Profil

Ratu Farah Diba, Komunitas Depok Heritage Community (DHC)

Sarjana Hukum yang Peduli Pada Pelestarian Peninggalan Sejarah

Administrator | Minggu, 23 Juni 2019 - 00:53:41 WIB | dibaca: 473 pembaca

Ratu Farah Diba, Komunitas Depok Heritage Community (DHC) (sumber foto : ratman/pp)

ADA - Pernyataan yang disampaikan kepadanya, ‘Ngapain repot-repot ngusurin cagar budaya yang tidak ada uangnya, padahal ibu sebagai pengacara sekali tanda tangan begitu berharga.”

Namun omongan seperti itu dibiarkan berlalu begitu saja, Ratu Farah Diba, bersama komunitasnya  Depok Heritage Community (DHC), terus bergerak, tidak pernalah lelah menfokuskan pada pelestarian warisan budaya khususnya yang ada di Kota Depok.

Bagi kita sebagai orang awam, memang sangat janggal, bayangkan, hanya untuk mengurusi tiang telepon  di pertigaan Jalan Kartini dan Jalan Pemuda di Kota Depok yang dianggapnya memiliki nilai sejarah misalnya, Ratu Farah Diba rela mondar-mandir ke kantor kelurahan dan pihak terkait lainya untuk menguruskan perijinananya serta melakukan berbagai hal lain agar tiang telpon yang dibuat sekitar tahun 1900 tersebut bisa ditetapkan sebagai barang peninggalan sejarah dan mendapat perhatian serius khususnya dari pihak pemerintah setempat serta perhatian dari masyarakat luas.

Belum lagi bagaimana kegigihan perjuangan Ratu Farah Diba ketika memperjuangkan Rumah Cimanggis, Bisokop Galaxi, dan berbagai tempat peninggalan bersejarah lainya terutama yang ada di Kota Depok.

Diakui Ratu Farah Diba, yang merupakan alumnus Fakultas Hukum Universitas Pancasila ini, banyak sekali tantangan dan hambatanya ketika dirinya bersama dengan komunitas melakukan  penelitian, verifikasi sampai mendaftarkan suatu obyek bisa ditetapkan sebagai cagar budaya. Banyak pihak yang kurang peduli dengan peninggalan sejarah, suatu cagar budaya yang memiliki nilai sejarah begitu tinggi, yang harusnya tetap dijaga dan dilestarikan keberadanya.

Salah satu tantangan terberat, menurut Ratu Farah Diba, pada acara Ngopi Bareng yang di gelar oleh Sekber Wartawan Kota Depok, Jumat (21/06) di bilangan Kota Kembang, Depok, adalah ancaman dari para preman yang menguasai lokasi cagar budaya tersebut.

“Ketika saya bersama komuitas Depok Heritage Community (DHC) hanya ingin masuk untuk melihat bekas Gedung Bisokop Galaxi misalnya, para preman itu tidak mengijinkanya, dan area sekitar gedung bekas Bioskop Galaxi saat ini dijadikan area parkir dan kondisi gedung tidak terawat, “ujar Ratu Farah Diba.

Begitu juga ketika membersihkan Rumah Cimanggis, ada saja pihak-pihak yang kurang senang, bahkan menurut Ratu Farah Diba, pernah ada pihak yang mengaku sebagai ahli warisnya. Selain tantangan dan hambatan dari para preman. Tantangan lain juga datang dari para penjaga tempat-tempat yang diangap keramat dan memiliki nilai sejarah, atau istilahnya “kuncen”. Tidak jarang “kuncen” tersebut memberikan masukan dan arahan yang tidak masuk dalam logika, bahkan tidak sedikit yang mengenakan tarif atau dengan istilahnya “wani piro”, ketika Ratu Farah Diba bersama komunitasnya ingin menggali informasi terkait objek peninggalan sejarah tersebut.

Padahal diakui Ratu Farah Diba, dirinya bersama komunitasnya melakukan hal tersebut semata-mata karena memiliki kepedulian pada peninggalan sejarah yang ada di Kota Depok, bahkan untuk operasional kegiatan tidak jarang dirinya bersama komunitasnya rela mengeluarkan dana dari kantongnya masing-masing.

