Ekbis

Studi Mastercard: Ekspektasi terhadap Pertumbuhan Ekonomi Mendorong Tingkat Optimisme Anak Muda di A

Administrator | Minggu, 31 Desember 2017 - 21:56:48 WIB | dibaca: 291 pembaca

Indonesia tetap berada pada zona optimis, meskipun terjadi sedikit penurunan dari 6,9 poin menjadi 67,9 poin dibanding semester pertama tahun 2017.

Jakarta, Parahyangan-post.com (22 Desember 2017) - Menurut studi terbaru dari Mastercard bertajuk Indeks Kepercayaan Konsumen (Mastercard Index of Consumer Confidence), tingkat kepercayaan konsumen di kawasan Asia Pasifik selama semester kedua tahun 2017 meningkat dengan pesat terutama karena tingginya optimisme kaum milenial. Studi tersebut juga mengindikasikan bahwa generasi milenial (usia 18-29 tahun) di kawasan Asia Pasifik merasa sangat optimis terhadap situasi dalam enam bulan ke depan (72,9 poin), sementara generasi yang lebih tua (usia di atas 30 tahun) memiliki pandangan yang lebih pesimis terhadap masa depan (66,7 poin).

Pertumbuhan ekonomi yang meningkat, perkembangan industri pariwisata dan kerja sama ekonomi intra-regional yang lebih baik di kawasan Asia Pasifik mendorong tingkat kepercayaan kawasan ini secara keseluruhan, yaitu sebesar 68,5 poin. Sejak paruh semester kedua tahun 2016, terjadi peningkatan optimisme di antara kedua kelompok umur ini, dimana tingkat kepercayaan konsumen yang berusia di atas 30 tahun meningkat sebesar 6,3 poin sementara konsumen yang berusia di bawah 30 tahun meningkat sebesar 5,0 poin. Peningkatan ini tercermin dari sentimen konsumen terhadap pasar saham, pekerjaan dan kinerja ekonomi. Secara khusus, optimisme terhadap pasar saham tercatat mengalami peningkatan sebesar 10,2 poin di kalangan konsumen dengan usia di bawah 30 tahun.

Terlepas dari kelompok umur, Indeks ini menemukan bahwa negara-negara berkembang seperti Filipina (94,5 poin), China (92,2 poin), Kamboja (92,2 poin) dan Myanmar (91,7 poin) mencatat tingkat optimisme paling tinggi. Sebaliknya, kedua kelompok umur di negara-negara yang lebih maju seperti Taiwan (44,2 poin), Malaysia (45,9 poin) dan Jepang (51,0 poin) cenderung lebih pesimis. Tingginya tingkat optimisme di negara-negara berkembang dapat diatribusikan kepada investasi infrastruktur yang dipandang dapat menciptakan peluang kerja dan mobilitas sosial ke atas yang lebih besar.

Selama bulan Oktober dan November 2017, 9.141 responden berusia 18-64 tahun di delapan belas negara Asia Pasifik diminta untuk memberikan pandangan terhadap lima faktor ekonomi yang meliputi: kondisi Ekonomi, prospek Pekerjaan, prospek Pendapatan Reguler, Pasar Saham dan Kualitas Hidup. Indeks ini kemudian dihitung dengan skala 1 sampai 100, dengan skor 0 berarti paling pesimis, skor 100 mewakili paling optimis dan skor antara 40-60 berarti netral. Mastercard Index of Consumer Confidence serta laporan yang menyertainya tidak dapat ditafsirkan sebagai indikator kinerja keuangan Mastercard.

Detail temuan lainnya pada tingkat negara.

Secara keseluruhan, tingkat kepercayaan di kawasan Asia Pasifik tidak menunjukkan adanya perbedaan yang besar di masing-masing negara. Filipina (94,5 poin) yang menduduki posisi teratas Indeks sebagai negara paling optimis, mengalami peningkatan pada tiga komponen penilaian selama 6 bulan terakhir, meliputi Pasar Saham (+11,3 poin), Pendapatan (+5,3 poin) dan Kualitas Hidup (+4,4 poin).

