Edukasi

PANDANGAN UMUM IBNU KHALDUN TENTANG PENDIDIKAN DAN KENEGARAAN

Administrator | Rabu, 20 November 2019 - 16:15:35 WIB | dibaca: 152 pembaca

Oleh: J. Faisal

Pemerhati Pendidikan/Mahasiswa Doktoral Sekolah Pascasarjana UIKA Bogor

 

Pandangan Umum Ibnu Khaldun Tentang Pendidikan

Di dalam kitab Muqaddimahnya, 600 tahun yang lalu, Ibnu Khaldun telah memberikan gambaran umum tentang arti pendidikan, khususnya pendidikan Islam, juga tentang sosiologi kemasyarakatan dan kenegaraan.  

Secara khusus Ibnu Khaldun mengatakan bahwa barangsiapa manusia yang tidak terdidik oleh orangtuanya, maka akan terdidik oleh zaman. Maksudnya adalah barangsiapa manusia yang tidak memperoleh pelajaran adab untuk pertamakali dari orangtuanya, yang dibutuhkan sehubungan pergaulan bersama yang mencakup guru-guru dan para sesepuh, dan juga tidak mempelajarinya dari mereka, maka manusia tersebut akan mempelajarinya dengan bantuan alam, dari peristiwa-peristiwa yang terjadi sepanjang zaman, zaman akan mengajarkannya.

Dari pendapatnya ini dapat diketahui bahwa pendidikan menurut Ibnu Khaldun mempunyai pengertian yang cukup luas. Pendidikan bukan hanya proses belajar mengajar di dalam ruangan kelas yang sempit, seperti yang terjadi di dunia saat ini, tetapi pendidikan adalah suatu proses dimana manusia secara sadar menangkap, menyerap, dan menmghayati peristiwa-peristiwa alam sepanjang zaman. 

Keseimbangan dalam meraih kebahagiaan dunia dan akhirat adalah merupakan inti dari konsep pendidikan yang difikirkan oleh Ibnu Khaldun. Hal ini terbukti dari pandangannya mengenai materi pendidikan, karena materi pendidikan adalah merupakan salahsatu komponen operasional pendidikan, maka dalam hal ini Ibnu Khaldun telah mengklasifikasikan ilmu pengetahuan menjadi dua macam, yaitu: 

Ilmu-Ilmu Tradisional (Naqliyah) 

Ilmu naqliyah adalah yang bersumber dari Al Qur’an dan hadits yang dalam hal ini peran akal hanyalah menggabungkan cabang permasalahan dengan cabang utama, karena informasi ilmu ini berdasarkan kepada otoritas syariat yang diambil dari Al Qur’an dan hadits. Adapun yang termasuk ke dalam ilmu-ilmu naqliyah itu antara lain: ilmu tafsir, ilmu qiraat, ilmu hadits, ilmu ushul fikih, ilmu fikih, ilmu kalam, ilmu bahasa Arab, ilmu tasawuf, dan ilmu tabir mimpi. 

Ilmu-ilmu filsafat atau rasional (Aqliyah) 

Ilmu ini bersifat alami bagi manusia, yang diperolehnya dari kemampuannya untuk berfikir. Ilmu ini dimiliki semua anggota masyarakat di dunia, dan sudah ada sejak mula kehidupan peradaban umat manusia di dunia. Menurut Ibnu Khaldun, ilmu-ilmu filsafat (aqliyah) ini dibagi menjadi empat macam ilmu, yaitu:
Ilmu logika, Ilmu fisika, Ilmu metafisika, Ilmu matematika.  

Berdasarkan kepentingannya, Ibnu Khaldun membagi ilmu menjadi empat macam, yaitu:
Ilmu agama (syariat), yang terdiri dari tafsir, hadits, fiqh, dan ilmu kalam. Ilmu aqliyah, yang terdiri dari ilmu fisika, dan ilmu metafisika (Ketuhanan). Ilmu alat, yang membantu mempelajari ilmu agama (syariat), yang terdiri dari ilmu bahasa Arab, ilmu hitung, dan ilmu-ilmu lain yang membantu mempelajari agama. Ilmu alat yang membantu mempelajari ilmu filsafat, yaitu logika. 

