Edukasi

Potret Sedih Pendidikan Nasional di Era Industri 4.0

Administrator | Rabu, 04 September 2019 - 08:18:52 WIB | dibaca: 157 pembaca

J. Faisal : Pemerhati Pendidikan/Mahasiswa Doktoral Sekolah Pascasarjana UIKA Bogor *)

Oleh: J. Faisal
Pemerhati Pendidikan/Mahasiswa Doktoral Sekolah Pascasarjana UIKA Bogor


Mau tidak mau, suka tidak suka, mengerti atau tidak mengerti kita terhadap revolusi industry 4.0, yang pasti kita sedang menghadapinya saat ini. Proses  digitalisasi dalam dunia industry dan dalam segala bidang kehidupan kita telah memberikan pandangan baru dalam memandang arti teknologi dalam kehidupan manusia saat ini. 

Kalau begitu, pertanyaannya adalah apakah revolusi industri 4.0 itu? Dan apakah hubungannya dengan dunia pendidikan nasional kita,? Sampai dimanakah kesiapan dunia pendidikan bangsa ini dalam menghadapi era revolusi industry 4.0? Dalam kesempatan ini penulis akan mencoba menguraikannya secara singkat. 

Sejarah Era Industrialisasi Dunia 

Dosen Institut Teknologi Bandung (ITB), Richard Mengko, yang mengambil sumber dari A.T. Kearney, mengungkap sejarah revolusi industri yang sampai akhirnya menyentuh generasi ke-4 ini. Berikut ini empat tahap evolusi industri dari dahulu hingga saat ini.

1. Akhir abad ke-18 

Revolusi industri yang pertama terjadi pada akhir abad ke-18. Ditandai dengan ditemukannya alat tenun mekanis pertama pada 1784. Kala itu, industri diperkenalkan dengan fasilitas produksi mekanis menggunakan tenaga air dan uap. Peralatan kerja yang awalnya bergantung pada tenaga manusia dan hewan akhirnya digantikan dengan mesin tersebut. Banyak orang menganggur tapi produksi diyakini berlipat ganda.

2. Awal abad ke-20 

Revolusi industri 2.0 terjadi di awal abad ke-20. Kala itu ada pengenalan produksi massal berdasarkan pembagian kerja. Lini produksi pertama melibatkan rumah potong hewan di Cincinnati, Amerika Serikat, pada 1870. 

3. Awal 1970

Pada awal tahun 1970 ditengarai sebagai perdana kemunculan revolusi industri 3.0. Dimulai dengan penggunaan elektronik dan teknologi informasi guna otomatisasi produksi. Debut revolusi industri generasi ketiga ditandai dengan kemunculan pengontrol logika terprogram pertama (PLC), yakni modem 084-969. Sistem otomatisasi berbasis komputer ini membuat mesin industri tidak lagi dikendalikan manusia. Dampaknya memang biaya produksi menjadi lebih murah.

4. Awal 2018 

Saat inilah zaman revolusi industri 4.0 yang ditandai dengan sistem cyber-physical. Saat ini industri mulai menyentuh dunia virtual, berbentuk konektivitas manusia, mesin dan data, semua sudah ada di mana-mana. Istilah ini dikenal dengan nama Internet of Things (IoT). Tentunya, Pemerintah Republik Indonesia melihat peluang ini dan dianggap bisa menyumbang penciptaan lapangan kerja lebih banyak serta investasi baru yang berbasis teknologi. Sehingga dibentuklah roadmap dengan nama “Making Indonesia 4.0”. 

Konsep revolusi industri 4.0 pertama kali diperkenalkan oleh Profesor Klaus Schwab. Ekonom terkenal asal Jerman yang menulis dalam bukunya, The Fourth Industrial Revolution bahwa konsep itu telah mengubah hidup dan kerja manusia. 

