Home Polkam ADA APA DENGAN KOTAK KOSONG ??

ADA APA DENGAN KOTAK KOSONG ??

#Pilkada #Pilkada2020 #KotakKosong

99
0
SHARE
ADA APA DENGAN KOTAK KOSONG ??

Oleh : Ratman Aspari
Jurnalis & Pendiri Rumah Baca Asah Asih Asuh

RENCANA - Pelaksanaan pilkada akan digelar sekitar Desember 2020, meskipun ditengah Pandemi Covid-19, suruh #DirumahSaja #JagaJarak #JanganBerkerumun #CuciTangan #BelajarDirumah #IbadahDirumah, namun pelaksanaan pilkada seolah tidak bisa ditunda, jalan terus…..

Dengan berbagai macam alasan dan argumentasi, ada yang bilang tidak akan terjadi lonjakan kasus Covid-19 asal diawasi penerapan protokol kesehatan dengan benar, yang lain menimpalinya, ini untuk keberlangsungan tata kelola pemerintahan, yang satu lagi nyeletuk, justru dengan pilkada, akan, ini, akan itu,..bla, bla, bla,…dan berbagai macam komentar,. 

Menurut data dan sumber berbagai berita di media, ada sekitar 270 daerah yang akan melaksanakan pilkada di tengah pandemi Covid-19 pada tahun 2020 ini, sebanyak 9 daerah untuk tingkat provinsi dan 224 untuk tingkat kabupaten serta 37 untuk tingkat kota, ..woow..

Menariknya lagi dari jumlah tersebut diatas, terdapat 21 daerah dengan pasangan calon tunggal, yang akan melawan “KOTAK KOSONG”, …Kok, Bisa…!!! 

Beberapa daerah dengan pasangan calon tunggal dan akan melawan “KOTAK KOSONG”, diantaranya ; Kota Solo, Kota Semarang, Kabupaten Kebumen, Blitar, Banyuwangi, Goa, Soppeng, Pematang Siantar, Balikpapan, Gunung Sitoli, Ogan Komilir Ulu Selatan, Ngawi, Wonogiri, dll. 

Munculnya pasangan calon tunggal dalam pilkada mendatang, apakah otomatis dan sudah bisa dipastikan akan melenggang dengan mudah meraih singgasana, kursi kepemimpinan di daerah tersebut, ..…husstt, belum tentu, …, jangan terburu-buru, bikin riang gembira.. 

Paslon tunggal di daerah yang akan melawan “KOTAK KOSONG” justru harus super dan ekstra hati-hati, tidak bisa serta merta terus mematok, sekian puluh persen kemenangan sudah ditangan. Ingat rakyat semakin cerdas, dan media informasi begitu pesat menyelusup keruang-ruang publik, yang terus mengedukasi warga masyarakat, …ahhh, buslit semua, itu….!!! 

“Warga masyarakat kita, kan mudah dipengarhui dengan berbagai janji-janji, bersifatt partisan, terkadang transaksional dalam berdemokrasi”,  kata seorang kawan membatah argumentasi diatas. 

Tetapi terlepas dari itu semua, juga harus di-lihat faktor sampai munculnya, “KOTAK KOSONG” di daerah tersebut, tidak serta merta munculnya “KOTAK KOSONG” itu karena tidak ada sosok calon pemimpin yang ‘mumpuni’ didaerah tersebut, tetapi lebih karena peluang kandidat dan sosok yang ‘mumpuni’ tersebut terhalang oleh gaya, sistem dan tradisi berdemokrasi selama ini yang kurang .. ‘sreg’… 

Apakah karena kurangnya sosialisasi dari pihak penyelenggara pilkada, apakah karena ada rasa kurang minat ditengah-tengah masyarakat kita saat ini untuk terlibat dalam pilkada, karena banyaknya kasus-kasus kepala daerah yang terjerat kasus hukum, sehingga pilkada tidak menjadi hal yang diminati lagi oleh sebagian  orang untuk maju sebagai calon pipinan maupun wakil pimpinan di daerah tersebut. 

