Profil

Tukang Ojek Jadi Kepala BNN

Administrator | Rabu, 30 September 2015 - 22:59:24 WIB | dibaca: 1697 pembaca

Budi Waseso (sumber foto : HumasBNN)

Jika  tukang bubur naik haji itu terjadi dalam film layar kaca, maka tukang ojek jadi jenderal bintang tiga itu nyata adanya. Sang jenderal kini mengomandani sebuah lembaga besar yang membidangi masalah penanggulangan narkotika atau yang dikenal Badan Narkotika Nasional. Dialah Budi Waseso, salah seorang putra terbaik bangsa yang terbiasa ditempa dengan kerja keras dan nilai kejujuran.

Perjalanan Hidup memang selalu menyuguhkan drama dan juga misteri, dan ini pasti dialami oleh semua insan di bumi. Seorang Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Budi Waseso, juga mengalami drama-drama hidup yang dulu mungkin bisa menguras peluh dan air mata, namun sekarang jadi kenangan indah yang bisa mengundang derai tawa bahagia.

Pejuang Tangguh Tak Kenal Gengsi

Inilah fakta, Budi Waseso, seorang jenderal bintang tiga yang pernah menjadikan vespa sebagai salah satu sumber pendapatan. Saat dirinya sudah menjadi perwira polisi, Budi Waseso pernah menjadi pilot motor alias ojek tanpa kenal gengsi. Semua dijalani karena terdorong untuk menopang berbagai kebutuhan.

Bagi Budi, Vespa tahun tujuh puluhan ini menjadi salah satu saksi bisu betapa ia harus berjuang menguras peluh agar kebutuhan hidup dapat diatasi tanpa banyak keluh. Ia mengojek selepas tugas yang mana pada waktu itu ia berdinas di Direktorat Pendidikan Polri.

Tak banyak pundi-pundi yang diraih tapi cukup membantu menopang biaya hidupnya. Menurut ingatannya, pada saat itu dirinya bisa mendapatkan uang Rp 2 ribu dalam satu hari. Uang tersebut ia gunakan untuk kebutuhan makan siang dan bahan bakar untuk kebutuhan dinas. Saat itu, ia harus mengajar dari satu tempat ke tempat lainnya dan lumayan menguras tenaga dan biaya bahan bakar, karena itulah ia mencari penghasilan tambahan.

Rupanya bukan hanya jadi pilot motor yang ia lakukan. Dirinya juga sempat menjadi pengemudi taksi. Pada saat itu, taksi hanya beroperasi hingga jam delapan malam. Ia melihat ruang kesempatan untuk mencari pendapatan tambahan.

Tanamkan Kejujuran dan Tanggung Jawab

Bicara soal kejujuran, Buwas selalu menanamkan nilai kejujuran dan tanggung jawab pada seluruh jajarannya di manapun ia mengemban tugas. Ia mencontohkan dirinya yang tak malu untuk menjadi ojek dan juga menjadi sopir taksi tembak.

Karena itulah, ketika disinggung mengenai adanya oknum aparat yang melindungi bisnis narkoba, ia dengan tegas mengatakan siapapun oknum yang berada di balik kejahatan narkoba harus ditindak dengan tegas. Jika dibiarkan maka peredaran narkoba bisa leluasa dijalankan.

Bertindak Tanpa Pesanan dan Tekanan

Dalam setiap tugas yang diemban, Buwas juga dikenal tak pernah melakukan tindakan yang didasari pesanan atau tekanan. Semua yang dilakukan murni karena komitmen untuk menegakkan hukum. Perlu digarisbawahi, penegakkan hukum itu tak boleh tebang pilih alias pilih-pilih.

Efektifkan Aturan

Terkait implementasi Undang-Undang Narkotika, ia memiliki tekad untuk melakukan evaluasi untuk menghitung kebijakan mana yang efektif mana yang tidak. Ia selalu mempertimbangkan, bahwa penegakkan hukum itu bisa membuat efek jera dan bisa merubah perilaku menjadi lebih baik.  

“Semua hal harus dievaluasi agar langkah-langkah ke depan itu tepat. Jangan sampai ada aturan yang disalahgunakan. Jangan sampai ada bandar yang merangkap pengguna, nantinya berlindung seolah-olah di itu korban sehingga dapat rehabilitasi”, begitulah pernyataan Buwas di salah satu acara televisi baru-baru ini.

Menghargai Perjuangan Sang Ibunda

Di balik kegarangan seorang Budi Waseso, terdapat sosok penyayang terutama pada sang ibunda tercinta. Ia mengingat betul, bagaimana perjuangan yang dilakukan oleh seorang ibu untuk membesarkan ketujuh buah hatinya.

Saat kecil, ia bersama dengan enam saudara kandung lainnya sering ditinggal sang ayah karena tugas di militer. Saat itulah ibu berperan besar dalam membina dan mendidik anak. Tugas ibu untuk mendidik anak memang termasuk tugas yang tidak mudah. Enam diantaranya adalah anak laki-laki dan semuanya nakal.

Kisah Tiga Tusuk Sate

Satu kenangan yang tak pernah terlupakan, ketika Buwas dan saudara kandungnya menyampaikan keinginan pada sang ibu untuk mencicipi sate. Karena saat itu tidak ada uang, sang ibu terpaksa menjual baju seragam cadangan tentara milik sang ayah untuk dibelikan tiga tusuk sate. Sang ibu berusaha untuk membaginya dengan adil. Dari tiga tusuk sate yang hanya terdiri dari beberapa butir daging harus dibagi untuk ketujuh anaknya. Sungguh pengorbanan di tengah keprihatinan tetapi sang ibu selalu berusaha sebisa mungkin memenuhi kebutuhan putera puterinya. Maka tak heran Budi meneteskan air mata, ketika ia mengenang masa kecilnya bersama orang tua dan saudara. 










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)