Profil

Sosok

Tanam Pohon Sengon, Ekonomi Masyarakat Berdaya

Administrator | Jumat, 13 Maret 2015 - 02:44:38 WIB | dibaca: 1739 pembaca

Penggiat Penghijauan Yuno Lahay (Foto : Gun/PP)

Di Indonesia, setidaknya tercatat  7,3 juta HA lahan yang dibiarkan terlantar.  Sejumlah lahan dikuasai oleh pemegang  sertifikat Hak Guna Usaha (HGU) yang  tidak  segera menjalankan usahanya malah menggunduli lahan dan tidak  memperpanjang HGU-nya.

“ Bagaimana dengan rakyat  yang menghuni  lahan puluhan tahun tapi dituduh sebagai penyerobot lahan dan mereka tidak  bisa menggarap lahan  hanya karena alasan tidak memiliki HGU,” kata penggiat  penghijauan Yuno Lahay dengan nada bertanya di kantornya  yang  resik,  Monalisa, Tajur dan Pondok Rasamala, Gunung Salak, Bogor .  

Meski telah menyelesaikan kuliah di Universitas Tarumanegara Fakultas Kedokteran, hatinya terpanggil untuk terjun melihat  gundulnya sejumlah lahan pegunungan wilayah Gunung Gede, Pangrango dan Gunung Salak.

Yuno Lahay, menyadari tidak mudah melakukan penghijauan ditengah sengketa lahan antara masyarakat, Perhutani dan investor. Penghijauan itu, harus tumbuh dari kesadaran masyarakat untuk melestarikan lingkungan. Berikut petikan wawancaranya.

“ Saat  kuliah, dengan beberapa kelompok mahasiswa  melakukan penghijauan dan pendampingan pada masyarakat. Namun, karena dorongan ekonomi pohon yang kita tanam dibiarkan begitu saja,”  kata dokter  yang  tertarik untuk  berbisnis. 

Kejadian itu memberikan pelajaran, memadukan  kepentingan lingkungan yang lestari dengan kebutuhan ekonomi masyarakat. Yuno mengaku tidak menyerah pada beragam hambatan itu, dan menemukan menanam pohon sengon salah satu jalan keluar  memadukan kepentingan lingkungan yang lestari dengan kebutuhan ekonomi masyarakat.

Ini bukan seperti  Bantuan Langsung  Tunai  (BLT) yang  diplesetkannya menjadi  Bantuan Langsung Tewas."Itu seperti mie instant tidak memberikan sikap mandiri,"kata bapak dua putri Divia Azalia Lahay dan Filia Adelina Lahay buah pernikahannya dengan Rosita Kurniasari Handayani.

Penanam pohon misalnya pohon sengon atau pohon jinjing tidak hanya melakukan penghijauan juga membawa keberkahan ekonomi bagi masyarakat. Pohon sengon menjadi sandaran ekonomi keluarga.

" Satu pohon sengon umur 5 tahun dengan diameter 50 CM menghasilkan laba bersih 1,5 juta/pohon. Bayangkan jika itu dilakukan pada lahan masyarakat  tanpa membutuhkan perawatan yang banyak,” tandas lelaki kelahiran Bogor  34 tahun lalu, yang  telah menanam tidak kurang  dari 1 juta pohon sengon.

Dirinya makin bersemangat  mengetahui pemanfaatan lahan terlantar yang  didukung secara hukum dalam PP No.11 tahun 2010 yang  mendorong masyakat untuk memanfaatkan lahan dengan  pohon atau tanaman yang  berdaya guna bagi masyarakat.

“Saya mencari informasi kebeberapa lembaga diantaranya kementerian  kehutanan untuk mendapatkan bibit karena terkait  dengan penanaman dengan menyediakan bibit gratis. Misalnya melalui program Kebun Bibit Rakyat.” Kata Ketua Jaringan Rakyat Sadar Lingkungan Gunung Gede, Pangrango, Salak (Jarak Saling GPS) yang melakukan aktivitas pembuatan biopori, penyadaran masyakat  dengan beragam pelatihan Lingkungan Hidup.

Tingginya permintaan kayu rakyat untuk pengolahan kayu membuat harga kayu seperti Sengon, Jabon, atau Gmelina melambung. Tak jarang harga kayu rakyat bisa berada di atas harga kayu eksotis dari hutan alam.

