Opini

Refleksi Politik Akhir Tahun

Selamat Tinggal 2017, Selamat datang 2018

Administrator | Minggu, 31 Desember 2017 - 10:23:17 WIB | dibaca: 404 pembaca

Ratman Aspari (foto : koleksi pribadi)

Oleh : Ratman Aspari *)

Tahun 2017 segera meninggalkan kita dan tahun 2018 datang menjemput, silih berganti, begitulah siklus kehidupan didunia. Tidak ada yang kekal, keabadian hanyalah milik Sang Pencipta.

Setiap pergantian tahun sejatinya memberikan peringatan kepada kita semua bahwa kehidupan didunia ini hanya sendau gurau, ibarat kapal yang sedang berlayar, hanya singgah untuk sekedar minum bagi para awaknya, kehidupan yang hakiki adalah kehidupan di akherat kelak, persoalanya sejauh mana bekal yang telah kita siapkan untuk menuju perjalanan panjang menuju kehidupan yang hakiki, kelak.

Dalam kontek berbangsa dan bernegara, silih berganti kepemimpinan baik ditingkat nasional maupun ditingkat daerah, bahkan sampai tingkat desa dan RT/RW-pun merupakan hal yang biasa.

Persoalan yang terpenting bagi para pemimpin berseta rezim yang sedang berkuasa, sejauh mana kepemimpinannya memberi arti dan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kemaslahatan dan kehidupan rakyat banyak dan generasi mendatang, bukan sekedar bagi kepentingan kelompok dan golongannya, kepentingan sesaat.

Memasuki gerbang tahun 2018, menjelang pertarungan akbar Pilkada serentak di seluruh tanah air, berlanjut Pilpres, ekstalasi politik mulai dari daerah sampai nasional sudah mulai memanas, perlahan tapi pasti, mesin-mesin politik mulai bekerja. Denyut kehidupan ditengah masyarakatpun mulai merasakan riak-riak pertarungan dari para calon yang akan berlaga. Suka tidak suka semua itu akan berpengaruh terhadap gerak kehidupan ditengah tengah masyarakat.

Semua itu harus kita sikapi dengan arif dan bijak, bagi para calon hendaknya bisa mengemas gagasannya untuk merebut hati calon pemilihanya dengan cantik, mengedepankan cara-cara berpolitik yang indah, santun, dan menyejukan, tetap mengutamakan pentingnya persatuan dan kesatuan.

Walaupun kemenangan itu penting dalam setiap kompetisi, tetapi janganlah dijadikan satu-satunya hasrat untuk meraih kemenangan, apalagi jika menggunakan cara-cara yang tidak elegan. Terpenting adalah bagaimana bagi setiap calon terbesit dalam niatnya untuk maju dalam laga piklada/pilpres untuk ikut memberikan perbaikan bagi bangsa dan negara, mewariskannya yang terbaik bagi generasi mendatang.

Membaca dan menyerap dari berbagai informasi yang berkembang ditengah masyarakat saat ini, ditingkat nasional rezim yang sedang berkuasa-pun sudah kelihatan mulai ancang-ancang untuk maju kembali, bahkan Partai Nasdem pimpinan Surya Paloh beberapa waktu lalu dengan lugas menyatakan dukungannya untuk Presiden Jokowi maju kembali pada pilpres mendatang, dibeberapa daerah poster, balihonya sudah terpampang di jalan-jalan utama. Sementara dari partai pengusung Jokowi, PDIP tentu tidak mau ketinggalan, tinggal menunggu moment yang tepat tentunya.

Didukung oleh partai-partai besar, apakah perjalanan Jokowi untuk kembali duduk di kursi R-1 akan mulus, tentu tidak semudah itu, banyak hal yang mendasarinya, para penantang, rival-rival politiknya juga terus menyiapkan strategi baru bagaimana untuk meraih kemenangan. Justru kedepan langkah-langkah Jokowi untuk kembali duduk sebagai R-1 diprediksi semakin berat bahkan bisa berantakan, apalagi kalau tidak mau merubah strategi dalam berpolitiknya. 

