Edukasi

Orasi Ilmiah Prof DR R Agus Sartono, MBA, Pada Dies Natalis FEB UGM ke 64

Administrator | Kamis, 19 September 2019 - 11:20:07 WIB | dibaca: 195 pembaca

YOGYAKARTA (Parahyangan-Post.com) --- Dalam rangka menyambut Dies Natalis Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Gadjah Mada yang ke 64, salah satu rangkaian agenda dari kegiatan tersebut adalah Orasi Ilmiah, Prof DR R Agus Sartono, MBA yang rencananya akan digelar, Kamis (19/09) di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. 

Prof. Agus Sartono, dalam orasi ilmiahnya akan menyoroti tentang,
Tech-Company, Start-up, dan Fintech : Tren dan Perubahan Lanskap Keuangan. Dalam pandangan Agus Sartono, istilah tech-companies, star-up, dan fintech telah menjadisalah satu kata yang sangat populer pada beberapa tahun belakangan ini. 

Popularitas istilah tersebut seiring dengan sangat seringnya istilah tersebut diucapkan berbagai kalngan baik pelaku bisnis, investor, regilator, ataupun citivas akademik serta seolah menjadi indikator untuk dikatakan mengikuti tren. 

Saat ini, kita menyaksikan perkembangan ekonomi dan bisnis yang sangat pesat dengan dukungan berbagai kemajuan di bidang teknologi informasi, komputasi dan sebagainya. Tren ini di iringi dengan munculnya perusahaan yang umumnya mendapat keunggulan kompetitif dari sumber daya digital. Bisnis digital merupakan bisnis/perusahaan yang menciptakan model bisnis baru dan rantai nilai
(value chain) baru yang tidak dapat dilakukan oleh perusahaan/bisnis era sebelumnya. 

Mereka mungkin menggunakan teknologi dan platform digital untuk menawarkan produk dan pengalaman baru, dengan demikian, berbeda dengan
e-business yang tidak menawarkan kebaruan/inovasi dan hanya sebatas menggunakan teknologi untuk menjalankan model bisnis lama agar lebih efisien. 

Jika mendengar istilah bisnis digital, kebanyakan orang dengan cepat akan mengakitkanya dengan istilah fintech, start-up, electronic platforms, digital economy, disruptive innovations dan seterusnya. Tech companies memiliki beragam pengertian walaupun sebagian besar setuju perusahaan seperti Google, Amazon, Expedia, Facebook ataupun Apple merupakan contoh perusahaan ini. Sebagian kalangan berpendapat bahwa tech companies adalah perusahaan yang berinovasi di bidang teknologi dan pengembangan teknologi menjadi bisnis intinya.
Dalam dokumen Form 10-K Facebook kepada SEC, misalnya, menyatakan: “…Our business is characterized by innovation, rapid change, and disruptive technologies…” 

Hal ini membedakan dari perusahaan yang menggunakan teknologi seperti bank yang menggunakan
sistem operasi modern atau pabrik dengan peralatan otomatis dalam operasinya. Sebagian yang lain memahami tech company sebagai suatu perusahaan yang beroperasi secara disruptif dengan inovasi atas caranya beroperasi selama ini. 

Secara umum
tech company dicirikan dengan adanya inovasi, kegiatan litbang (R&D) dan peluncuran produk yang cukup sering dengan tujuan untuk memudahkah pemecahan masalah, serta dengan teknologi tersebut mereka dapat menawarkan pengalaman unik, proses lebih mudah, intuitif dan cepat. Kita juga dapat mencatat, misalnya, dari 1000 perusahaan paling inovatif di dunia yang nilai litbangnya setara 40% total nilai litbang dunia, 9 dari 20 teratas ditempati oleh tech company. Fenomena yang sama terjadi pada periode 2018 dari survey oleh PwC. 

