Agama

Syi’ar

Tashawuf yang Dirindukan Dunia

Administrator | Senin, 14 Oktober 2013 - 19:31:29 WIB | dibaca: 2543 pembaca

Oleh : Ust. H.Wahfiudin

 

DALAM – Kajian ilmiah ada perbedaan jelas antara tasawuf (mysticism) dan kelnik (magic). Tasawuf (Islamic mysticism) berciri : pencucian jiwa, penggiatan ibadah, aktif dalam partisipasi sosial membangun peradaban yang indah, ilmiah dan manusiawi. Sedangkan kelnik (di Indonesia secara tidak tepat sering disebut ilmu hikmah), lebih berorientasi pada kepentingan duniawi, tidak jarang berangkat dari keserakahan untuk dapat memiliki/menaklukan, dan mengabaikan sendi-sendi kehidupan yang berdasarkan kerja keras (ikhtiar)) yang rasional dan jujur.

           

Ada beda antara orang yang melakukan riadhoh (dzikir, sholat, puasa, qiyamullail dan shodaqoh) yang berangkat dari ketakutan kasus korupsinya diselidiki kejaksaan, sakitnya tidak sembuh-sembuh, bisnisnya macet, pangkat dan karier tersendat, serakah ingin menang dalam Pemilu/Pilkada, agar sakti, dan lain-lain.

           

Tasawuf tidak mengajar orang malas berikhtiar untuk sukses, dengan menempuh jalan pintas yang tidak rasional namun penuh keajaiban, tasawuf tidak menghambat orang untuk mengejar pengetahuan demi keluasan wawasan dan teknologi, bukan sekedar rajin dzikir saja tetapi malas belajar, tasawuf seperti inilah yang dirindukan dunia.

 

Mampukah kita mengembangkan tasawuf yang :

 

1.      Rasional

Meskipun tasawuf memang menyangkut hal yang metafisik dan transendetal tetapi analisa logik yang sistematis yang tetap dapat digunakan sebagai jembatan menuju pemahaman, juga fakta-fakta ilmiah hasil pengembangan teknologi mutakhir dapat dijadikan bahan dan alat pendukung penjelasan.

 

2.      Aktif

Sesungguhnya mendekatkan diri kepada Alloh SWT, itu memang proses yang aktif, dan orang yang telah mendapatkan cahaya Illahi juga aktif memantulkan kepada mahluk di sekitarnya. Bertawakal bukan bermakna pasif menunggu nasib, tetapi ikhtiar dengan bergantung kepada orang untuk menarik diri dari aktivitas duniawi, karena setiap orang punya tanggung jawab membangun peradaban dunia sebagai konsekuensi sebagai kholifatulloh.

 

3.      Terbuka dan Toleran

Menutupi informasi yang orang lain dapat mengetahuinya dengan mudah dari sumber yang lain adalah tindakan memalukan. Kajian dan pengalaman tasawuf sekarang sudah banyak tersebar di berbagai media internet, kalau tidak tahu katakan tidak tahu, kalau tidak mampu menjelaskannya katakan saja belum bisa menjelaskannya, jangan menjaga gengsi dengan menutup-nutupi persoalan dengan ‘asap kegaiban’ yang palsu, juga toleran dengan tidak mengatakan pengikut thoreqat lain salah, aliran sendiri yang paling benar.Ekslusivisme dalam bertasawuf hanya membuat orang menjauhi tasawuf.

 

4.      Kontributif

Banyak jalur untuk melibatkan tasawuf dalam membangun peradaban. Bisa lewat jalur ilmiah dan pendidikan, politik, bisnis, kebudayaan dan kesehatan. Perlu didorong agar ikhwan Thoriqot TQN PP.Suryalaya terlibat dalam kegiatan-kegiatan strategis pembangunan bangsa dan negara. Jangan biarkan ikhwan TQN PP.Suryalaya hanya jadi tangga politik menjelang Pemilu atau sekedar menjadi konsumen produk-produk yang tidak bermutu.

 

5.      Aplikatif

Kembangkan pemahaman dan latihan spiritual sesuai kebutuhan masyarakat moderen. Sesuai dengan profesi ikhwan TQN PP.Suryalaya untuk berprestasi dalam kariernya.Sesungguhnya nilai kemuliaan datang dari kerja keras dan moralitas bukan dari sekedar keajabian.

 

Dunia manajemen saat ini merindukan tasawuf yang aplikatif, mampukah kita sebagai ikhwan TQN PP.Suryalaya mewujudkan hal itu ?. Dengan langkah yang semakin hari semakin baik hal itu bisa terwujud.

 

Kerjasama antar pengamat thoriqot bisa saja terjadi, kerjasama bukanlah kerja bersama-sama, bukan pula sama-sama bekerja, tetapi penggabungan seluruh potensi dan upaya untuk mencapai tujuan bersama. Misalnya thoriqot Murobitun mengambil posisi mengamankan ekonomi ummat dengan mengembangkan dinar dan dirham, sebuah upaya untuk melepaskan ummat dari riba. Ada thoriqot lain yang lebih memusatkan perhatian pada pengembangan entrepreneurship dan jaringan perdagangan, juga ada yang bertugas mengawal doktrin ahlusunnahwaljama’ah.

 

Bagaimana dengan kita sebagai pengamal TQN PP Suryalaya jika dikaitkan dengan program Pangersa Abah yang ingin PP.Suryalaya menjadi pusat kajian tasawuf Asia Tenggara. Sampai dimana kita berbenah diri untuk menjemput obsesi itu. Ini tugas mulia yang harus dicari solusinya bersama (melibatkan keluarga,wakil talqin, pengurus yayasan dan ikhwan secara keseluruhan) untuk diajak berpern serta.

 

Jangan takut menjalankan peran kita dan jangan pula meremehkannya. Setiap thoriqot menyandang peran yang tidak bisa digantikn pihak lain. Ingatlah, “Suatu agama yang tidak mampu memberikan jawaban atas problem yang dihadapi pemeluknya, cepat atau lambat akan ditinggalkan pemeluknya”, begitu kata seorang cendekiawan. Hal yang sama terjadi dengan thoriqot yang ada saat ini. Thoriqot yang tidak mampu memberi solusi bagi penganutnya akan ditinggalkan orang, maka kegiatan penelitian dan pengembangan ilmiah terhadap thoriqot baik terhdap ajaran atau aplikasinya tidak boleh berhenti.

 

Perkembangan teknologi layak terus dicermati, begitu juga bentuk-bentuk kehidupan sosial ekonomi dan sosial politik. Thoriqot saat ini memang tidak steril dari kehidupan moderen, baik dimensi positif maupun negatifnya. Maka proses-proses kreatif dalam thoriqot mesti tetap diberikan tempat dan kesempatan. * (sumber/Robithoh,01-02 Rajab 1428 H/pp)










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)