Disaster

Sekolah Belum Aman dari Bencana.

Administrator | Minggu, 24 September 2017 - 21:49:28 WIB | dibaca: 524 pembaca

Deni mencoba memadamkan api dalam kegiatan simulasi pemadam kebakaran disalah satu sekolah di Prov DKI Jakarta.

Oleh : Musa Rustam *)

DENI (14) mengangkat karung goni yang sudah mengandung air, buru-buru melempar ke tong yang menijlat api setinggi hampir 60 cm di tengah lapangan basket. Mengenakan pakaian seragam Pramuka, dengan gagah berani mencoba menaklukkan si jago merah.Ketegangan yang tersirat kekhawatiran pun sirna, diselingi suara tepukan tangan yang gemuruh dari teman-temannya di sekolah. Ketika api itu padam dan disertai asap yang perlahan menghilang.

Siapa lagi yang berani mencoba?sepertinya memang mudah, akan tetapi harus memiliki keberanian untuk melakukannya. Api itu tidak akan membesar, jika hal ini terjadi dampak kebakaran akan di minimalisir”, begitulah kata Pak Tohir seorang Pelatih Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta.

Lebih dari 150 siswa Kelas XI SMA Negeri 113 Jakarta Timur yang berkumpul di lapangan Basket. Rabu, 13 September 2017, mereka menikmati setiap proses Simulasi Bencana Kebakaran. Kegiatan ini, seperti dikatakan Deni, tak kalah menyenangkan dan menantang dengan kegiatan ekstrakurikuler Pramuka.

Menurut Data BPBD Provinsi DKI Jakarta, pada tanggal 31 Juli 2008 Gedung kelas SMP dan SMA Labschool Rawamangun serta sejumlah fasilitas sekolah ludes terbakar. Kerugian akibat kebakaran ini ditaksir mencapai miliaran rupiah.

Sekolah harus siap

Latihan pemadaman api ini merupakan pertama kali bagi siswa-siswi SMA Negeri 113 Jakarta Timur. Belum pernah sebelumnya, mereka diberi tahu pentingnya simulasi semacam ini. Sekolah ini memiliki 750 siswa,latihan ini sangat penting, dikarenakan bencana bisa kapan saja terjadi dan dimana saja.

Kepala SMA Negeri 113 Jakarta, Rosmiati, tak kalah antusias dengan anak didiknya. Dia lebih senang lagi karena pelatihan juga menyasar para guru. Mereka yang nantinya diharapkan bisa meneruskan budaya sadar bencana lewat latihan-latihan mandiri yang berkesinambungan.

"Sekolah kami dipercaya para orangtua untuk mendidik anak-anak mereka dari pagi sampai siang atau sore. Kalau para siswa ternyata tidak aman saat belajar di sini, kami para guru turut bersalah juga," tuturnya.

Bukan SMA Negeri 113 Jakartasaja yang jauh dari siap menghadapi ancaman bencana. Ada ratusan ribu siswa di Jakarta bernasib serupa. Sebagian besar dari mereka belum pernah dikenalkan dengan pengetahuan dasar pengurangan risiko.

Provinsi DKI Jakarta memiliki sekitar 5,000 sekolah terdiri dari berbagai SD, SMP, SMA, SMK, dan madrasah.  Hingga saat ini, sudah ada lebih dari 20 sekolah di wilayah DKI Jakarta yang menjadi model Sekolah Madrasah Aman Bencana dan Provinsi DKI Jakarta berbangga hati menjadi pelopor dan daerah pertama di Indonesia yang berkomitmen untuk menerapkan seluruh sekolah dan madrasah di DKI Jakarta menjadi aman dari bahaya bencana.

Semua pengelola sekolah agar mengikuti panduan sekolah aman berdasarkan pergub 187 tahun 2016. Kegiatan Sosialisasi Gebyar Sekolah/Madrasah Aman Bencana Provinsi DKI Jakarta di acara Car Free Day sangat baik bagi perkembangan program Sekolah/Madrasah Aman Bencana Provinsi DKI Jakarta dan akan ditindaklanjuti dengan pembentukan gugus tugas antara pemerintah daerah dan para lembaga masyarakat penggiat penanggulangan bencana untuk mengimplementasikan program tersebut.

Sekolah Tempat Strategis Pembelajaran

Diungkapkan oleh Sutopo Purwo Nugroho, kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Kata dia, penyadaran masyarakat menjadi titik vital dari program mitigasi. Sementara itu, kemajuan teknologi, menjadi penunjang.

Sejauh ini, dia menilai, kesadaran masyarakat Indonesia terhadap bahaya bencana masih rendah. Kesimpulan kasar ini, dia lihat dari beragam perilaku masyarakat saat daerahnya dinyatakan siaga bencana.

Banyak sekali di lapangan ditemukan masyarakat yang kerap mengabaikan imbauan aparat mengenai radius bencana. Selain itu, masyarakat kerap merusak peralatan yang disediakan sebagai alat pengamatan atau peringatan bencana."Budaya sadar bencana itu masih sangat kecil," kata Sutopo. Yang dikutip dari Media Viva.

Sekolah juga berperan strategis sebagai institusi pertama yang menumbuhkan budaya sadar bencana. Ini mestinya menjadi bagian tak terpisahkan dari pendidikan. Setiap sekolah idealnya memiliki rencana aksi yang khas, disesuaikan dengan kondisi masing-masing sekolah. Perumusannya melibatkan seluruh pemangku kepentingan di sekolah, mulai dari para guru, orangtua, hingga siswa.Membangun budaya sadar bencana di sekolah bukan pekerjaan enteng. Ujiannya terletak dalam konsistensi kebijakan dan penerapannya.


*) Penulis, adalah karyawan/staff BPBD Prov DKI Jakarta



Sumber data/Referensi :
http://www.beritajakarta.id/read/39389/BPBD_DKI_Sosialisasi_Sekolah_Aman_Bencana#.WcSD4nRx2M8


http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/eduaction/17/01/22/ok5tkj396-jakarta-gaungkan-sekolah-dan-madrasah-aman-bencana

 

http://www.viva.co.id/indepth/fokus/851047-belajar-dari-jepang-menangani-gempa

Sumber Dokumen Foto kegiatan Sekolah Aman Bencana BPBD DKI Provinsi Jakarta tahun 2017


 

 










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)