Istilah "Industrie 4.0" berasal dari sebuah proyek dalam strategi teknologi canggih
pemerintah Jerman yang mengutamakan komputerisasi pabrik.  Istilah "Industrie 4.0" diangkat kembali di Hannover Fair tahun 2011. Pada Oktober 2012, Working Group on Industry 4.0 memaparkan rekomendasi pelaksanaan Industri 4.0 kepada pemerintah federal Jerman. Anggota kelompok kerja Industri 4.0 diakui sebagai bapak pendiri dan perintis Industri 4.0. 

Industry 4.0, atau yang lebih dikenal dengan revolusi industry 4.0 sesungguhnya berasal dari perkembangan teknologi dalam dunia industry dan bisnis yang memudahkan manusia dalam melakukan proses produksi, dan keseluruhan proses lainnya. Perkembangan teknologi yang mengglobal inilah yang telah merubah proses produksi industry di seluruh dunia. Tidak ada batas lagi antar Negara dalam pemanfaatan teknologi yang ada. Sehingga yang diperlukan saat ini dari sisi aspek manusia adalah sumber daya manusia yang mampu memanfaatkan kecanggihan teknologi global tersebut, mampu berfikir secara kritis, dapat memecahkan masalah secara sistematis dengan cepat, mampu berinteraksi secara global, dan mempunyai dasar kepribadian yang kuat. 

Kondisi Prihatin Pendidikan Nasional Di Era Revolusi Industri 4.0 

Mungkin tanpa melakukan penelitian sekalipun, jika ditanya apakah ada hubungan korelasional antara pendidikan dengan era revolusi industry 4.0?  jawabannya pasti ada. Mengapa demikian? Karena dapat dipastikan bahwa para pelaku atau pekerja di  dunia industry di era revolusi 4.0 saat ini dan nanti adalah para tenaga ahli yang bergerak dibidangnya masing-masing dengan memanfaatkan teknologi canggih yang ada, yang notabene mereka adalah para lulusan atau hasil dari jenjang pendidikan tingkat tertentu. 

Jika demikian, pertanyaan yang muncul berikutnya adalah, sampai dimana kesiapan para lulusan pendidikan kita secara nasional dalam menghadapi era revolusi industry 4.0? Ditambah lagi harus menghadapi persaingan dengan tenaga kerja asing yang semakin bebas masuk ke Negara ini, baik tenaga kerja asing yang full skill dan unskill

Berdasarkan data yang ada, jika digabung, lulusan SD dan SMP menguasai hampir setengah pangsa tenaga kerja di sektor manufaktur dengan 45,86 persen. Lulusan SMK yang dipersiapkan siap kerja di dunia industri hanya menyumbang 17,31 persen atau 3,16 juta pekerja. 

Ketua Komite Tetap Kadin Bidang Industri Pemberdayaan Daerah I Made Dana Tangkas menyebut tenaga kerja di sektor manufaktur didominasi lulusan SMP. Sedangkan lulusan SMK dan SMA belum bisa menghasilkan kebutuhan minimum bagi manufaktur. Sekali lagi, dengan  dominasi pekerja dengan pendidikan rendah khususnya pada sektor industri manufaktur tersebut  menimbulkan pertanyaan apakah para tenaga kerja siap dengan industri 4.0 yang banyak berkaitan dengan ekonomi digital dan teknologi robotik? 

Berdasarkan skor Indonesia untuk lingkup ASEAN saja, dalam korelasi antara talenta dengan pendidikan , kondisi pendidikan Indonesia berdasarkan Education Index yang dikeluarkan oleh Human Development Reports, pada 2017, Indonesia ada di posisi ketujuh di ASEAN dengan skor 0,622. Skor tertinggi diraih Singapura, yaitu sebesar 0,832. Peringkat kedua ditempati oleh Malaysia (0,719) dan disusul oleh Brunei Darussalam (0,704). Pada posisi keempat ada Thailand dan Filipina, keduanya sama-sama memiliki skor 0,661. 

