Disaster

Fisioterapi Tanggap Bencana

Seminar Peran Fiisoterapi Dalam Penanggulangan Bencana

Administrator | Selasa, 19 Februari 2019 - 11:07:08 WIB | dibaca: 747 pembaca

JAKARTA (Parahyangan-post.com) – Sebanyak kurang lebih saratus orang yang terdiri dari mahasiswa, dosen dan alumni serta masyarakat umum, mengikuti kegiatan seminar bertajuk Fisioterapi Tanggap Bencana, yang digelar di Kampus Universitas Binawan, Kalibata, Jakarta Timur, Sabtu (16/02-2019).

Acara dibuka oleh Rektor Universitas Binawan, dilanjutkan dengan pemaparan oleh Ketua Ikatan Fisioterapi Indonesia (IFI) Cabang Jakarta Timur, dan pemberian materi Fisioterapi pada SCI/Brain Injury akibat bencana oleh Imam Waluyo,selaku penanggung jawab Program Pendidikan Fisioterapi Universitas Binawan. Serta materi tentang Basic Life Support Consept oleh dr. Eddy Purnomo selaku Kepala Instalasi Forensik RS Polri Kramatjati, Jakarta Timur.

dr Eddy Purnomo dalam pemaparanya menyampaikan bahwa Basic Life Suport (BLS), mudah dipelajari, dapat dilakukan oleh orang awam, seringkali dapat menyelamatkan dari bahaya maut dan yang terpenting adalah diperlukan pengetahuan, ketrampilan dan kemauan untuk mempelajari BLS ini.  Idealnya semua orang diseluruh dunia akrab dengan Basic Life Suport (BLS), jelas Kepala Instalasi Forensik RS Polri Kramatjati.

Sementara itu narasumber dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Plh.Direktur Kesiapsiagaan, Bambang Surya Putra dan Tim Fasilitator Nasional, Anton Agus Haryanta. Dalam kesempatan tersebut selain memaparkan tentang kebencanaan di Indonesia, Bambang Surya Putra juga menguraikan tentang kegawatdaruratan bencana dan peran citivas perguruan tinggi dan profesi kesehatan dalam penanggulangan bencana.

“Ketika terjadi bencana disuatu daerah dan ditetapkan tanggap darurat, maka siapapun yang akan ikut respon dalam penanganan bencana tersebut, terlebih dahulu harus lapor ke Pos Komando Tanggap Darurat, agar terdata dengan baik di Sekretariat Posko Tanggap darurat tersebut. Untuk sumber daya yang memiliki keahlian dalam bidang kesehatan, akan ditempatkan dalam desk/bidang kesehatan sesuai struktur komando yang telah ditetapkan. Dengan demikian ketika ada pihak-pihak yang membutuhkan pertolongan, maka akan mudah untuk segera mengerahkan sumberdaya, sesuai data yang ada, “ jelas Bambang Suya Putra.

Sedangkan Tim fasilitator Nsional, Anton Agus Haryanta lebih memaparkan terkait dengan Hari Kesiapsiagaan Bencana yang dilaksanakan setiap tangga 26 April. Sejak tahun 2017 BNPB telah menginisiasi Hari Kesiapsiagaan Bencana ini. Harapanya untuk Hari Kesiapsiagaan Bencana tahun 2019 ini sebagaimana tahun-tahun lalu, Universitas Binawan bisa ikut berpartisipasi dalam latihan dan simulasi kesiapsiagaan bencana. Ini penting untuk melatih insting setiap diri kita dalam menghadapi bencana.

Disisi lain, Imam Waluyo dari Program Pendidikan Fisioterapi Universitas Binawan, memaparkan tentang Fisioterapi pada SCI/Brain Injury Akibat Bencana. Selama ini Universitas Binawan senantiasa selalu berperan aktif dalam kondisi darurat bencana.

“Beberapa peran aktif kami antara lain mengirim tim pada saat terjadi tsunami di Aceh, gempa bumi di Yogyakarta, banjir di Cilirung sekitar Kalibata, “jelas Imam Waluyo

Selain itu, kami juga sudah ada MoU antara BNPB dan Universitas Binawah yang apa waktu itu masih bernama STIKes Binawan pada tahun 2015 dengan nomor : 39/BNPB/III/2015 dan No.008/MOU/Ketua/STIkes-BIN/III/15.

