Nusantara

Diskusi Forum Jakarta Baru

Pemerintah Baru Harus Fokus Pada Penanganan Sampah

Administrator | Senin, 14 Agustus 2017 - 08:00:33 WIB | dibaca: 214 pembaca

Serial Diskusi Forum Jakarta Baru, JakPas dan barisan Nusantara, Narasumber Bagong Suyoto, Amir Hamzah dan M.Shodik (foto : ratman/pp)

Jakarta, Parahyangan-post.com – Saat ini ada anggapan bahwa pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah berhasil mengatasi sampah, namun yang menjadi masalah baru sebatas memindahkan saja. Hal tersebut mengemuka pada acara diskusi yang digelar oleh Forum Jakarta Baru, Jumat (11/08) di bilangan Jatinegara, Jakarta Timur. 

Serial diskusi ke tiga Forum Jakarta Baru, dengan tema ; Mengelola Sampah, Mengatasi Banjir menghadirkan narasumber ; Bagong Suyoto aktivis dan penggiat yang selama ini fokus pada isu-isu penanganan sampah di Provinsi DKI Jakarta, M. Sodik, praktisi sekaligus pelaku pengelolaan sampah melalui Industri , jugasalah satu pimpinan perusahaan pengolahan sampah dan Amir Hamszah praktisi dan pengemat kebijakan publik di Provinsi DKI Jakarta.

Menurut Bagong Suyoto, bahwa saat ini penanganan sampah sudah relatif bagus, namun  kesadaran masyarakat untuk membuang sampah secara benar masih rendah dan kurang peduli. Sementara penanganan sampah yang dilakukan pemerintah baru sebatas memindahkan saja, belum pada tingkat pengolahan yang menjadikan sampah menjadi sumber daya yang bermanfaat, masih banyak kendalanya.

Lebih lanjut menurut pria yang akrab di panggil Bagong, bahwa selama ini pengiriman sampah ke Bantar Gebang justru semakin meningkat, ini menunjukann bahwa penanganan sampah di Provisi DKI Jakarta belum berhasil, baru sebatas memindahkan saja.

“Harusnya di Provisi DKI Jakarta punya pengolahan sampah sendiri, sehingga dari jumlah total sampah yang dihasilkan oleh warga DKI Jakarta, hanya sekitar 20% saja yang dibuang ke Bantar Gebang dengan catatan harus sudah terpilah dengan baik, dan selebihnya diolah, paling tidak DKI harus punya tempat pengolahan sendiri,”jelas Bagong.

Point penting dari  persoalan sampah lanjut Bagong, adalah merubah paradigma dan gaya hidup, serta mengembalikan sampah menjadi sumber daya yang berguna. Paradigma lama pengelolaan sampah; kumpulkan ,angkut dan buang.

Dalam masterplan pengolahan sampah di Pemprov DKI Jakarta sebenarnya ada target, semakin kecil prosentase pembuangan sampahnya berarti semakin berhasil, pungkas Bagong.

Sementara itu, pembicaraq berikutnya Amir Hamzah megatakan bahwa persoalan sampah di DKI Jakarta menjadi masalah yang serius sejak era Gubernur Sutiyoso sekitar tahun 2008, keluar UU tentang sampah, baru saat itu Pemprov DKI Jakarta berpikir, mencari lahan untuk pembuangan/penampungan sampah di wilayah DKI Jakarta sulit, akhirnya kerjasama dengan PT.Godang Jaya di Bantar Gebang, kontraknya sampai 20 tahun.

Pada tahun 2003, era Gubernur Ahok, mengorek persoalan tersebut dan ingin mengelola sendiri, tapi justru nilainya lebih mahal.  Kedepan, lanjut Amir Hamzah masalah persoalan sampah yang harus diutamakan adalah regulasinya.

“Persoalan yang akan ditemuai oleh pasangan Anies – Sandi sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur di Provinsi DKI Jakarta, adalah maslah sampah,”jelas Amir Hamzah.

Untuk itu lanjutnya, Gubernur terpilih nantinya harus segera melihat apa saja yang tidak dijalankan dalam pengelolaan sampah, sementara hal tersebut merupakan syarat penting dalam pengelolaan sampah.

Amir Hamzah juga menjelaskan bahwa pergub yang mengatur dan menetukan tentang angkutan sampah, tapi sampai saat ini tidak ada, artinya harus serius melihat kembali, apakah regulasi terkait pengelolan sampah sudah terpenuhi atau belum.

“Pengelolaan maslah sampah akan berjalan dengan baik jika melibatkan masyarakat, “tambah Amir Hamzah.

Disisi lain, M. Sodik lebih menyoroti pengelolaan sampah dari sisi teknologi dan industrialisasi. Senada dengan Bagong Suyoto, Sodik juga menegaskan bahwa di DKI Jakarta harus punya industri  yang mampu mengolah sampah dalam jumlah cukup besar. Disamping itu menurut Sodik bahwa pengolahan sampah harus dilakukan oleh pihak swasta.

“Sampah di Jakarta, lanjut Sodik dalam waktu dua hari sekali besar dan tingginya bisa menyamai candi Borobudur, bisa dibayangkan kalau ini tidak ditangani secara serius oleh pemerintah mendatang, sementara regulasi terkait sampah itu sendiri sangat lemah,”jelas  M.Sodik.

Dari berbagai kajian dan studi banding yang telah dilakukannya, untuk industrialisasi sampah menurut Sodik, program Intermediate Treatment Facility (ITF) yang paling memungkinkan untuk dilakukan di DKI Jakarta.  Dan program ini lanjut pria yang selama ini malang melintang dalam penanganan teknologi dan industri terkait sampah, sudah banyak diterapkan di negara lain dengan keberhasilan yang cukup bagus.

(ratman/pp)

 










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)