihasilkan dari sebuah keluarga yang sehat, baim jasmani atau rohaninya, maka dia akan tumbuh menjadi seorang remaja dan dewasa yang sehat pula. Sebaliknya, jika anak atau remaja yang tumbuh di dalam keluarga yang penuh dengan konflik negative, maka tidak akan aneh jika anak atau remaja tersebut akan tumbuh dengan kondisi mental yang buruk karena berasal dari pengaruh konflik keluarganya. 

Mengapa demikian besar pengaruhnya keluarga bagi perkeembangan mental remaja? Hal ini dikarenakan hamper 2/3 waktu kesehariannya, mereka habiskan di rumah. Sehingga interaksi  antar anggota keluarga semestinya terjalin dengan erat. Dengan demikian pengaruh yang kuat dari orangtua dan lingkungan keluarganya dapat menjadi penentu factor yang utama bagi perkembangan mental seorang remaja. 

Dalam kasus bunuh diiri yang disebutkan di awal, misalnya. Sebetulnya  bunuh diri ini bisa dikatakan sebagai kondisi puncak dari depresi. Dimana walnya  berasal dari gangguan kecemasan yang tidak teratasi, akhirnya berkembang menjadi depresi. Seandainya sejak fase gangguan kecemasan itu sudah dapat terdeteksi, seharusnya tidak sampai jadi depresi. Gangguan kecemasan yang biasanya diawali dengan mood swing, sebenarnya bisa dideteksi lebih awal, jadi sebaiknya remaja itu dibiasakan untuk terbuka dan memahami apa yang sebenarnya ia rasakan, dan didorong untuk menceritakan serta berbicara tentang apa yang ia rasakan, apa yang ia takutkan, dan apa yang ia khawatirkan. Kemudian harus juga mengenal dirinya sendiri, juga menyadari tentang apa  yang sedang terjadi pada dirinya, sehingga ia tidak kaget dan sampai melahirkan depresi yang pada akhirnya menyebabkan bunuh diri, dan kejahatan-kejahatan lainnya. 

Disinilah peran strategis orangtua dalam mmembimbing anak remajanya menjadi remaja yang berkualitas. Orangtua harus mampu menjadi seorang panutan, seorang teman, sekaligus seorang guru bagi anak remajanya. Sehingga dia tidak akan mencari panutan lain yang tidak jelas di luar keluarganya. Keteladanan yang baik dan konsisten, pengenalan dan pengamalan terhadap agama, pelaksanaan aturan berupa punishment and reward yang reasonable merupakan langkah-langkah yang strategis dalam menguatkan mental remaja, sehingga mereka tidak melakukan kegiatan-kegiatan yang condong menjadi kegiatan criminal atau kejahatan. 

Orangtua harus mampu untuk memahami dan mengerti apa kecemasan, ketakutan, keinginan anak-anaknya yang sudah mulai menginjak masa remaja. Karena begitu limbungnya mental mereka di usia mereka, jika mereka tidak dibekali dengan  pengetahuan tentang agama, tentang adab, dan tentang nilai dan norma-norma kehidupan oleh  orangtuanya. 

Prof. Dr. Ahmad Tafsir, seorang ahli pendidikan Islam, telah berpesan kepada kita semua selaku orangtua, bahwa untuk mendidik anak-anak kita,di dalam keluarga, harus dilakukan dengan 3 cara, yaitu: pertama, adanya keteladanan yang baik dari orangtua itu sendiri. Kedua, adanya pembiasaan belajar yang dilakukan oleh anak-anak remaja kita dengan bimbingan yang terus menerus sampai anak kita dewasa. Ketiga, penegakkan aturan dalam kehidupan sehari-hari untuk melatih sikap displin anak-anak remaja kita.    

Faktor Pendidikan Sekolah 


Meskipun para remaja usia sekolah tidak menghabiskan waktu sebanyak di rumah dan keluarga mereka, tetapi waktu mereka untuk menimba ilmu sekolah juga merupakan salahsatu factor penting yang mempengaruhi perkembangan mental para remaja. 

Dalam hal ini, guru di sekolah memegang peranan yang penting dalam memantau perkembangan mental mereka. Guru dituntut  untuk mampu mengenali dan memahami, serta bisa mengarahkan apa minat, bakat, dan kemampuan mereka sehingga bisa disalurkan untuk hal-hal yang kreatif dan edukatif. 

Memang sulit untuk memantau anak didik mereka satu per satu, namun secara umum para guru harus mampu menanamkan nilai-nilai dan norma-norma akhlak yang baik kepada anak didik mereka yang berusia remaja. 

Banyak remaja yang lebih membuka diri dan pikiraan mereka kepada guru-guru mereka di sekolah daripada kepada orangtua mereka di rumah. Ini dikarenakan mereka menemukan kenyamanan dan ketenangan ketika mereka sedang berinteraksi dengan guru-guru mereka.

D
isinilah kesempatan para guru untuk memasukkan pengaruh-pengaruh baik mereka dan pelajaran-pelajaran nilai akhlak kepada para remaja atau anak didik mereka tersebut. Dengan demikian, semakin kuat pengaruh baaik yang di dapat oleh para remaja, baik di rumah maupun di sekolah, maka akaan semakin kuat pula perkembangan positif mental mereka, sehingga mereka dapat menyalurkan segala energy positif mereka untuk melakukan hal-hal yang baik pula. 

