Hukrim

Pakar Hukum Unpad Dr. Somawijaya

Yurisprudensi Bisa Jadi Acuan Dikabulkannya PK

Administrator | Selasa, 05 November 2019 - 08:30:58 WIB | dibaca: 66 pembaca

Dr Somawijaya

JAKARTA (Parahyangan-Post.com) - Kasus suap yang menjerat mantan Panitera Jakarta Utara Rohadi dalam penanganan perkara pedangdut Saipul Jamil saat ini tengah direspon oleh pakar hukum Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung, Dr. Somawijaya, SH, MH.

Somawijaya menjelaskan bahwa permohonan Peninjauan Kembali (PK) bisa diajukan oleh terpidana jika memiliki novum baru dan fakta-fakta yang bisa ditunjukkan untuk membuktikan adanya kekeliruan dalam putusan Hakim pada sebuah peradilan.

“tentu saja (bisa), selama ada novum baru dan fakta-fakta yang menunjukkan bahwa para hakim pada peradilan sebelumnya telah keliru menerapkan hukum dalam kasus itu,” jelas Somawijaya.

Menanggapi proses permohonan PK yang diajukan sendiri oleh Rohadi, Kepala Departemen Hukum Pidana Fakultas Hukum Unpad Bandung ini menyatakan bahwa peluang itu bisa dimanfaatkan Rohadi dalam mencari keadilan untuk dirinya.

“Peluang Rohadi untuk mendapatkan keadilan dalam proses PK, itu tentu saja,” ujarnya.

Lanjut, somawijaya menjelaskan. Apalagi jika dilihat dari konstruksi hukumnya secara keseluruhan, dimana kualitas terpidana Rohadi sebagai penghubung hakim yang memutuskan perkara dari pengacara Saiful Jamil.

“Artinya Rohadi tidak punya wewenang untuk memutuskan berat ringannya hukuman terhadap Saipul Jamil, sehingga kurang pas jika dijerat dengan UU Tipikor Pasal 12 huruf a,” tukasnya.

Somawijaya memandang, kemungkinan ada sebuah kekeliruan hakim dalam menetapkan putusan hukum yang dijatuhkan kepada seorang penghubung yang bukan pengambil keputusan.

“Kalau faktanya bahwa Rohadi hanya sebagai penghubung, yang tidak punya wewenang dalam memutuskan berat ringannya hukuman seorang terdakwa, sesuai ketentuan UU Tipikor Pasal 12 huruf a, tentu telah terjadi kekeliruan dalam penerapan hukum,”tukasnya.

Sementara itu, terkait adanya kasus serupa dalam kasus suap yang menjerat para penghubung perkara, salah satunya seperti kasus mantan Panitera Jakarta Selatan Tarmizi yang juga dijerat Pasal 12 huruf a UU Tipikor lalu setelah Pknya disetujui maka diadili kembali dan dijerat dengan Pasal 11 UU Tipikor, maka kata Somawijaya, hal itu bisa digunakan untuk memperkuat bukti-bukti bahwa penerapan Pasal 12 huruf a UU Tipikor tidak tepat digunakan dalam kasus penghubung seperti yang menimpa Rohadi  “tentu bisa diajukan sebagai bukti tambahan,” pungkasnya.

Menurut Somawijaya, kendati Rohadi terkena Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK, namun keadilan harus bisa ditegakkan. 

“Jika dilihat dari informasi yang diberikan, semua fakta dan bukti hukum yang ada seharusnya diperhitungkan dengan cemat, dan jika ternyata ada fakta dan bukti yang tidak diperhitungkan, itu berarti sistem keadilan tidak diperhitungkan,” tegas pakar hukum pidana Unpad ini.

Terkait permohonan PK itu, Somawijaya menyarankan Rohadi untuk meminta pendapat para ahli hukum yang bisa mengulas permasalahan hukum tersebut secara objektif sesuai dengand asar keilmuan yang dimilikinya yang bisa membuka mata hakim pada persidangan PK nantinya.

Sementara itu, Rohadi sendiri saat dikonfirmasi awak media di Lapas Suka Miskin Bandung mengaku pasrah akan menjalani semua hukuman yang menjerat dirinya kendati selama ini merasa sudah ditumbalkan oleh oknum-oknum dalam peradilan. Dia tidak ingin mempersalahkan pihak manapun, tetapi ingin keadilan bisa ditegakkan seadil-adilnya.

“Saya sudah pasrah, biarlah saya menjalani masa dan ujian ini. Tetapi saya hanyalah pihak penghubung bukan pengabil keputusan, seharusnya bisa dikurangi masa hukumannya dan tidak dikenakan Pasal 12a,” jelasnya.

Rohadi mengaku akan menjalani semua keputusan dan berharap para Hakim bisa melihat fakta hukum dan bukti-bukti baru yang diajukannya dalam permohonan PK.

“Saya tahu banyak hakim-hakim yang baik dan profesional serta peka dalam mengambil keputusan. Karena saya ada dilingkungan mereka, semoga harapan saya bisa dikabulkan secepatnya, Aamiin,” tegas Rohadi. (Red)










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)