Ditambah lagi dengan lemahnya daya saing Indonesia menurut data Global Talent Competitiveness Index (GTCI) tahun2017, untuk posisi di antara Negara-negara ASEAN,  Indonesia ada di posisi ke enam dengan skor sebesar 38,61. 

Selain daya saing negara berdasarkan kemampuan atau talenta sumber daya manusia yang dimiliki negara tersebut, beberapa indikator penilaian indeks ini yang lainnya adalah pendapatan per kapita, pendidikan, infrastruktur teknologi komputer informasi, gender, lingkungan, tingkat toleransi, hingga stabilitas politik. Di ASEAN, Singapura menempati peringkat pertama dengan skor 77,27. Peringkat berikutnya disusul oleh Malaysia (58,62), Brunei Darussalam (49,91), dan Filipina (40,94), barulah Indonesia  di posisi ke enam dengan skor sebesar 38,61. 

Untuk menghadapi persaingan dengan tenaga kerja asing yang semakin bebas masuk ke Negara ini, baik tenaga kerja asing yang full skill dan unskill, pemerintah sesungguhnya harus menyadari keprihatinan dalam hal tersebut, dan harus melakukan beberapa perbaikan, diantaranya adalah perbaikan system dan kurikulum pendidikan nasional dan penguatan sumber daya manusia (SDM). Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan pemerintah telah mengalokasikan dana yang lebih substansial di sektor pendidikan dan kesehatan. Kemenperin pun juga telah menyiapkan empat strategi guna memasuki industri 4.0 diantaranya melalui peningkatan keterampilan memahami teknologi internet serta mendorong pemanfaatan teknologi digital. Upaya menyambut industri 4.0 tidak hanya soal kecanggihan teknologi yang digunakan, kualitas SDM ketenagakerjaan justru lebih penting, dan harus menjadi perhatian utama pemerintah. Semoga saja itu semua dapat menjadi kenyataan.  

Kesimpulan dan Saran 

Para pelaku pendidikan mulai dari yang terbawah, yaitu siswa, guru, dinas pendidikan, kementrian pendidikan, bahkan sampai pemerintah harusnya sangat menyadari tentang revolusi industry 4.0 yang sudah ada di depan mata kita saat ini, jika kita tidak ingin menjadi bangsa yang semakin tertinggal karena kalah dalam persaingan sumber daya manusia dan teknologi secara regional maupun global.  Seluruh pihak pendidikan perlu memahami bagaimana mereka dapat menghubungkan dan mengaplikasikan banyak pengetahuan yang beragam yang didapatkan dari mata pelajaran di sekolah yang beragam pula untuk dapat disinergikan demi terciptanya ‘sesuatu’ yang memang berhubungan dengan dunia nyata industri saat ini. Dengan demikian siswa pada khususnya dituntut untuk dapat bekerja dalam sebuah tim untuk membangun sebuah cara baru dalam berkomunikasi, berfikir lebih kritis terhadap sesuatu, memecahkan masalah, kreatif, dan dapat memanfaatkan teknologi dengan bijak dan beradab. 

Dengan kata lain, revolusi industry 4.0 memerlukan sumber daya manusia yang baru, yaitu sumber daya manusia yang berpengetahuan dan beretika moral yang melebihi manusia lain pada umumnya. Mampukah sekolah dan system pendidikan nasional kita memenuhinya dalam waktu saat ini dan kedepannya nanti? Untuk menjawabnya, jika kita ingin siap dalam menghadapi revolusi industry 4.0, maka harus ada revolusi system pendidikan nasional, salahsatunya dengan cara menempatkan orang-orang yang memang benar-benar paham dengan pendidikan, baik di tingkat kementrian sampai tingkat dinas pendidikan daerah, sehingga tercipta profesionalisme dalam pengelolaan pendidikan nasional, merombak total kurikulum yang ada menjadi kurikulum yang berorientasi kepada teknologi dan peradaban yang baik, serta meningkatkan profesionalitas guru dalam mengajar. 

Wallahu’alambissowab










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)