Profil

Mengenang Tujuh Hari Wafatnya Sosok Aktivis

Soeparwan Gayung Parikesit

Administrator | Kamis, 01 Februari 2018 - 17:06:24 WIB | dibaca: 990 pembaca

Imansayh HR Ketika Membesuk Bang Parwan dalam Kondisi Sakit (foto : ist)

Nama familiar yang belum sepekan mangkat meninggalkan kita, tokoh yang ditakuti lawan, disegani kawan, menorehkan banyak kenangan ketika hidupnya. Aku pernah bertanya kepada kakanda MS Ka'ban dan kepada abang Sahar L Hassan, keduanya tokoh senior KAHMI perihal nama depan MS dan tengah L. Maka kanda Ka'ban menjawab kalau MS itu singkatan Malem Sambat, dan L  ditengah nama bang Sahar juga singkatan dari Lasangke. 

Nah, ketika aku menanyakan arti G ditengah namanya, kepada abang kita ini, beliau menjawab G singkatan dari kata
‘Gayung  lantas aku tegaskan Gayung, Gayung untuk mandi bang,  dijawab lugas oleh beliau,YA. Gayung akupun tak tau orang tuaku menamai-ku begitu 

Itulah kenanganku hampir separuh waktu menjelang beliau meninggalkan kita semua dikehidupan yang fana ini. 

Soeparwan Gayung Parikesit, semoga Allah SWT mengampuni semua kesalahan kesalahannya, dan menerima amal ibadahnya,  Husnul Khatimah  Aamiiin Yaa Rabbal Alamiin. 

Dilahirkan di Bintuhan Bengkulu tahun 1950 beliau menamatkan SMA-nya di Yogyakarta, dan pernah kuliah di UGM fakultas Hukum tahun 1970. 

Pada masa Orde Baru tahun 1971 beliau pernah ditahan karena menggelorakan Gerakan Moral Yogyakarta (GERMO) dan ikut aktif dalam peristiwa MALARI tahun 1974. Bang Parwan demikian ia biasa dipanggil, disamping dikenal sebagai seorang Penyair dan Sastrawan, ia juga seorang Wartawan. 

Ilmu Sastra didapatnya dari kuliah di Akademi Sinematografi LPKJ TIM, disini beliau mendapat banyak kawan, antara lain Ardi Kurdi, Azwar AN, Untung Basuki, Fadjar Suharno dan Robin Simanjuntak dari Bengkel Teater Rendra. Sebagai Wartawan, beliau juga aktif menulis di Majalah Kampus UGM, Koran lokal Solo, Semarang dan Yogyakarta, Pos Kota, serta pernah menjadi Wartawan di Harian Sinar Harapan walau sebentar. 

Sepulang dari melarikan diri ke Malaysia 1984 s/d 1986 beliau bekerja di Koran Pelita bergabung dengan Akbar Tanjung dari tahun 1986 hingga 1998 awal reformasi. 

Sebagai senior HMI aku beberapa kali mengundang bang Parwan ke Pondok Pesantren Khusus Putri Darul Marhamah Cileungsi, orasi dan nama besarnya menggetarkan kursi undangan di Pesantren tersebut, tak salah lagi sebagai Tokoh besar yang istiqomah pada pendirian ke Islaman dan keyakinan Tauhid yang mengakar pada dirinya nama “Soeparwan G. Parikesit” tidak dapat dipisahkan dengan sebab lahirnya HMI MPO. 

Beliau yang memang teguh pendirian dengan tegas menolak Azas Tunggal yang digulirkan rezim kala itu. Karena itulah, ketika Pemilu 1998, tanpa ragu aku ikut bergabung dalam Partai Politik Partai Ummat Islam (PUI) bersama profesor Deliar Noer, yang juga ikut bergabung antara lain Ahmad Yani, Adnan Alham, Farouk Abdullah Alwyni, Judil Heri Justam dkk, serta yang tidak ketinggalan abang kita ini “Soeparwan G. Parikesit.” 

Dipenghujung sisa usianya, hampir 2 (dua) tahun bersama abang Fikri Thalib, aku acapkali menemani kesendiriannya hidup ‘nomaden’ dari suatu tempat, ketempat lainnya, tubuhnya dropp, ringkih sekali, keluar masuk rumah sakit dengan keluhan jantungnya yang dirasa nyeri. 

Beruntung solidaritas kawan kawan di KAHMI dan BPJS dari mantan istri beliau tidak begitu memberatkan soal biaya rumah sakit.. 

Suatu hari, sepulang dari Sukabumi menengok Tanah Wakaf LMI, aku, bang Parwan dan bang Fikri Thalib mengantarnya pulang ke Rumah Singgah pak Icu Bekasi, serta merta ia berceritera tentang karyanya terakhir yang sedang di kerjakan. Soal “Tongkat Nabi Musa”, dan beliau sungguh terpersona dengan gaya kepemimpinan Nabi Musa yang dianggap beliau sungguh dahsyat.. 

Mengingat tentang ceritera Nabi Musa aku menambahkan riwayat yang aku ketahui tentang Nabi Musa yang beliau belum mengetahuinya. Aku katakan kepada beliau kalau Nabi yang pernah memukul Malaikat Maut hingga terlepas matanya adalah Nabi Musa. 

Kukatakan pula bahwa dalam riwayat tersebut terdapat inti kehidupan di ujung Sakaratul Maut, bahwa manusia bisa bargaining, menunda sesaat panjang usianya jika ia kuat dan mampu menahan sakitnya Sakaratul Maut..tapi disaat terasa sakitnya menahan itu semua dan ia tak tahan hingga hatinya berkata : 

Yaa Allah aku tak sanggup lagi menahan rasa sakit itu  Maka saat itulah Malaikat akan mencabut Ruh dalam badannya. 

Soeparwan Gayung Parikesit dalam sakit terakhirnya mungkin tak sanggup menahan luar biasa sakitnya Sakaratul Maut, dan iapun tak tahan,  pasrah, serta  ikhlas memenuhi panggilan Sang Maha Kuasa untuk bertemu kepada NYA.

Bertemu dengan tokoh yang ia kagumi, Nabi Pujaan hatinya Nabi Musa, satu riwayat yang sedang ia tulis dalam bukunya, namun belum sempat diselesaikan hingga akhir hayatnya. Kisah tentang tongkat Musa. 

Di Rusunawa Klender tempat terakhir aku, Habib Farid Al Habsy, bang Fikri Thalib ditemani sang adik ipar Rizal menjadi tempat terakhir aku bersua dengannya. 

Itulah perjumpaan terakhirku dengannya, hingga aku tak bisa menjumpainya lagi karena Jenazah almarhum tak lama berada di RS KOJA usai dimandikan langsung diberangkatkan ke Bumi Bintuhan,
  Tanah yang melahirkan tokoh besar .. Setidaknya besar bagiku

Bahkan amat besar.... 

Selamat jalan kakanda Soeparwan Gayung Parikesit.... 


Jakarta, 01 Februari 2018 

-Imansyah Hakim Al Rasyid –










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)