Agama

Wisuda Juru Dakwah

STID Moh. Natsir Wisuda 103 Sarjana: Wajib Dakwah di Daerah Terpencil Minimal 2 Tahun

Administrator | Jumat, 29 September 2017 - 14:23:05 WIB | dibaca: 187 pembaca

Para Wisudawan STID Moh. Natsir angkatan ke 7 (foto stid.mn)

Jakarta, parahyangan-post.com, Sekolah Tinggi Ilmu Da'wah (STID) Moh. Natsir mewisuda 103 sarjana angkatan ke-7 di Gedung Menara Dakwah, Jl. Kramat 45 Jakarta Pusat, Kamis 28/9.

Acara didahuli Sidang Terbuka Senat, dipimpin oleh Ketuanya Ustad Dwi Budiman Assirodji MPdI, dan orasi ilmiah oleh Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid.

Dalam orasi ilmiahnya  Hidayat Nur Wahid mengatakan, banyak  tantangan yangdihadapi oleh sarjana dakwah, namun jika  dihadapi dengan sabar, akan  mampu membawa perubahan di masyarakat.

"Dakwah bisa mengubah masyarakat dari yang sifatnya individualistik menjadi rahmatan lil ‘alamin," ujarnya.

Abad-abad  Awal Hijriah

Lebih jauh  dalam orasi ilmiahnya Hidayat Nur Wahid mengungkapkan, Islam sudah masuk ke Indonesia pada tahun 64 Hijrah atau pada abad VI M . Ini dibuktikan dengan Prasasti di Barus, Sumatera.

Para juru dakwah Nusantara, lanjutnya,  bekerja dengan ramah dan terbuka. Kearifan  ini kemudian dilanjutkan oleh para Wali Songo.

"Dengan demikian dakwah Islam terbukti dilakukan tanpa pertumpahan darah," tandasnya.

Dakwah di Indonesia juga menjadi spirit kemerdekaan bangsa. Sebelum ada Budi Utomo, sudah ada organisasi Islam, Jamiat Khair, yang dalam dakwahnya juga membangkitkan nasionalisme Indonesia. Hal ini dilanjutkan para pahlawan nasional seperti Ahmad Dahlan, HOS Cokroaminoto, KH Wahab Chasbullah, Mohammad Natsir, dan lain-lain.

Program Magang  

Sementara itu, Ketua STID Moh. Natsir Ustad Dwi Budiman Assirodji MPdI menuturkan, para wisudawan merupakan mahasiswa yang telah merampungkan studi Strata-1 pada Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) dan Pengembangan Masyarakat Islam (PMI).

‘’Sejak semester V, para mahasiswa bertugas magang sebagai marbot masjid di sekitar kampus. Ini merupakan latihan awal berdakwah di tengah masyarakat,’’ papar Dwi.

Selanjutnya, pada Bulan Ramadan, mahasiswa tersebut mengikuti Program “Kafilah Dakwah” di daerah tertentu. Selama dua bulan mereka mendampingi masyarakat setempat dalam menghidupkan Bulan Suci.

Setelah diwisuda, mahasiswa STID Moh.Natsir wajib menjalani Program Pengabdian Dakwah minimal 2 tahun di pedalaman.

‘’Ada juga yang terus bertahan di tempat tugas atas permintaan masyarakat ataupun menemukan jodohnya di sana,’’ terangnya.

Ia memaparkan, para wisudawan angkatan VII ini akan ditempatkan di pedalaman 33 provinsi, mulai Nangroe Aceh Darussalam hingga Papua, dan mereka bertebaran di Pulau Komodo, Kepulauan Mentawai, Kepulauan Riau, kawasan Gunung Merapi Magelang, Gunung Sinabung Karo, perbatasan RI-Malaysia di Sambas, RI-PNG di Merauke, dan perbatasan RI-Timor Leste di Belu.*** (Lutan/stid)










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)