Seni Budaya

Aisul Yanto, Pelukis

Terinspirasi Ragam Seni Batik Pada Era Majapahit

Administrator | Kamis, 28 November 2013 - 02:20:57 WIB | dibaca: 7939 pembaca

Aisul Yanto, Energy Poetry Visual Art Exposition (Foto : ratman/pp)

TITIK-TITIK -  Hitam putih dalam lukisan karya Aisul Yanto, bila diamati di dalamnya ada energy spiritual, gerak yang konstan serta dinamis, analog dari energy yang ada di jagad mikro dan makro kosmos.

 

Pada pameran tunggal yang digelar di Cipta III Pusat Kesenian Jakarta, Taman Ismail Marzuki (TM), Jakarta dari tanggal 20 – 28 November 2013,  Pelukis Aisul Yanto, menghadirkan sedikitnya 21 lukisan, dengan tema ‘Energy Poetry Visual Art Exposition’

 

Bahwa karya-karyanya adalah sari abstraksi dari bentuk – bentuk yang ada (dari luar). Sedangkan dari dalam, adalah manifest dari energy spiritual, jiwa, inner, yang setiap pribadi memiliki dengan unikum masing-masing.

 

Sedangkan sketsa dan puisi adalah sebagian dari buah kerja yang mengiringinya menjadi satu kesatuan. Keduanya merupakan catatan-catatan terhadap suasana tertentu dimanapun yang menglir selama ini.

 

Sedangkan dalam pengantarnya berkaitan dengan karya-karya Aisul Yanto, Pelukis yang juga Kurator Seni Rupa, Sri Warso Wahono, bahwa energy merupakan kekuatan yang bersumber pada  khalik, alam atau supranatural.

 

Antropolog terkemuka Kojiro Tomita  dari Jepang dan Charles F Kelley dari New York, pernah menyimpulkan bahwa energi, merupakan suatu gerakan memutar dan memusat dari kosmik dan tata surya. Paparan keduanya disurat pada “The Romance Of Chinese Art” tahun 1929 terbitan Amerika Serikat. Secara kehidupan mikro, digambarkan pada suatu gerakan Taici, dengan menggerakan memutar tangan yang berakhir di depan dada. Sedangkan secara simbolik, dipercaya oleh mesyarakat China Kuno, adanya kekuatan yang dibawa oleh Naga (Dragon), dan berbagai batuan, Jade dan Enamel.”

 

Energi-energi diatas sangat berimplikasi terhadap kehidupan riil masyarakat China hingga sekarang yang kemudian melakukan ritual kosmologi, bahkan supranaturalistik.

 

Ada unsur biknya dan bahkan merupakan keyakinan adanya nilai. Aisul mengambil manfaat energy untuk menandai pameran lukisannya. Ia adalah pelukis non figuratife, bahkan lebih menyukai hitam putih sebagai pelampiasan emosi. Kata-kata emosi disini, adalah mengartikulasikan bahwa Aisul memiliki kecenderuangan mengeksplor imaji-imaji (entah itu diatas amal, benda-benda, atau subyek lain) dengan mendedah perasaan melalui warna hitam putih yang kemudian menjadi lukisannya itu.

 

Ini gejala menarik, sebab, dengan cara ekploratifnya itu, Aisul tidak ingin ber usrusan dengan hal-hal yang ragawi. Ia mementingkan esensi rokhani sebagai jembatan penciptaan seni. Bahwa dalam hal wujud seni, kemudian sangat familiar dengan penghayatannya, atau bahkan amat tidak disukai, itu adalah urusan beda.

 

Sekilas Sosok Profilnya :

 

Aisul Yanto, lahir 21 Desember 1958 di Sidoarjo, Jawa Timur, menyelesaikan pendidikan seni lukis di STSRI-ASRI Yogyakarta dan jurusan seni rupa di Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Kegiatan di organisasi kesenian, Antara lain : Board of Director, Jakarta Biennale International VIX – 2011. Board of Advisor, Perkumpulan Kebudayaan Tritura Yogyakarta 2011, Chairman of The Visual Art Commite, Dewan Kesenian Jakarta 2009 – 2012. Chairman, Himpunan Pelukis Jakarta/HIPTA 2006 – 2010. President – Bengkel Budaya 1997.

 

Tahun 1977 hingga sekarang aktif dalam kegiatan budaya dan telah terhitung lebih dari seratus kali pameran bersama serta beberapa kali pameran tunggal.

 

Sejak sepuluh tahun terakhir menekuni dan mendalami melukis dalam hitam putih yang dianggap sebagai tantangan tersendiri. Salah satunya terisnpirasi oleh hasil riset tentang kain batik dalam pewarnaan khas hitam putih dengan ragam hias yang sangat dinamis, dengan gerak dan energy didalamnya, peninggalan seni ragam hia sera Majapahit. Hingga masih dikerjakan oleh pengrajin batik rumahan di daerah pesisir utara Pulau Jawa,ini merupakan salah satu minatnya berkenaan dengan masalah heritage. Di sampingkegiatan utama melukis, jga menulis pengantar/kuratorial pameran seni rupa, kebudayaan, kronik, puisi. Kadan berperan sebagai editor buku dilingkup seni budaya.(ratman/pp)










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)