Seni Budaya

#ResensiFilm #BentaraBudayaBali

Situasi Keperempuanan

Administrator | Selasa, 09 Juli 2019 - 08:28:03 WIB | dibaca: 109 pembaca

Oleh : Helmi Haska

MINGGU - Terakhir bulan Juli. Hari Sabtu dan Minggu. Dua malam. Mengenal lima perempuan paruh baya. Vidya Bagchi, Juliette, Glo, Umay dan Malena. Mencoba memahami tiga  sosok protagonis  tiga  filem., dari lima filem yang ditayangkan pada layar sinema Bentara Budaya Bali, yang mengusung tema Cerita Perempuan Paruh Baya. 

Dari  pengalaman lima perempuan itu, seluruh praktik diskriminasi membekas. Pada medan kebudayaan kiwari, mengandung  narasi,  kontruksi besar ketidakadilan.

Baiklah. Saya mulai dari Glo, panggilan  Gloria Sinaga dari filem Demi Ucok (2012).  Glo, sosok  yang lincah dan cerdas. Perempuan yang diandaikan mandiri. Ia  terobsesi  menjadi seorang filmmaker. Ia  ingin merdeka. Bebas menentukan haluan hidupnya. Namun selalu mendapat tekanan dari  keluarga yang memegang teguh adat Batak.  Ibunya, yang telah lama menjanda, ingin putri satu-satunya, itu segera menikah  dengan lelaki Batak tulen.

Glo  menentang.  Ia yang tumbuh besar di kota, dan mereguk kebebasan di luar rumah, harus bersitegang dengan “orang rumah”, yang mempertahankan budaya  bahwa  perempuan berkedudukan di bawah laki-laki.

Dialog atau celotehan ringan nan jenaka,yang bahkan dilengkapi dengan info grafis,  membuat narasi menjadi cerdas dan bernas. Ikhtiar Glo sebagai film-maker menabrak kenyataan. Bahwa industri filem ditentukan kapital. Produksi sebuah filem dihadang pajak, dan dibegal para pembajak. Ia menggempur sarang patriarki yang ada di dalam institusi kita hari ini: partai, birokrasi dan media.

Pun  ia menghadapi prasangka yang tumbuh dalam masyarakat, yang mengaitkan lingkaran pergaulan dalam industri filem dengan isu  LGBT.

Problem klasik keluarga dalam filem yang dibesut sutradara  Sammaria Simanjuntak , menghadirkan komedi  siatuasi. Hubungan Glo  dan sang ibu. Setengah-dungu. Setengah-angkuh. Dan saling mencurigai, siapa di antara mereka akan berkhianat lebih dulu. Konflik kian  yang meruncing mengakibatkan merosotnya kesehatan sang ibu. Merosot pula ekonomi keluarga. Dalam kemiskinan, mereka tinggal satu atap, menempati kamar kos yang pengab.

Seperti Kartini, kita diajak percaya bahwa habis gelap terbitlah terang. Medan konflik  antara anak dan ibu,  itu  sirna dengan kompromi. Sang ibu yang pada masa belianya terobsesi menjadi artis tenar, akhirnya dilibatkan dalam produksi filem putrinya. Filem sukses di pasar. Kapital yang menang dalam kisah melodrama ini. Sang ibu berubah pikiran. Ia membebaskan sang anak menentukan jodohnya.

Tidak demikian dengan  Umay. Protagonis dalam filem Jerman, Die Fremde (When We Leave) karya Feo Aladag (2010). Pada sosok Umay, segala tragedi hadir. Ia lahir dan tumbuh dari keluarga migran keturunan  Turki di Jerman.  Ia yang dijodohkan keluarga.  Ikut suami bermukim di Istambul. Mereka dikaruniai seorang putra. Sang suami bengis. Pemukul.  Pun ia  harus submisif dalam seks.

Menyadari biduk rumah-tangga yang remuk. Umay kabur ke Jerman.  Kepada ibunya, ia ceritakan semua deritanya. Ia memohon agar diterima kembali di tengah keluarganya. 

  “Kau bisa tinggal di sini tiga hari. Kau harus kembali ke suamimu,” ujar saudara lelakinya dengan dingin, ketika jamuan makan malam.

Umay menatap ibunya dengan dalam. Memohon  dukungan. Ibunya hanya diam menunduk. Hanya sang ayah, sebagai kepala keluarga yang dapat memutuskan.

“Apa yang terjadi sesungguhnya?” tanya sang ayah menyelidik.

Umay mengadu. Tak dapat hidup kembali dengan suami yang bengis. Hari-hari hanya menerima tonjokan dan tonjokan.

Dengan suara lantang, sang ayah berkata bahwa Umay harus kembali. Terima saja perlakuan suamimu. Titik. Habis perkara.

