Opini

Kolom

Pemimpin yang Amarah, Oleh: Ismail Lutan*

Administrator | Kamis, 26 Oktober 2017 - 23:50:51 WIB | dibaca: 141 pembaca

IsmailLutan

Sulit mencari pemimpin formal yang amanah di era pilkada ini, yang banyak ditemui adalah pemimpin yang penuh amarah, dan penuh kecurigaan.

Mengapa demikian? Karena untuk menjadi pemimpin formal, katakanlah Walikota, Bupati dan Gubernur mereka harus melakukan pertarungan hidup mati yang menghalalkan semua cara untuk menang. Tidak peduli cara itu kotor atau menjijikkan.

Setelah menang, dia pun harus mempertahankannya dari gempuran pihak yang kalah, karena pihak yang kalah akan terus melalukan persekongkolan busuk untuk menghancurkan sang pemenang.

Meski pilkada usai, namun bagi pihak yang kalah pertarungan belum selesai. Kalah jadi arang-menang jadi abu.

“Aku tidak dapat, mereka juga tidak boleh kebagian!”  Demikianlah kira-kira filososfi pihak yang kalah itu. Karena mereka telah mengorbankan modal cukup besar, dan beban utang yang menggunung yang harus dikembalikan.

Di sisi lain, pihak yang menang  harus jeli melihat tipu muslihat  tim sukses yang telah bekerja keras mengusungnya hingga ke luar sebagai juara,  karena mereka akan menuntut upah dari keringat yang telah mereka kucurkan. Cara yang paling umum adalah dengan menggarong  proyek.

Kalau sang pemimpin tidak awas dan tidak  jeli, maka kursinya bisa ambruk sebelum waktunya, dan di sisi lain bui KPK pun siap menampung keteledorannya menjalankan tugas.

*

Pilkada DKI adalah contoh paling dekat dengan situasi ini. Tak heran, ada yang mengatakan pihak yang kalah bukan karena kalah pintar atau kalah cerdik tetapi kalah semata  kalah curang dan kalah licik. Karena semua tahu, dalam kontestasi ini  para petarung  melakukan semua kecurangan dan kelicikan.

Dan pihak yang menangpun belum bisa duduk tenang  menikmati pertempuran yang melelahkan itu. Buktinya  penggunaan  kata -pribumi-  saja dalam pidatonya pun menjadi senjata musuh yang akan menggoyangnya terus-menerus.

*

Inilah potret kepemimpinan formal yang ada saat ini. Tidak ada saat jeda untuk fokus mengerjakan tugas-tugas yang diamanahkan kepadanya. Sebab dia selalu disibukkan oleh tahapan-tahapan pemilu dan upaya mempertahankan diri dari serangan lawan dan bujukan kawan. Yang ada pada dirinya adalah amarah dan kecurigaan.

Lantas masih bisakah masyarakat berharap banyak kepada pemimpin yang penuh amarah dan kecurigaan ini, yang selalu disibukkan untuk mempertahankan diri dari serangan musuh dan telikungan kawan?

Sebenarnya hampir-hampir tidak ada, kecuali mereka yang ikut terlibat dan berkeringat untuk memenangkan sang pemimpin.

Maka kalau ingin menikmati hasil pembangunan haruslah berkorban bersama mereka dan rela berkeringat. Jika tidak jangan harap.

Mengharapkan pemimpin yang  amanah  seperti Khalifah Umar bin Khattab, yang memanggul karung -karung gandum dengan pundaknya sendiri, dan mengantarkan kepada fakir miskin yang mencaci-makinya karena dinilai tidak adil, adalah utopia. Sungguh hanyalah utopia belaka! Harapan seperti cuma enak dikunyah-kunyah dalam bahasa kotbah.***

*Pemimpin Redaksi Parahyangan Post










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)