Sementara itu
start-up dikaitkan dengan apa yang terjadi pada dekade beberapa tahun terkahir ini dimana kita menyaksikan pertumbuhan usaha baru yang belum pernah ada sebelumnya; yaitu entitas usaha baru yang umumnya di cirikan dengan 1) penggunaan teknologi untuk mempercepat dan menyederhanakan transaksi/proses bisnis, dan 2) banyaknya pelaku dan investor baru yang masuk pada usaha tersebut. Lihatlah, misalnya Uber yang nilainya $41 milyar padahal umurnya baru 6 tahun, Airbnb yang mengubah rumah menjadi hotel dan valuasinya mencapai sekitar $26 milyar, atau Gojek yang telah beroperasi di 204 kota di Asia Tenggara yang nilainya sekitar $9,5 milyar dan diperkirakan hingga akhir tahun akan melewati $10 milyar. 

Guru Besar di Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM ini juga menguraikan terkait penjelasan dan definisi star-up, bahwa pengertian star-up dapat merupakan perusahaan yang (baru) didirikan oleh satu atau beberapa orang yang menwarkan barang/jasa ke pasar sebagai solusi atas permasalahan yang terjadi di masyarakat. Perusahaan ini termasuk muda (umur baru beberapa tahun) dengan beberapa staf serta modal yang terbatas serta mengandalkan penggunaan teknologi dalam proses bisnisnya. 

Hal yang menjadi salah satu pembeda antara star-up misalnya Traveloka dengan UMKM misalnya Nusantara Travel dimana teknologi yang digunakan pada proses bisnis star-up mampu mendukung pertumbuhan yang dratis dan lintas batas secara cepat. Sebagai perusahaan yang baru berdiri star-up juga memerlukan tambahan modal dari investor luar karena keterbatasan modal pendiri. 

Perusahaan rintisan saat ini dapat ditemukan diberbagai sektor, antara lain transportasi/travel, layanan rumah tangga, logistik, toko/retailer online, manajemen data,
hardware/software developer, ataupun keuangan (financial technology, fintech). Dengan demikian start-up tidak selalu terkait dengan sektor ekonomi tertentu, dan jika perusahaan tersebut berinovasi dalam pengembangan teknologi maka ia dapat dikatakan tech start-up. 

Sementara itu, entitas bisnis berbentuk
fintech kini telah menjadi salah satu fenomena global, nasional, bahkan lokal. Keberadaan fintech mendapat perhatian dari berbagai kalangan dan menjadi salah satu agenda penting pertemuan tahunan Bank Dunia, IMF, dan otoritas keuangan negara-negara peserta yang tercermin dalam the Bali Fintech Agenda. 

Secara umum,
fintech dapat diartikan sebagai evolusi interaksi antara teknologi dan layanan keuangan. Pengertian ini meliputi semua perusahaan yang mengembangkan model bisnis layanan keuangan baru dan berbasis pada solusi teknologi yang inovatif, disruptif, dan efisien (Lee & Shin, 2017). 

Fintech
dalam hal ini bersifat menganggu layanan keuangan yang telah ada (Lloyd, et al., 2016) dan tidak hanya terkait pada satu produk/layanan spesifik tetapi terkait dengan semua kategori produk finansial yang diredesain ulang (Leong et al., 2017; PwC, 2016). Fintech telah merambah di sisi pembayaran (payments), pembiayaan konsumen, pendanaan ekuitas UMKM (peer to peer lending misalnya), produk turunan (derivative) retail, dan bahkan rantai nilai pasar keuangan (Dula et al., 2018). 

Kita menyaksikan munculnya perusahaan rintisan
(start-up)  tumbuh (start-up) ataupun fintech dengan cepat baik secara cakupan (scope) dan ukuran (scale). Kita dapat mengidentifikasi bahwa munculya perusahaan rintisan tersebut memicu kecenderungan (trend) dan perubahan yang signifikan di sektor-sektor dimana mereka beroperasi. Beberapa hal yang dapat dicatat antara lain sebagai berikut. 