Sebaliknya, Indeks tersebut mengungkapkan bahwa Sri Lanka (39,5 poin) sebagai negara paling pesimis, mengalami penurunan tingkat kepercayaan pada komponen Kualitas Hidup (-4,0 poin) dan Ekonomi (-3,2 poin).

Didukung oleh pertumbuhan belanja ritel dan wisatawan inbound selama enam bulan terakhir, tingkat kepercayaan konsumen usia di bawah 30 tahun di Hong Kong tercatat memiliki peningkatan terbesar (+21.8 poin). Pertumbuhan drastis tersebut berhasil mengeluarkan Hong Kong dari teritori pesimis menjadi optimis, dengan peningkatan signifikan pada lima komponen penilaian, termasuk Pekerjaan (+32,5 poin), Ekonomi (+23,3 poin), Pasar Saham (+19,3), Pendapatan Reguler (+18,9 poin) dan Kualitas Hidup (+15,2 poin).

Ketegangan geopolitik di Korea Selatan menjadi salah satu faktor yang menyebabkan penurunan tingkat kepercayaan di kalangan konsumen usia di bawah 30 tahun (-28,3 poin) dan di atas 30 tahun (-18,4 poin). Menurut Indeks ini, Korea Selatan mengalami penurunan terbesar, jatuh dua tingkat teritori dari paling optimis menjadi netral. Sementara itu, negara lain yang juga mengalami penurunan di kedua demografinya adalah Bangladesh (-8,1 poin, -9,5 poin).

Pertumbuhan tercatat di kalangan demografi usia di bawah 30 tahun di sebelas negara Asia Pasifik dengan tingkat pergerakan stabil di Australia  (+4,8 poin), Myanmar (+4,4 poin) dan Thailand (+2,1 poin). Sejumlah peningkatan terlihat di negara Filipina (+6,9 poin), Taiwan (+8,6 poin), Malaysia (+6,2 poin) dan Singapura (+5,3 poin) sementara peningkatan signifikan terlihat di Selandia Baru (15,1 poin).

Penurunan di kalangan konsumen usia di atas 30 tahun hanya terjadi di empat negara Asia Pasifik, dengan pergerakan stabil di Indonesia (-3,1 poin) dan Kamboja (-1,9 poin). Sejumlah penurunan terlihat di Bangladesh (-9,5 poin), sementara penurunan signifikan dialami oleh Korea Selatan (-18,4 poin).

Perbedaan sentimen yang lebih besar di antara kedua kalangan usia cenderung dialami oleh negara-negara maju di Asia Pasifik. Perbedaan tingkat kepercayaan terbesar antara kelompok usia di atas dan di bawah 30 tahun paling besar terjadi di Taiwan (56,5 poin vs. 39,7 poin), Singapura (66,1 poin vs. 50,0 poin) dan Selandia Baru (76,3 poin vs. 63,0 poin).

Tingkat kepercayaan konsumen usia di atas 30 tahun yang melampaui segmen usia di bawah 30 tahun terjadi di Singapura (+11 poin vs. +5,3 poin) dan China (+5,7 poin vs. +0,4 poin). Di Singapura, angka ini turut dipengaruhi oleh meningkatnya populasi konsumen yang bertambah usia, serta pertumbuhan optimisme terhadap pendapatan ekonomi dan pekerjaan.

Jepang, Sri Lanka dan India merupakan tiga negara di kawasan Asia Pasifik yang mengalami penurunan tingkat kepercayaan konsumen di kalangan usia di bawah 30 tahun, sementara peningkatan di kalangan usia di atas 30 tahun. Fenomena ini sangat besar terjadi di Jepang di mana optimisme di kalangan anak muda turun 8,8 poin, sementara generasi yang lebih tua mengalami peningkatan kepercayaan sebesar 10,9 poin.


Sumber : press release
Editor : ratman

 

 










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)