Siaran Pers

Teknologi CMP Jembatan Overpass Pelangi Antapani solusi pembangunan infrastruktur yang efektif, efis

Administrator | Sabtu, 28 Januari 2017 - 07:26:26 WIB | dibaca: 925 pembaca

Bandung, Jawa Barat -- (Antara/Parahyangan-Post.com) Jembatan overpass Pelangi Antapani bisa menjadi model pembangunan jembatan di daerah lain sehingga terwujud banyak jembatan meski anggaran terbatas. Ke depan, Kalla menambahkan, teknologi Jembatan overpass Pelangi Antapani yang menggunakan teknologi baja bergelombang bisa menjadi solusi lantaran tidak memerlukan anggaran yang besar dan waktu pengerjaan yang lebih cepat. Saya berharap jembatan ini akan menjadi model untuk mendorong pemanfataan teknologi-teknologi baru untuk membangunan infrastruktur di tanah air, demikian dikatakan Wakil Presiden Jusuf Kalla sangat meresmikan Jembatan overpass Pelangi Antapani kemarin, Selasa (24/1). 

Menteri PUPR Basuko Hadimuljono mengatakan Jembatan Pelangi Antapani merupakan overpass yang menghubungkan jalan Jakarta dan Jalan Terusan Jakarta melewati Jalan Ibrahim Aji. Menurutnya, Jembatan overpass Pelangi Antapani menjadi proyek percontohan aplikasi teknologi Corrugated Mortar Busa Pusjatan (CMP). CMP merupakan teknologi baru yang dikembangkan oleh Pusjatan Kementerian PUPR, tutur Basuki. 
 
Saat memberikan penjelasan kepada Wakil Presiden dan rombongan, Kepala Balitbang Kementerian PUPR, Danis H. Sumadilaga mengatakan Jembatan overpass Pelangi Antapani mempunyai beberapa keunggulan: Pertama, waktu pembangunan yang lebih cepat (6 bulan) dibanding teknologi yang menggunakan konstruksi beton yang umumnya memakan waktu 12 bulan. Kedua,  bentangan konstruksi bisa mencapai 36 meter sehingga mampu mengakomodir delapan lajur kendaraan. Bentang panjang juga mempermudah proses konstruksi sehingga menghemat waktu dan biaya.  Ketiga, saat proses konstruksi pembangunan tidak mengharuskan penutupan jalur kendaraan yang memberikan dampak yang sangat kecil terhadap kemacetan di sekitar lokasi konstruksi. Keempat, bentuk konstruksi jembatan layang    baja bergelombang yang megah, dapat menambah nilai estetis suatu landscape dan bahkan bisa menjadi landmark suatu kawasan. Terakhir, selain ramah lingkungan karena mengkonsumsi bahan alam konstruksi yang jauh  lebih rendah dibanding konstruksi dengan teknologi beton,  Jembatan overpass Pelangi Antapani yang dibangun dengan teknologi baju bergelombang mempunyai daya tahan yang lama, lebih dari 100 tahun, ujar Danis. 

Kepala Pusjatan Kementerian PUPR, Herry Vaza, menambahkan teknologi CMP merupakan pengembangan teknologi Corrugated Steel Arch. Teknologi ini menggunakan timbunan ringan mortar busa dengan struktur baja bergelombang. Lebih lanjut Herry mengatakan penggunaan teknologi CMP dalam  pembangunan  Jembatan overpass Pelangi Antapani mempunyai tingkat efisiensi yang tinggi yang diperoleh dari hasil konstribusi penggunaan mortar busa untuk timbunan pendekat jembatan yang menjadi ciri khas dari teknologi CMP. Menurut Herry,  potensi penggunaan CMP tidak hanya dipergunakan untuk membangun jembatan pada perlintasan kereta api, namun sangat cocok untuk persimpangan jalan yang menbutuhkan bentang yang panjang.    

Peletakan batu pertama overpass Antapani dilaksanakan pada 10 Juni 2016. Proyek Jembatan Pelangi mulai diuji coba di lintasi kendaraan pada 28 Desember 2016. Total biaya pembangunan Jembatan overpass Pelangi Antapani berjumlah Rp 35 miliar, dengan perincian  Rp 22 miliar berasal dari Pusjatan Kementerian PUPR; Rp 10 miliar dari Pemerintah Kota Bandung; dan Rp 3 miliar berasal  pemerintah Korea dalam bentuk komponen material.  Wali Kota Bandung Ridwan Kamil berharap Jembatan overpass Pelangi Antapani akan menjadi ikon baru Kota Bandung dan menjadi kebanggaan masyarakat Bandung.  

Editor: PR Wire










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)