Disisi lain, mungkin adanya partai politik sebagai instrument politik yang tidak memiliki cukup dana operasional untuk mendukung calon yang akan diusung partai, sehingga cari amannya saja, tidak mau babak belur ambil risiko…ahhh, apa, iya… 

Dan, kata seorang kawan, ada faktor lain yang tidak bisa dianggap enteng, yaitu, adanya oligarki dari kekuasaan dan keluarga penguasa yang menguasai parpol, sehingga munculnya calon-calon independent tanpa lewat jalur partai rasanya sulit karena terbentur oleh berbagai faktor dan persayaratan dan aturan yang sulit.  

Dibeberapa daerah, masih ada pandangan bahwa petahana yang ada, masih dianggap layak untuk meneruskan kepemimpinannya kedepan. Sehingga calon penatang yang akan maju harus berpikir ulang, daripada babak belur, tanpa hasil. 

Adanya calon tunggal dalam pilkada ditengah pandemi Covid-19 2020 ini juga tidak lepas dari adanya syarat ambang batas dua puluh persen dalam undang-undang pilkada. Dengan demikian menutup calon-calon yang dianggap ‘mumpuni’ untuk bisa berlaga, karena tidak punya kendaraan ‘partai’ yang megusungnya. 

“Pasal 40 ayat (1) menyebutkan, partai politik atau gabungan partai politik dapat mendaftarkan calon jika telah memenuhi persyaratan perolehan paling sedikit dua puluh persen dari jumlah kursi DPRD, atau dua puluh lima persen dari akumulasi perolehan suara sah, dalam pemilihan umum anggota DPRD daerah yang bersangkutan.” 

Dengan demikian, “Surat Rekomendasi (Rekom)” dari parpol menjadi begitu “sakti” bagi sesorang yang akan maju sebagai kandidat calon/wakil kepala daerah dalam pilkada. Tidak lagi penting kepada siapa ‘Rekom’ itu akan diberikan, terlepas itu ‘kader sendiri’ atau ‘bukan kader’. Persoalanya, bagaimana mesin politik bisa berjalan, sehingga dilapangan kita sering menyaksikan, antara keinginan elit parpol dan akar rumput anggota parpol untuk pencalonan seseorang terjadi beda pandangan. 

Fenomena munculnya “KOTAK KOSONG” dalam pilkada ditengah pandemi COvid-19 ini menjadi unik dan menarik, banyak penggiat, pengamat dan peneliti kajian-kajian poltik, untuk terus meneropong kehadiran “KOTAK KOSONG” ini. Riak-riak apa saja yang akan dihadapi suatu daerah ketika muncul Paslon Tunggal melawan “KOTAK KOSONG”. 

Bagi sebagian mungkin kehadiran “KOTAK KOSONG” sebagai bentuk perlawanan kepada sistem, gaya demokrasi dan oligarki politik yang ada saat ini. “KOTAK KOSONG” sebagai simbol untuk membongkar kebobrokan demokrasi kita yang ada saat ini, meminjam istilah “Rizal Ramli’ adalah ‘demokrasi ugal-ugalan, demokrasi kriminal’, sehingga ambang batas dua puluh persen, yang menjadi ganjalan bagi siapapun untuk bisa berkompetisi dalam pilkada perlu dihilangkan, dan saat ini sedang digugat ke MK. 

“KOTAK KOSONG”, adalah wajah demokrasi kita saat ini, dan inspirasi perlawanan untuk mengembalikan wajah demokrasi yang sesuai dengan keinginan luhur para pendiri bangsa dan keinginan seluruh warga anak bangsa. 

Persoalanya, adalah ketika “KOTAK KOSONG” ternyata mampu memenangkan dalam pilkada disuatu daerah, apa selanjutnya yang akan terjadi di daerah tersebut, dan siapa yang akan duduk menjadi pemimpin di daerah tersebut….. ???