Agama

#ResensiBuku

SELAMAT DATANG BUKU USTDAZ MASYHURIL KHAMIS “JANGAN LEPASKAN ISLAM WALAU SEDETIK!”

Administrator | Senin, 28 Oktober 2019 - 10:40:18 WIB | dibaca: 437 pembaca

Oleh: J. Faisal
Pemerhati Pendidikan/Mahasiswa Doktoral Sekolah Pascasarjana UIKA Bogor 


“Jangan Lepaskan Islam Walau Sedetik!”. Itulah judul buku terbaru sahabat saya, Ustadz Masyhuril Khamis, yang diterbitkan oleh penerbit Republika, pada bulan September 2019 yang lalu. Masih sangat hangat untuk kita bahas intisari buku beliau, yang berbicara masalah tauhidiyah ini. 

Sekilas biografi tentang Ustadz Masyhuril Khamis, akan saya tuliskan di sini, agar supaya kita semakin mantap untuk mendalami pemikiran-pemikiran beliau tentang Islam. Ustadz Masyhuril Khamis dilahirkan di Sumatera Utara, tepatnya di desa Meranti Paham, Kabupaten Labuhan Batu, 55 tahun yang lalu. Beliau adalah seorang da’I yang sangat haus akan ilmu-ilmu Islam, dibuktikan dengan semangatnya beliau dalam menempuh berbagai jenjang pendidikan saat ini, bahkan sampai jenjang S-3 di dua kampus, yaitu di salahsatu Universitas di Malaysia, dan di Universitas Ibnu Khaldun, Bogor. Dan kiprah serta pengalaman beliau di dalam organisasi Islampun sudah tidak perlu diragukan lagi, terbukti dengan jabatan amanah yang beliau emban, yaitu sebagai Sekjen Pengurus Besar Al Washliyah, dan sebagai anggota Dewan Pengawas Syariah Pusat, juga sebagai anggota Amirul Haji Indonesia. 

 “Jangan Lepaskan Islam Walau Sedetik!” adalah sebuah judul yang cukup provokatif menurut saya, tentu saja dalam bingkai motivasi akidah yang baik. Kemudian pertanyaan paradoks yang akan muncul dari judul di atas adalah, apakah yang terjadi jika kita melepaskan Islam kita walau sedetik? Dan bagaimanakah caranya agar Islam kita tidak lepas walaupun sedetik? Semuanya jawabannya telah dibahas di dalam buku ini secara ilmiah oleh penulis.

Pada bab pendahuluan buku ini, penulis mengatakan bahwa tidak melepaskan Islam dalam kehidupan adalah suatu ikrar dan tekad yang wajib ada dalam diri setiap muslim. Allah SWT telah menciptakan kita sebagai makhluk pengabdi, “Aku tidak ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada Ku…,” (QS Adz-Dzariyat:56). Maknanya menurut penulis adalah bahwa hidup kita tidak boleh lari dari status kita sebagai hamba Allah SWT, hamba yang rendah, dhaif, yang semestinya tunduk patuh, taat hanya kepada Nya: “Katakanlah (Muhammad) sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku, dan aku adalah orang yang pertama berserah diri (muslim),” (QS Al An’am:162-163). Wahai orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa kepada-Nya, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim (QS Ali Imran: 102).

Itulah sedikit dari banyak Surah dan ayat dalam Al Qur’an yang dijadikan landasan oleh penulis agar kita tidak melepaskan Islam kita dalam keadaan bagaimanapun, baik dalam keadaan lapang maupun dalam keadaan sulit.

Di  halaman 173, penulis juga berpesan dan memberikan motivasi kepada pembacanya dengan menuliskan bahwa dari Sahl bin Sa’d bahwasannya Rasulullah SAW bersabda, “Jibril mendatangiku lalu berkata, “Wahai Muhammad, hiduplah sesukamu karena sesungguhnya engkau akan berpisah dengannya dan berbuatlah sesukamu, karena sesungguhnya engkau akan diberi balasan karenanya.” Kemudian dia berkata, “Wahai Muhammad! Kemuliaan seorang mukmin adalah berdirinya dia pada malam hari untuk sholat malam dan keperkasaannya adalah ketidakbutuhannya terhadap manusia,” (HR Ath Thabrani, Abu Nu’im, dan Al Hakim).

Di halaman 182, penulis juga menulis bahwa agama Islam adalah agama yang meluruskan ajaran-ajaran terdahulu yang telah disimpangkan. Sekaligus juga, Islam melengkapi ajaran-ajaran terdahulu yang belum sempurna.

Oleh karena itu, Islam adalah ajaran yang sudah paripurna. Ia sudah lengkap dan matang untuk dijadikan sebagai jalan kehidupan dan kematian serta jalan dating dan jalan pulang. Firman Allah SWT dalam QS Al Maidah, ayat 3, “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah aku cukupkan nikmatku bagimu, dan telah aku ridhai Islam sebagai agamamu.”

Karena sudah menjadi satu-satunya agama yang diridhai Allah, maka terjawablah mengapa kita jangan melepaskan Islam kita walau sedetik, karena meskipun sedetik jika tanpa ridha Allah, maka sia-sialah hidup ini. Naudzubillah.

Masih banyak lagi yang penulis pesankan dalam bukunya ini, yang kesemuanya juga membahas masalah mendasar ibadah umat Islam, seperti masalah ilmu, pendidikan, nikah, zakat, idul fitri dan idul adha, dan lainnya.

Penulis berharap dengan mentransfer ilmunya memlalui bukunya ini, dapat menjadi amalan jariah yang terus mengalir pahalanya sampai ke akhirat kelak. Aamiin. 

Waalu’alam bissowab

 










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)