Pertama, perusahaan tersebut saat ini tumbuh seiring dengan munculnya inovasi produk dan proses bisnis, yang tidak hanya terjadi di negara maju tetapi juga bermunculan di negara berkembang. Pelaku dan pendiri
start-up umumnya mengidentifikasi permasalahan yang ada dimasyarakat dan menawarkan solusi yang tidak ada sebelumnya. Solusi ini sebagian besar kemudian disediakan melalui penggunaan media elektronik/IT, aplikasi atau laman sehingga layanan dapat sangat luas dan diakses oleh semua kalangan kapanpun dan darimanapun. Hal ini memicu munculnya model bisnis baru yang tumbuh dengan cepat dengan skala makin luas. 

Perusahaan yang memerlukan dana untuk investasi pada umumnya akan memenuhi kebutuhan pendanaan dari sumber pendanaan tradisional seperti kredit bank, pembiayaan
proyek (project financing), ataupun IPO. Sebaliknya, banyak perusahaan rintisan atau star upstart-up ataupun fintech didirikan dengan mengandalkan modal pendiri yang kemudian mereka menarik investor semacam venture capitalist/s/angel investors untuk menanamkan modal dengan tingkat kembalian yang tidak pasti. 

Model pendanaan yang digunakan dapat dikatakan lebih sederhana, proses relatif cepat dan menjadi jalan keluar dari kompleksnya dan kehati-hatian pendanaan dari bank (
bank loans). Dari sisi ini, model pendanaan (fund rising) yang dilakukan oleh perusahaan ini menawarkan keunggulan (kecepatan dan aturan yang lebih longgar) dibanding pendanaan dari lembaga keuangan tradisional (bank dan sebagainya)Bahkan, beberapa start-up berhasil mendapatkan pendanaan jutaan dollar hanya dengan menjual ide yang belum diwujudkan dan belum tentu berhasil mereka produksi. Orang yang memberikan pendanaan tidak disebut sebagai investor, melainkan pembeli awal (pre-production buyer atau lebih dikenal dengan istilah backer), sehingga perusahaan tidak punya kewajiban melakukan transparansi kondisi keuangannya dan tidak ada kewajiban pula memenuhi berbagai regulasi dari otoritas jasa keuangan. Beberapa contoh start-up yang melakukan fund rising dengan cara ini dapat dilihat di portal seperti www. kickstarter.com 

Selanjutnya, perusahaan rintisan umumnya dicirikan dengan kebaruan produk/model bisnis, inovasi dengan prospek potensial, budaya perusahaan yang dinamis dan selalu beranjak dari kemapanan. Karakteristik ini memunculkan inovasi disruptif dengan implikasi beragam mulai dari menemukan produk baru, menciptakan pasar baru bahkan merusak/menganggu konstelasi persaingan dan struktur pasar. 

Traveloka, misalnya, menawarkan model bisnis penjualan tiket penerbangan/hotel melalui internet, menggeser agen tiket fisik, dan mengubah peta persaingan di industri tersebut. Hal yang sama ketika Amazon mampu menggusur jaringan toko buku besar dan membuat pelanggan beralih ke Amazon sementara tia tidak memerlukan ruang simpan/rak dan persediaan buku yang besar. 

Inilah salah satu yang membuat peta persaingan berubah. Di Jerman, misalnya, 60% penjualan
start-up didapat dari pembeli yang beralih dari perusahaan eksisting (Schneck dan May-Strobl, 2015). Fakta tersebut didukung oleh survey PwC (2016) yang menemukan bahwa 83% institusi keuangan meyakini bahwa berbagai aspek bisnisnya terpapar risiko dari munculnya fintech start-ups. Menyadari hal tersebut, kini berbagai institusi finansial tradisional memerlukan peningkatan kapabilitas dengan berinvestasi di area fintech agar tetap kompetitif. 

Pertumbuhan
start upstart-up dan fintech sangat didukung oleh perkembangan teknologi infomasi selama beberapa tahun terkahir. Pasar keduanya telah tumbuh hingga mencapai compound annual growth rate (CAGR) sebesar 27% selama periode 2008-2013 (McKinsey & Co, 2016). Selanjutnya, survey KPMG tahun 2018 menunjukkan pertumbuhan fintech secara global mencapai USD111,1 milyar dengan pertumbuhan lebih dari dua kali lipat sejak 2017 (KPMG, 2019). Pertumbuhan tersebut sebagian besar di capai dengan adanya proses merger dan akuisis/, buyout. 