Untuk menghadapi remaja atau anak didik usia rema yang bermasalah, maka guru harus bekerjasama dengan orangtua, para ustadz (guru agama), dan pihak terkait lainnya agar terjadi kesamaan visi dalam menanggulangi masalah yang ada pada diri remaja  tersebut. Jika remaja bermaasalah dibiarkan, maka cepat atau lambat akan terjadi ‘bom waktu’ yang akan bisa meledak tiba-tiba. Artinya, ketika luapan emosi seorang remaja tidak terkendalikan maka dengan mudah dia akan melakukan tindakan criminal yang dapat membahayakan dirinya, keluarganya, dan lingkungannya. 

Faktor Lingkungan Luar dan Teknologi 


Tidaklah dapat dipungkiri bahwa pada zaman dimaana teknologi yang sudah sangat canggih ini, banyak arus informasi yang datang dengan sangat cepat dan tidak dapat dicegah oleh siapapun. Banyak para ahli psikologi yang menyatakan bahwa di saat ini adalah saat yang sangat berbahaya begi remaja, dikarenakan mental mereka yang belum kuat, maka mereka akan dengan sangat mudah terbawa dan terpancing dengan segala macam informasi, yang kemudian mencoba mengaplikasikannya dalam kehiddupan mereka. Celakanya, lebih banyak aplikasi yang buruk yang dilakukan oleh remaja dibandingkan aplikasi atau kegunaan informasi tersebut untuk kebaikan. 

Sri Maslihah, seorang Psikolog klinis dan juga Dosen di Universitas Pendidikan Indonesia berpendapat bahwa  dalam hal perkembangan mental remaja ini, kita tidak bisa melepaskannya dari konteks perkembangan lingkungan, termasuk bagaimana pesatnya informasi media massa maupun informasi di media social lainnya. Jadi mungkin ini barangkali yang membuat sebagian dari remaja itu tidak kuat dengan apa yang terjadi karena begitu cepatnya perkembangan dan perubahan di lingkungan sosialnya. Jadi faktornya adalah ketidaksiapan atas perubahan yang didasari oleh internal remaja itu sendiri. 

Saat ini, jika para remaja ingin mendapatkan informasi yang detail terhadap sesuatu, mereka tinggal klik Google. Kebiasaan ini mereka lakukan termasuk dalam hal mendukung sesuatu atau menyangkalnya. Sehingga wajar apabila remaja sekarang tidak begitu saja menerima sesuatu secara mentah-mentah, mereka melakukan research untuk mengumpulkaan informasi, dan siap berargumentasi dengan bekal informasi yang sudah didapat. 

Menurut Diah Ningrum, seorang praktisi Talents Mapping Indonesia dan penulis buku Always Online, sebagai remaja yang terlahir di dunia modern, yang cenderung serba instan, perilaku dan pikiran remaja kita saat ini juga sekarang cenderung praktis dalam menghadapi segala permasalahan. Mereka tidak menyukai proses yang panjang dalam mencermati suatu masalah. Sehingga di dalam menghadapi permasalahan seringkali mereka dianggap tidak tangguh oleh orangtuanya, seakaan mereka hanya ingin nyaman dan mudahnya saja. Remaja sekarang cenderung berfikiran praktis dan pragmatis. Ini diperparah dengan kondisi remaja pada umumnya yang belum matang dalam berfikir dan kemampuan otaknya yang belum berkembang dalam mengendalikan peringatan bahaya, serta tidak diimbangi dengan kemampuan otak untuk meregulasi emosi, yang menyebabkan remaja salah mengambil keputusan dalam bertindak. Tanpa berfikir secara matang mengenai dampak dan resiko yang akan terjadi di masa depan. 

SOLUSI MENINGKATKAN PERKEMBANGAN MENTAL REMAJA 

Allah SWT telah berfirman di dalam Al Qur’an surah At Tahrim, ayat 6, yang artinya:

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allâh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.[at-Tahrîm/66:6] 

Dengan demikianlah jelaslah solusi yang diberikan oleh Allah SWT, untuk para orangtua yang mempunyai kewajiban untuk mendidik para remaja sebagai anak-anaknya agar menjadi remaja yang berkualitas. 

 Dalam hal ini, orangtua juga berkewajiban  untuk menambah ilmu mereka tentang bagaimana memahami perkembangan mental anak, remaja, maupun orang dewasa sehingga para orangtua lebih paham tentang fase-fase  perkembangan mental anak-anaknya. 

Menurut Sri Maslihah,  para remaja ini harus didorong untuk memenuhi tugas-tugas perkembangannya, misalnya saat mulai mengenal identitas diri, mereka sudah harus mulai mempersiapkan diri untuk masa dewasa dan bekerja, artinya berorientasi pada masa depan untuk menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab. 

Apabila hal-hal tersebut dilakukan, maka para remaja akan banyak disibukkan dengan tugas-tugas perkembangan, dalam arti lain menyibukkan diri dengan tugas-tugas sesuai dengan usia perkembangannya. Bisa dengan mencari peer group yang positif, yang baik untuk perkembangan, dan apabila itu semua dilakukan maka tidak akan ada waktu bagi para remaja untuk murung, galau, menutup diri, yang biasanya menjadi awal gangguan mental ringan. 

Dengan berawal dari peduli terhadap diri mereka sendiri, maka diharapkan para remaja dapat  memenuhi setiap tugas perkembangan menurut usia dan kemampuannya masing-masing, sehingga para remaja akan mampu menjaga kesehatan mental mereka sendiri. 

Wallahu’alam bissowab