Seni Budaya

Pengembangan Budaya

UHAMKA Buka Pusat Studi Budaya Betawi

Administrator | Minggu, 17 November 2019 - 05:07:38 WIB | dibaca: 168 pembaca

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan foto bersama dengan jajaran teras Uhamka usai meresmikan Pusat Studi Budaya Betawi di Aula Ahmad Dahlan, kampus Fisip, jl. Tanah Merdeka, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Sabtu 16/11. (foto aboe)

Jakarta, parahyangan-post.com-Universitas Muhammadiyah Prof.Dr. Hamka (UHAMKA) membuka pusat studi budaya Betawi. Peresmiannya dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan di kampus Fisip Jl Tanah Merdeka, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Sabtu 16/11.

Selain Anies juga hadir  sejumlah pimpinan Uhamka dan pimpinan Muhammadiyah, diantaranya, Rektor Prof. Dr. Gunawan Suryo Putro M. Hum dan Ketua Perwakilan Wilayah Muhammadiyah DKI KH Sun’an Miskan.

Acara juga diisi dengan dialog kebudayaan Betawi yang menampilkan Yoyo Mukhtar dan budayawan Prof. Dr. Agus Suradika M.Pd.

Apresiasi

Dalam sambutan yang dikemas dalam bentuk Pidato Kebudayaan, Anies mengatakan sangat mengapresiasi langkah konkrit yang diambil oleh pengelola kampus. Uhamka, menurut Anies,  jeli melihat tantangan, peluang serta pengembangan kebudayaan Betawi ke depan. Ia berharap, setelah diresmikan, pusat studi budaya Betawi  ini tidak menjadi ‘tempat  pelestarian budaya melainkan sebagai tempat inovasi budaya’.

“Kalau tujuannya untuk melestarikan budaya bikin museum saja,” papar Anies dalam pidato Kebudayaannya itu.

Dikatakan Anies, sangat berbeda pengertiannya antara  pelestarian budaya dengan  pengembangan budaya.

“Saya sering ‘miris’ mendengar kata-kata pelestarian yang sering digelorakan oleh tokoh-tokoh /budayawan  karena kalau dilestarikan,  budaya itu tidak akan berkembang, bahkan cenderung mati. Sementara kalau dikembangkan, maka budaya itu akan kuat,” tambah Anies.

Sebagai contoh, lanjut Anies, dalam hal pakaian batik. Batik pada awalnya hanya untuk pakaian perempuan, sementara yang laki-laki selalu polos. Kemudian ada orang yang melanggar pakem tersebut. Awalnya orang yang melanggar pakem itu dicemooh bahkan dibungkam karena merusak kesucian leluhur. Tetapi apa yang terjadi kemudian? Batik menjadi trend bahkan menjadi busana kebanggaan bangsa Indonesia dan diakui dunia sebagai warisan leluhurnya.

“Jadi budaya yang kuat itu dinamis, jangan takut melakukan inovasi. Kalau takut melakukan inovasi maka budaya itu akan mati,” paparnya.

Dikatakan Anies, kampus memang tempat munculnya ide ide baru. Pusat studi budaya Betawi, yang didirikan Uhamka, harus  secara serius melihat perjalanan masyarakat Betawi dalam rentang waktu yang panjang.

“Betawi ini unik. Hampir 100% beragama Islam. Agak sulit membedakan mana yang budaya sebagai sebuah kebiasan, mana yang agama sebagai tuntutan moral. Karena adat dan budaya jadi senyawa. Tidak bisa dipisahkan,” paparnya.

Lebih jauh Anies menjelaskan, perjalanan budaya Betawi berbeda dengan perjalanan budaya  dan sejarah kota-kota besar lainnya di Indonesia. Termasuk juga dengan semangat perlawanannya terhadap penjajah Belanda. Semangat perlawanan masyarakat Betawi terhadap penjajah terasa sangat dekat sekali dengan rakyatnya. Seperti ada didepan mata. Karena rakyat kota lah yang merasakannya. Sementara di daerah-daerah lain, rakyat kotanya tidak terlalu merasakan penderitaan karena dilindungi oleh pemimpinnya. Yang menderita adalah rakyat di perdesaannya.

“Kita bisa merasakan betapa menggeloranya  semangat perjuangan masyarakat Betawi ketika sendratari Si Pitung dipentaskan. Terasa dekat dengan kehidupan kita. Karena proses itu memang berada di tengah-tengah kita, berada di depan mata kita. Perlawanan
Si Pitung seolah-olah dapat kita rasakan juga sekarang, karena masyarakat Betawi sekarang juga dalam kondisi terancam, tergusur dan terpinggirkan,” papar Anies.

Uniknya, lanjut Anies, masyarakat Betawi hampir 100% beragama Islam, tetapi mereka tidak mempunyai masjid yang besar dan lapangan yang luas, tidak mempunyai pesantren yang besar dengan santri yang ribuan sebagai pusat pengembangan dakwah.

Berbeda dengan kota-kota lain di Indonesia, mereka mempunyai masjid besar dan luas, mempunyai pesantren yang besar dengan santri yang sangat banyak sebagai pusat dakwah Islamiyah.

“Tetapi meskipun demikian tokoh-tokoh agamanya sangat dekat di masyarakat, disegani dan dihormati,” puji Anies.

Sedangkan masjid Istiqlal yang besar dan megah, lanjut Anies,  baru dibangun setelah Indonesia merdeka. Sebelum itu tidak ada masjid dan lapangan yang luas sebagai pusat pengembangan agama dan dakwah, padahal masyarakatnya hampir 100% Muslim.

“Ulama-ulama Betawi berdakwah secara keliling, dari satu tempat ke tempat lain. Jadi tidak terpusat seperti di Jawa dan daerah-daerah lainnya di Indonesia, makanya dia disegani, dijadikan panutan,” tambah Anies.

Sementara itu Ketua PWM  DKI Sun'an Miskan mengatakan, pembukaan studi kebudayaan Betawi di Uhamka ini bertepatan dengan  Milad Muhammadiyah ke 107. Ia berharap, dengan dibukanya pusat studi Betawi  dapat mengangkat budaya betawi ke tingkat nasional dan internasional.

Miskan menganalogikan masyarakat Betawi sebagai kaum Ansar di zaman Rasulullah yang menerima dengan tangan terbuka kaum muhajirin.

“Kaum Ansar Madinah sangat terbuka menerima kaum Muhajirin Mekkah. Mereka cepat berbaur dan menjadi satu kekuatan yang besar dan pengembangan dakwah Islam. Masyarakat Betawi juga demikian. Mereka sangat terbuka bahkan semakin lama-semakin terpinggirkan,” tuturnya.

Acara juga dimeriahkan dengan penampilan drama (sendra tari) Si Pitung oleh mahasiswa Seni Tari Uhamka , penampilan palang pintu, hadrah dan gambang kromong.

Pusat Studi Kebudayaan Betawi Uhamka ini akan dipimpin oleh Dr. Edi Sukardi M.Pd. Menurut Edi tahap awal yang akan dilakukan olehnya akan menginventarisasi semua permasalahan yang ada.

“Kita juga akan mengajak pihak-pihak lain, komunitas-komunitas Betawi lainnya, termasuk pers untuk mengembangan kebudayaan Betawi ini,” tutur Edi kepada parahyangan-post.com, usai acara.*** (aboe)










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)