Agama

Perjuangan Kita Tidak Surut dengan Waktu

Administrator | Senin, 15 Juli 2019 - 16:12:59 WIB | dibaca: 287 pembaca

JAKARTA (Parahyangan-Post.com) – Setelah  Mahkamah Konstitusi (MK) yang memenangkan paslon 01, suhu politik di tanah air yang tinggi tak kunjung mereda. Ummat dan rakyat tetap saja menilai rezim ini dibangun dengan kecurangan dan kebohongan. 

Disisi lain, segala bentuk kriminalisasi ulama, tuduhan makar terhadap para tokoh-tokoh politik dan aktivis, kematian 700 orang petugas KPPS dan sekitar 3.000 lain sakit, tanpa ada penyelidikan dan investigasi, serta tragedi tanggal 21 dan 22 Mei 2019 dengan meninggalnya sejumlah korban anak-anak tak berdosa dan sejumlah korban lainya yang masih ada dalam tahanan dan hilang belum diketemukan, masih menyisakan persoalan tersendiri.

Untuk menyikapi hal tersebut, Gerakan Kedaulatan Rakyat Untuk Keadilan dan Kemanusiaan (GERAK  KEMANUSIAAN) menggelar konfrensi pers, bertajuk sharing information serta berdikskusi masala keumatan dan kebangsaan, Rabu (10/07) di Hotel Sofyan, Tebet, Jakarta Selatan.

Hadir sekaligus narasumber dalam acara tersebut, Ust.Yusuf Muhammad Martak (Ketua GNFP Ulama), Ust.Shobri Lubis (Ketum FPI), Ust.Slamet Maarif (Ketum PA 212), Ust. Al Khothoth (FUI), Ahmad Yani (Koordinator Tim Advokasi Gerak Keadilan), Ust. Najmudin (GNPF Ulama), Ustadzah Nurdiati Akmal (Emak-Emak) dan Ust. Edi Mulyadi (Kabid Komunikasi dan Publikasi Gerak Kemanusiaan) selaku moderator dalam acara tersebut. Ketua Gerak Kemanusiaan, Ust.Abdullah Hehamahua berhalangan hadir karena masih ada kegiatan di Bandung.

Menurut Ust.Yusuf Muhammad Martak, selaku Ketua GNFP Ulama, bahwa menyikapi pasca keputusan MK, Gerak Kemanusiaan dalam acara tersebut juga memberkan pernyataan sikapnya, bahwa :  Pertama ; - Kami menolak putusan MK yang melegitimasi perbuatan kecurangan dalam Pilpres. Karena hal tersebut juga perintah agama Islam.  Jangankan satu mahkamah, sejuta mahkamah yang melegalkan perbuatan curang akan kami lawan. 

K
edua ; - Kami juga tetap akan memperjuangkan kedaulatan rakyat dan menuntut segala bentuk  kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh rezim ini.

Dan, Ketiga ; - Ada pihak-pihak yang menggoreng tentang kepulangan Habib Riziq Syihab, seperti ucapan-ucapan yang tidak senonoh dari Puan Maharani dan Moeldoko. HRS tidak takut mati, tidak takut dipenjara, tetapi rezim ini yang meminta kepada Negara Arab Saudi untuk tidak mengijinkan HRS kembali ke Indonesia (DI CEKAL). HRS hanya takut Ummat Islam jauh dari agama, takut LGBT marak di Indonesia. HRS tidak takut,  justru Rezim ini yang takut, tiap kali ada AKSI 212. Ada aseng eksodus besar-besaran meninggalkan Indonesia tiap ada Aksi 212.

Sementara itu Ketua PA 212, Slamet Maarif, bahwa Gerakan 212 dan Mujahid 212 akan memperjuangkan semua ketidak adilan, Gerakan 212 & Mujahid 212 akan memperjuangkan apabila Al Qur'an diinjak-injak oleh konstitusi manapun. Dan Ummat Islam jangan terpecah belah. Kita harus bersatu berkondolidasi, jelas Ketua PA 212.

Senada dengan Ketua PA 212, Ustadzah Nurdiati Akmal mengingatkan, kita sudah berjuang untuk Pak Prabowo jadi tolong Bapak JANGAN REKONSILIASI. Karena akan menyakiti hati kita pendukung 02. Emak-emak, lanjut Ustadzah Nurdiati Akmal,  tetap menangis karena takut pada NEO KOMUNIS. 

Kita harus ingat sejarah Ummat Islam dibantai. B
agamana dengan anak cucu kita dalam menegakkan agama Allah SWT. Saya takut kita bakal terusir dari negeri kita, masih adakah mesjid? Masih bisakah anak cucu kita beribadah?? , jelas Ustadzah yang begitu gigih dalam pergerakan dan memperjuangkan kebenaran dibawah Dinul Islam.


(ratman/pp)










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)