Seorang isteri  yang kabur dari suami adalah aib bagi keluarga perempuan. Bahkan keluarga sang suami  mencemooh, menjuluki Umay sebagai,”German whore”. Pelacur,  jalang.

Umay telah bulat  tak mau kembali ke Istambul. Ia membakar pun paspornya. Akibatnya, ia mendapat hukuman dari keluarga. Harus menjalani pingitan. Hingga sang suami datang menjemput.

Umay pun berusaha minggat  dari rumah. Ia menelpon polisi, minta perlindungan. Hukum Jerman melindungi warganya yang menjadi  korban kekerasan domestik. Polisi membawa ibu dan anak itu ke sebuah rumah singgah, save house.

Di rumah perlindungan, Umay mulai menata hidupnya. Bekerja sebagai staf bakery dan melanjutkan sekolah. Dengan bekerja dan menempuh pendidikan yang lebih tinggi, ia berkeyakinan dapat melanjutkan kehidupan mandiri sebagai  orangtua tunggal. Walau negara telah menjamin perlindungan dan kesetaraan dalam ekonomi dan pendidikan, perempuan masih mendapatkan diskrimanasi dan ditindas  budaya komunal.

Umay memiliki putera yang senantiasa merengek ingin bertemu dengan ayahnya, ingin bertemu kakek-neneknya, ingin bertemu dengan paman dan bibinya. Umay pun galau. Setelah kehilangan keluarganya, pantaskah puteranya yang sedang bertumbuh mengalami hal yang sama. Kehilangan keluarga.

Umay berusaha menjalin tali silaturahmi. Demi sang anak. Memohon dibukakan pintu maaf. Permohonan ditolak di depan pintu.

“Bukankah ayah pernah berkata kepadaku. Bahwa darah dalam keluarga lebih kental dari air. Terimalah maafku. Demi anakku,” pinta Umay. Sang ayah menatap kosong, lalu menutup pintu rumah. Umay pun menuntun anaknya terseok  pergi.

Umay adalah aib, yang merusak kehormatan keluarga. Nilai kehormatan keluarga yang tumbuh dalam suasana patriarkis, feodalistik dan doktriner.

Dan diakhir cerita, kehormatan keluarga  pun ditegakkan.  Dengan rencana melenyapkan Umay.Pembunuhan yang dilakukan saudara kandungnya, itu justru merenggut nyawa anaknya. Di adegan akhir, Umay menggendong jasad anaknya yang berlumur darah. Berjalan menyusuri jalan raya. Pergi menuju nun.

Sedangkan dalam filem Prancis, La Vie Domestique (2012), menyelami kehidupan  Juliette. Ia  perempuan kulit putih. Menikah. Punya dua anak. Hidup mapan. Ia berpendidikan dan berpengalaman hidup di perantauan. Pernah cukup lama bermukim di Amerika. Karena suami harus pindah  pekerjaan. Akhirnya tinggal di pinggiran kota Paris. Wilayah yang Sepi.  Membosankan.

Sebagai ibu rumahtangga, ia menjalankan tugas rutin: memasak, bersih-bersih rumah, memandikan anak-anak, mengantar ke sekolah, dan membacakan dongeng untuk anaknya menjelang tidur, melayani suami yang selalu  pulang larut malam dari kantor.

Ego suami  yang kembung. Asyik omong tentang  hasratnya. Percakapan dengan suami  penuh  perintah. “jangan lupa ini… jangan lupa itu…” Itulah gambaran kehidupan sehari-hari Juliette. Garing.  Pun di luar rumah, ia harus menghadapi budaya dominan patriakhis. Di kantor, ia dipermainkan boss, yang laki-laki. Serta  dilecehkan oleh kolega laki-laki, yang merendahkan kualifikasi pekerjaannya.

Pun para kenalan perempuan, para ibu rumahtangga, yang acap ditemuinya ketika di pekarangan sekolah ketika antar-jemput anak ke sekolah, hanya asyik berkutat memuaskan hasrat para suami mereka. Mulai dari urusan mengurus rumah, pakaian dan tutur kata.

Dengan apik filem yang dibesut sutradara Isabelle Czajka,secara realis,  itu mampun menukik pada konflik psikologis, sekaligus menyelusuri ruang batin Juliette. Sebagai pribadi , ia terbelah. Mengerjakan apa yang ia tak sukai. Menerima apa yang tidak ia maui. Dalam gejolak amarah yang ia bungkam sendiri itu, Julliette hanya  menatap kekosongan sambil menghisap sigaret. Ia cemas. Filem ini  mengajak kita masuk dalam situasi keperempuanan. Kecemasan eksistensial seorang perempuan.

Peradaban telah berbuat curang kepada separuh umat manusia, hanya karena ia bukan laki-laki. Pada perempuan melekat seluruh jenis ketidakadilan: ekonomi, politik, seksual, hukum, kultur, teologi. Dari sinisme sehari-hari hingga kebijakan publik.***










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)