Banyak contoh sukses petani atau  investor  yang  mengembangkan tanaman sengon untuk memasok bahan baku kayu bagi industri kayu.Menanam sengon sangat prospektif,  harganya yang tinggi membuat hitung-hitungan menanam sengon menjadi sangat menguntungkan.

“Pertanyaanya kenapa menanampohon sengon, “ kata Yuno Lahay.

Pohon  Sengon cepat tumbuh dan bisa dipanen dalam waktu singkat sehingga bisa segera menghasilkan. Cukup 6-7 tahun sudah bisa dipanen. Sengon   tidak jarang kena serangan hama penyakit  dan perawatannya mudah.

Hitungan diatas kertas,  jika satu hektare ditanam 1.600 pohon diperkirakan hasil panen bisa menghasilkan pendapatan hingga Rp3,5 miliar dari tanaman sengon.

Jangan lupa,  industri kayu atau penggesekan diwilayah Jawa Barat,  kayu sengon diminati industri. Penggesekan kayu, mengolah yang  berdiameter kecil, seperti sengon untuk diolah menjadi produk lanjutan seperti veneer  dan  kayu lapis.

Jika melihat ketahun belakang,  hanya perusahaan besar  yang  bisa mengolah dengan pasokan kayu alam yang besar,  saat ini kayu hasil lahan masyarakat  menjadi industri  kecil bisa megupayakan produk yang memenuhi kebutuhan konsumen terhadap kayu dan produk  kayu lanjutan.

Lahan menanam pohon sengon  dengan  memanfatkan lahan milik  keluarga, masyarakat adat, lahan terlantar  yang  digarap dengan tekun.

Untuk bibit pohon sengon, Yuno  menjelaskan mendapatkannya dari dari masyarakat  didaerah Jawa Tengah atau  melalui program Kebun Bibit Rakyat.

Yang menarik, Yuno menggagas kerjasama menanam pohon sengon dengan masyarakat  penggarap atau pemilik lahan.

“ Saya mengajak masyarakat  penggarap lahan atau pemilik lahan untuk bekerjasama menanam sengon. Mereka yang terlibat mendapat upah harian.  Petani  dianjurkan  mengelola lahan di bawah tegakan. Hasil panennya boleh untuk petani,”tandas Yuno.

Untuk wilayah Gunung Keramat, Cisolok, Sukabumi petani yang berhimpun menanam pohon sengon mendirikan Koperasi Sengon Mandiri.  Melalui koperasi mereka mengelola kemandirian bisnis dan melestarikan lingkungan.

“ Walau saya akui, pada tahap awal Koperasi Sengon Mandiri persoalan pengurus yang ingkar dari kesepakatan atau menyalahi hak petani bermunculan, bagi kita hal itu merupakan proses belajar  untuk diperbaiki,” katanya.

Lingkungan yang lestari, hijau dan nyaman akan mengundang kehidupan tenang yang dirindukan oleh bannyak orang.  “ Jadi jangan heran,  orang akan  mencari suasana lingkungan dengan udara segar, gemericik air yang jernih dan keteduhan lingkungan, itu terpenuhi setelah kita merawat pohon,” kata  Yuno Lahay sembari menunjuk kawasan Cikapura, Gunung  Salak.

Saya telah merintis hal serupa di Gunung Keramat, Cisolok, Sukabumi. Memadukan lingkungan yang asri dengan hijaunya pohon, kekayaan budaya kasepuhan  Cipta Mulya dan Cipta Gelar akan mengundang  orang untuk  datang.

Akhirnya memelihara lingkungan dan merawat pohon bukan hanya karena desakan ekonomi tapi karena kehidupan yang  tetap harus berlanjut  dengan nyaman.

Apalagi, jika kita berbicara secara global, isyu perdagangan karbon  menjadi topik internasional setelah kerusakan dan kekurangan udara segar  yang berakibat pada perubahan iklim.

Perdagangan karbon berdasar protokol Kyoto yang diperbaharui dalam Protokol Bali ; mendesak negara belahan Utara  Bumi untuk memberikan  subsidi kepada negara dan masyarakat  yang memelihara hutan dan menghijaukan lahan.

“ Bagi Indonesia, ini adalah kekayaan alam yang patut dilestarikan untuk dunia,” pungkas Yuno Lahay. (gun/pp)










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)