Jadi, setelah kita mengetahui tentang dasar-dasar keilmuan hasil pemikiran Ibnu Khaldun,  masihkah kita membanggakan dan malah menggunakan teori-teori pendidikan yang asalnya dari Barat, yang membuang unsur Illahiyah dalam teori berfikir mereka (baca: sekuler dan liberal),  sedangkan para ahli pendidikan Barat itu sendiri sebenarnya menggunakan teori-teori Ibnu Khaldun  (yang ebenarnya sangat menanamkan unsur Illahiyah) sebagai landasan berfikir mereka? 

Pandangan Umum Ibnu Khaldun Tentang Kenegaraan 

Sedangkan dalam bidang kemasrakatan dan kenegaraan, Ibnu Khaldun sangat meyakini sekali, bahwa pada dasarnya negera-negara berdiri bergantung pada generasi pertama (pendiri negara) yang memiliki tekad dan kekuatan untuk mendirikan negara. Lalu, disusul oleh generasi ke dua yang menikmati kestabilan dan kemakmuran yang ditinggalkan generasi pertama. Kemudian, akan datang generasi ke tiga yang tumbuh menuju ketenangan, kesenangan, dan terbujuk oleh materi sehingga sedikit demi sedikit bangunan-bangunan spiritual melemah dan negara itu pun hancur, baik akibat kelemahan internal maupun karena serangan musuh-musuh yang kuat dari luar yang selalu mengawasi kelemahannya, dan inilah yang dirasakan oleh kita terhadap Negara kita tercinta saat ini.  

Karena pemikiran-pemikirannya yang briliyan Ibnu Khaldun dipandang sebagai peletak dasar ilmu-ilmu sosial dan politik Islam. Dasar pendidikan Alquran yang diterapkan oleh ayahnya menjadikan Ibnu Khaldun mengerti tentang Islam, dan giat mencari ilmu selain ilmu-ilmu keislaman. Sebagai Muslim dan hafidz Alquran, ia menjunjung tinggi akan kehebatan Alquran. Sebagaimana dikatakan olehnya, “Ketahuilah bahwa pendidikan Alquran termasuk syiar agama yang diterima oleh umat Islam di seluruh dunia Islam. Oleh kerena itu pendidikan Alquran dapat meresap ke dalam hati dan memperkuat iman. Dan pengajaran Alquran pun patut diutamakan sebelum mengembangkan ilmu-ilmu yang lain.”
  

Jadi, nilai-nilai spiritual sangat diutamakan sekali dalam kajiannya, disamping mengkaji ilmu-ilmu lainnya. Kehancuran suatu Negara, masyarakat, ataupun secara individu dapat disebabkan oleh lemahnya nilai-nilai spiritual. Pendidikan agama sangatlah penting sekali sebagai dasar untuk menjadikan insan yang beriman dan bertaqwa untuk kemaslahatan umat. 

Jika demikian, apakah kemaslahatan umat bisa terjadi di Indonesia, jika melihat tentang pelajaran agama yang terus direduksi oleh pemerintahnya sendiri dalam dunia pendidikan di negara ini? Hal ini terbukti dengan dikeluarkannya wacana tentang penghapusan pelajaran agama Islam dalam kurikulum pendidikan Indonesia tahun 2019 oleh kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. 

Jika saja Ibnu Khaldun masih hidup dan melihat kondisi pendidikan dan kenegaraan yang sedang terjadi di Negara dengan jumlah muslim terbesar di dunia ini, pasti beliau akan beristighfar dan berdo’a, “Ya Allah, kuatkanlah penduduk muslim Indonesia dalam menghadapi rezim tirani pemerintahannya yang sangat membenci Islam dan tidak berdaya dengan tekanan Negara asing untuk menghancurkan umat muslimnya sendiri.” 

Wallahu’alam bissowab 

(
Sumber tulisan: Kitab Mukaddimah Ibnu Khaldun)










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)