Untuk itu Ratu Farah Diba sangat mengapresiasi kegiatan yang digelar Sekber Wartawan Kota Depok ini, semoga dengan adanya kegiatan ini akan membuka mata bagi kita semua untuk memberikan kesadaran dan pemahaman serta kepedulian kepada masyarakat luas akan nilai-nilai tempat bersejarah atau cagar budaya, terutama yang ada di Kota Depok.

Sebelum menjadi pecinta sejarah Depok, Ratu Farah Diba telah banyak mengunjungi berbagai kota di Indonesia dan bergaul dengan orang-orang yang peduli terhadap warisan budaya. Bersama teman-temannya yang memiliki minat sama di bidang pelestarian warisan budaya membentuk Depok Heritage Community  (DHC) pada tahun 2011. Kegiatan DHC dimulai dari bersepeda keliling Depok dan melihat peninggalan sejarah yang terbengkalai tidak terekspos.

Lewat komunitas nonprofit yang digagasnya itu, Ratu Farah Diba ingin menyelamatkan peninggalan sejarah dan mengangkat aset budaya yang ada. Ia meminta pemerintah agar peninggalan sejarah yang ada di Kota Depok dijadikan cagar budaya. Ratu Farah Diba dan kawan-kawan menyuarakan dengan mendatangi wali kota, kepala dinas terkait, bahkan juga direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman.

"Kami coba terus desak pemerintah melakukannya," katanya. Ratu Farah Diba juga kerap membantu mensosialisasikan peninggalan sejarah yang ada, misalnya dengan cara membantu pelajar mencari informasi atau mengunjungi tempat bersejarah di Depok.

Ratu Farah Diba begitu bersemangat ketika membicarakan peninggalan sejarah di Depok. Nama Depok terngiang dalam telinganya sejak ia kecil, terutama dengan sebutan Belanda Depok. Ratu Farah Diba penasaran apa yang dimaksud dengan Belanda Depok.

"Saya kira, itu orang Belanda yang tinggal di Depok. Akhirnya, saya cari tahu terus," ujarnya.

Menurutnya, di manapun seseorang tinggal maka harus mengetahui seluk-beluk tempat tersebut. Saat mendalami sejarah Depok, Ratu Farah Diba sempat kecewa karena arsip yang dimiliki Pemkot Depok sangat minim. Akhirnya, perempuan yang berprofesi sebagai pengacara ini pun mencari tahu sendiri. 

"Ternyata, Depok luar biasa. Mulai dari masa kolonial dan memiliki hak otonom membuat saya semakin tertarik," katanya.

Banyak pengalaman menarik saat Ratu Farah Diba menelusuri sejarah Depok. Sebagian warga yang sudah lama mendiami Depok cukup tertutup. Ia dan kawan-kawan pun agak kesulitan mencari data.

Akhirnya, setelah berhasil membuktikan keseriusannya, warga pun mulai terbuka. "Mereka mau bercerita tentang Depok zaman dulu. Bahkan, mereka memperlihatkan film dokumenter sewaktu kecil," ujarnya.

Diakui Ratu Farah Diba kecintaanya pada sejarah mengalir dari sang kakek. Kakeknya yang saat itu bekerja sebagai karyawan di Kantor Pos Pasar Baru, Jakarta Pusat, sering bercerita tentang masa kolonial. Tak hanya itu, sejak kecil Ratu Farah Diba memang menyukai pelajaran sejarah.

"Ini membekas dalam diri saya. Akhirnya setelah dewasa, saya semakin ingin tahu apa yang sudah saya pelajari," ujarnya. Meski mencintai sejarah, Ratu Farah Diba tak pernah bercita-cita sebagai pegiat sejarah. Sewaktu kecil, ia malah ingin menjadi guru.

"Perkembanganlah yang membuat saya menjadi pecinta sejarah," kata anak pertama dari keenam bersaudara ini. Saking cintanya pada sejarah, banyak yang mengira bahwa itu merupakan pekerjaan utama Farah. Padahal, ia dan suami memiliki kantor advokat yang biasa menangani kasus-kasus hukum perdata.

(ratman/pp)

 










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)