Sementara itu pada tahun yang sama, di Asia Pasific, Deloitte mencatat pertumbuhan pesat pada 500 perusahaan teknologi (
tech companies) pada level 987 persen per tahun dan mencapai 17.300 persen pada 10 perusahaan dengan pertumbuhan tercepat. Di masa selanjutnya, pertumbuhan tersebut akan terus meningkat karena beberapa hal seperti menurunnya kepercayaan konsumen atas perbankan tradisonal yang diwarnai dengan berbagai skandal dan kejadian berisiko seperti system errors/interruptions, hacking/intrusions, virus dan sebagainya, makin mudahnya layanan keuangan non tradisional termasuk branchless banking, dan generasi baru (IT-savvy customer) yang tumbuh bersama naikknya konektivitas/mobilitas dan mendambakan solusi yang ditawarkan start-up atau fintech.      

Peran penting
tech companies, start upstart-up, dan fintech tampak di berbagai level. Dalam berbagai literature, perusahaan tersebut akan berkontribusi secara substansial bagi perbaikan dan inovasi barang, proses dan aplikasi (Schumpeter, 1942; Baumoul, 1986). Dalam laporannya, Bank Dunia (2019) menyatakan perkembangan teknologi digital berdampak pada perkembangan pesat berbagai perusahaan dan mengaburkan batas antara perusahaan model tradisional dengan perusahaan baru berbasis platform digital. Munculnya digital patform/marketplace membuat dampak teknologi dapat menjangkau lebih banyak orang dengan lebih cepat dan lebih murah. Misalnya, IKEA, perusahaan Swedia, membutuhkan sekitar 7 dekade sejak didirikan di 1943 untuk mencapai pendapatan US$42 milyar sementara Alibaba dari Tiongkok hanya membutuhkan 2 tahun untuk mendapat 1 juta pengguna dan 15 tahun untuk mencapai pendapatan tahunan US$700 milyar dengan 9 juta penjual. 

Secara global, misalnya, investasi
global pada perusahaan fintech di 2018 mencapai $111,8 miliar yang menunmjukkan kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi global. Di Australia, tech diestimasi berkontribusi 0,1% PDB di tahun 2013 dan akan naik menjadi 1,1% di tahun 2023 serta menjadi 4% (AUS109 milyar) di 2033 (PwC, 2013). Di Indonesia, Gojek, misalnya, menyumbang Rp9,9 triliun per tahun dalam bentuk penghasilan yang diperoleh lebih dari 10 juta mitra pengemudi (naik 44% sejak bergabung) dan mitra UMKM.  

Sementara itu, riset oleh CSIS tahun 2018 mengungkapan kontribusi Grab sebesar Rp48,9T secara total dan Rp46,16 T diantaranya dalam bentuk surplus konsumen di Jabodetabek. Lebih jauh, driver GrabBike dan GrabCar pendapatannya meningkat 113% dan 114%, menjadi rata-rata Rp 4 juta dan Rp 7 juta
. Penggunaan teknologi dan model bisnis yang dilakukan oleh Gojek mampu menekan harga yang ditanggung konsumen, menaikkan omset dan memberikan jam kerja fleksibel bagi pengemudi, dan solusi pengnagguran terutama saat perekonomian memburuk (red. sebagai buffer). 

Sebagai negara berkembang dengan pertumbuhan berkisar 5,5-6% per tahun, Indonesia membutuhkan lebih banyak sumber pendanaan bagi perusahaan untuk investasi dalam bentuk belanja modal (
capital budgeting) ataupun modal kerja. Selama ini sebagian besar pelaku usaha mengandalkan bank dan lembaga keuangan konvesional lain (bank) dalam memenuhi kebutuhan pendanaan. Faktanya, permintaan pendanaan semua pelaku usaha tidak dapat dicukupi oleh institusi tersebut. Kekurangan ini (financing gap) dapat diisi oleh tech company terutama berjenis fintech