 

 

Peran Yang Dimainkan Oleh Fisioterapis

Fisioterapi dapat terlibat dalam semua bidang kerja normal setelah bencana. Ada beberapa peran untuk fisioterapi dalam bantuan bencana karena mereka memiliki keahlian yang unik untuk berkontribusi. Kekuatan utama dari fisioterapi diyakini menjadi fokus fungsional profesi dan kemampuan untuk melaksanakan pemeriksaan menyeluruh kondisi musculoskletal.

 

Gempa Yogyakarta tahun 2006 menjadi bukti pentingnya fisioterapi dalam penanggulangan bencana dari hari pertama. Memberikan rehabilitasi berbasis masyarakat untuk meyelesaikan permasalahan berkaitan dengan gerak dan fungsi akan menjadi peran utama dari fisioterapi dalam menghadapi bencana.


Kelumpuhan atau Paraplegic dan orang-orang dengan beberapa luka-luka di seluruh anggota badan dan tulang belakang, patah tulang dan cacat lainnya akan memerlukan bantuan fisioterapi untuk mengembalikan gerak dan fungsi anggota gerak mereka dalam kehidupan. tanpa intervensi dan bantuan dari seorang fisioterapi, yang lumpuh dan sejenisnya akan berakhir hidupnya hanya di kursi roda.

 

Layanan ini mungkin diperlukan selama sekitar 6 sampai 12 bulan pasca bencana dan itu juga dilakukan di depan pintu rumah orang-orang miskin karena mereka juga mengalami gangguan gerak dan fungsi tapi tidak bisa bolak-balik ke rumah sakit karena biaya yang terbatas.


Fisioterapi dibekali keilmuan yang baik untuk menilai dan mengelola banyak masalah ini dan untuk menjadi pimpinan dan manajer dalam penanganan rehabilitasi fisik untuk memastikan korban mencapai tingkat tertinggi kesehatan sesuai dengan model WHO ICF (International Classification of Functioning, Disability and Health ).


Rekomendasi untuk fisioterapis :

 

Fisioterapi harus mampu membina hubungan baik secara intense dengan instansi yang diakui secara internasional / LSM

untuk memastikan bahwa layanan profesional dikoordinasikan dan dimasukkan sebagai bagian dari program rancangan

pembangunan nasional yang berkelanjutan dalam kerangka manajemen bencana.

 


Mitigasi dan Kesiapsiagaan adalah cara utama untuk mengurangi dampak bencana dan mitigasi dan kesiapsiagaan

berbasis masyarakat/ manajemen harus menjadi prioritas tinggi dalam praktek manajemen fisioterapi.

 

Korban bencana yang mengalami luka fisik dapat di fase awal dapat mendapat perawatan di rumah sakit terdekat, atau

pada langkah sementara dilokasi dengan bantuan medis oleh tim bantuan bencana lokal serta organisasi bantuan

internasional. Namun kembali ke rumah mereka untuk membangun kembali kehidupan mereka adalah kepentingan utama

bagi para korban. Oleh karena itu penting sekali diperhatikan bahwa layanan fisioterapi disediakan sebagai bagian dari

rehabilitasi berbasis masyarakat. Orang-orang biasa dan masyarakat yang kaya serta memiliki pengetahuan yang dapat

pergi jauh untuk meningkatkan proses rehabilitasi mereka. Hal ini untuk memastikan bahwa kita menanggapi bencana

secara holistik.

Peran fisioterapi di masa depan dalam penanggulangan bencana bisa menjadi momentum titik tolak fisioterapi untuk dapat mengambil kesempatan belajar demi pengembangan keilmuan fisioterapi manajemen bencana lebih lanjut di masyarakat.

Dalam bencana, fisioterapi akan bermanfaat dalam mengobati dan mencegah cedera para anggota penyelamat atau SAR menggunakan terapi manual dan mengobati kondisi gangguan muskuloskeletal, pasien kritis, pernapasan, dan pasien luka bakar.

Beberapa area kompetensi yang unik dari keterampilan yang ditemukan untuk ditawarkan kepada fisioterapis, termasuk menilai dan memperlakukan korban dengan cedera akut, mencegah cedera di antara petugas penyelamat atau SAR, dan mungkin mencegah atau mengurangi beban disfungsi kronis antara pasien setelah fase darurat.

Ada peran baru yang ternyata terbuka lebar dalam menanggapi bencana, tetapi nampaknya fisioterapi harus bangkit untuk segera menjadi fisioterapi yang menguasai sains dan knowledge sesuai Evidence Based Practice sebagai profesi mampu manjadi advokat sendiri, dimulai dengan kesadaran individu. 

 

Sumber data tambahan : hkb.bnpb.go.id
https://iop.unisayogya.ac.id/en/peran-fisioterapi-dalam-manajemen-bencana/










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)