Indikasi kearah itu sudah mulai terlihat, munculnya slogan #ABJ (Asal Bukan Jokowi) dimedia social beberapa hari ini merupakan riak-riak kecil yang pada waktunya akan menjadi bom waktu yang harus disikapi dengan kerja keras oleh tim pendudkungnya.  

Persoalan lain yang mengusik kalangan istana tentunya kekalahan sejumlah calon yang diusung oleh PDIP untuk beberapa daerah seperti DKI Jakarta, Banten dan beberapa daerah lainya. Meluruhnya kekuatan PDIP untuk dukungan calon kepala daerah tersebut tidak lain dari sikap politik partai tersebut selama ini. Rakyat di tingkat akar rumput tidak lagi percaya jargon sebagai partainya wong cilik yang selama ini digembar gemborkan, karena pada saatnya berkuasa justru keberpihakanya kepada wong cilik seolah pudar, begitu pula ketika menempatkan Jokowi hanya sebagai petugas partai.

Koalisi Partai Gerindra, PKS dan PAN untuk mengusung calon di beberapa daerah, seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan daerah lainnya, merupakan angin segar bagi rakyat di tingkat daerah. Khusus untuk Jawa Barat dan Jawa Tengah mulai dari sosok yang diusung, kondisi daerah itu sendiri cukup menarik untuk menjadi bahan kajian bagi para analis politik.

Sudrajat untuk di Jawa Barat misalnya, semula orang tidak mengenal siapa itu Pak Sudrajat, tetapi dengan keberanian dan jiwa besarnya Prabowo dari Partai Gerindra bersama mitra koalisinya memiliki pandangan dan kalkulasi politik tersendiri untuk berani menampilkan sosok Pak Sudrajat tersebut, secara perlahan dan pasti namanya mulai merangkak naik dan dikenal oleh warga masyarakat Jawa Barat. Sementara sekelas RK (Ridwan Kamil-red) yang diusung Partai Nasdem bersama koalisinya dan Dedi Miswar – Dedi Mulyadi disatu sisi masih terus berkerja keras untuk mendongkrak elektabilitasnya.

Lantas untuk Jawa Tengah, semua kita sudah sangat paham, selama ini PDIP selalu mendulang kemenangannya untuk wilayah Jawa Tengah. Menempatkan Pak Dirman (Sudirman Said-red) untuk calon Jateng-1 bukan perkara mudah, perlu kalkulasi politik yang matang, walupaun Pak Dirman sendiri sebagai putra daerah. Sebagaimana diutarakan sendiri oleh Pak Dirman, sejatinya kita sedang menorehkan sejarah baru untuk Jawa Tengah kedepan.

Satu daerah kekuatan di Pulau Jawa, yaitu Jawa Timur masih menjadi perebutan yang menarik, masing-masing koalisi terus berjuang menimbang nimbang calonya yang pas untuk Jawa Timur. Masing-masing koalisi harus berhitung dengan cermat, konon ketika Pulau Jawa sudah dikuasai, langkah menuju kursi R-1 akan semakin terbuka, makanya dari masing-masing partai koalisi begitu gigih, berkerja keras untuk meraih kemenangannya di Pulau Jawa.

Lantas bagaimana akhir dari semua kompetisi ini tentu harus kita tunggu bersama, perlunya sebuah sikap untuk saling mengedepankan jiwa besar, bahwa sejatinya silih bergantinya kepempinan adalah hal yang lumrah, tidak harus disikai dengan penuh emosi, apalagi mengedepankan sikap picik.

Sekali lagi bahwa kekuasaan itu tidak abadi, meminjam istilah Aa Gym, jabatan, kekuasaan dan apapun namanya, itu semua hanyalah titipan, sebatas topeng-topeng kepalsuan, tipu daya kehidupan di dunia, yang kelak akan diminta pertanggung jawabanya. Masihkah kita berbangga diri dengan jabatan dan kekuasaan tersebut. (*)


*) Penulis, adalah; seorang jurnalist, anggota Persaudaraan Jurnalist Muslim Indonesia (PJMI), Tinggal di Jakarta Timur.










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)