Bahkan, Bank Indonesia memperkirakan pada 2023, sebanyak 2,5% dari permintaan kredit akan dapat dipenuhi oleh sektor ini
. Dengan demikian, perusahaan seperti fintech dan sebagainya akan mampu meningkatkan inklusi keuangan dengan meamasuki pasar yang selama ini dianggap unbankable dan under-served

Perusahaan teknologi (
tech company), start-up ataupun fintech dituntut untuk terus berinovasi dan tidak berhenti saat mencapai zona nyaman. Untuk alasan tersebut, mereka akan terdepan dalam dan menganggarkan sejumlah besar dana untuk kegiatan penelitian dan pengembangan (R&D). Survey tahunan PwC pada tahun 2018 menunjukkan bahwa tech company selalu berada pada rangking teratas belanja penelitian dan pengembangan (R&D) dalam Global Innovation 1000. 

Pada tahun 2018, Facebook berada pada posisi 20 teratas dengan belaja R&D sebesar USD7,8 milyar (naik 31% dari 2017), sementara Amazon pada posisi teratas dengan total belanja USD22,6 milyar (naik 40,6% dari 2017). Survey tersebut menemukan bahwa diantara perusahaan terbesar dalam belanja R&D adalah
tech-companies yaitu Apple, Amazon, dan Alphabet (induk perusahaan Google) dengan belanja R&D diatas belanja oleh Microsoft. 

Meskipun perusahaan teknologi,
ataupun fintech menarik minat berbagai pelanggan, investor dan pelaku baru, mereka dalam berbagai aspek dapat dikatakan memiliki risiko cukup besar yang terkait beberapa aspek. Dalam survey 2018, misalnya, Deloitte mencatat tingkat pertumbuhan dari 500 perusahaan teknologi di Kawasan Asia Pasific dimana rerata pertumbuhan pendapatan untuk 10 teratas mencapai 17.314% dengan bidang usaha dominan di area software dan diikuti media dan hardware

Namun tidak seperti perusahaan umumnya, misalnya perusahaan produk konsumer, pertumbuhan yang tinggi pada perusahaan-perusahaan tersebut seringkali dipicu oleh tingginya pertumbuhan pengguna (
user) atau pelanggan (subscriber) yang diperiode yang akan datang dapat di monetasi untuk mendapat estimasi aliran kas dan nilai perusahaan. Pertumbuhan yang sangat tinggi dalam berbagai konsep ekonomi dan keuangan tidak akan dapat di pertahankan terus menerus (sustainable) karena berbagai hal seperti munculnya pemain baru (new entrants) atau pasar menjadi jenuh (saturated). 

Sebagian perusahaan di atas tidak (atau paling tidak belum) menunjukkan adanya laba bahkan pendapatan sama sekali. Sebagai contoh, W
ahatsApp yang terlahir 5 tahun setelah Facebook pada akhirnya di akuisisi oleh Facebook dengan nilai US$19 milyar dimana pada bulan Februari 2014 banyak pengamat menyatakan bahwa nilai sebesar itu dianggap tidak masuk akal dan terlalu tinggi bahkan disebut sebagai judi yang dilakukan oleh Zukerberg. Saat itu WhatsApp sangat tidak profitable, hanya memiliki 55 karyawan namun dengan 450 juta pengguna per bulan dan 1 juta pengguna baru per hari. 

Transaksi akuisisi ini melebihi nilai akusisi Tumblr oleh Yahoo di 2013 (senilai US$1,1 milyar) ataupun Skype oleh Microsoft di 2011 (senilai US$8,5 milyar). Fakta ini juga menggarisbawahi bahwa perusahaan yang mengakuisisi (acquiring company) juga tidak akan selalu membukukan pendapatan ataupun laba. Perbedaan estimasi nilai antar analis dan antar perusahaan tersebut tampaknya mencerminkan adanya informasi asimetris, perbedaan asumsi/ekspektasi dari berbagai aspek bisnis perusahaan yang bersangkutan dan bahkan pendekatan penilaian perusahaan/corporate valuation. Selama ini model dalam mengukur nilai perusahaaan didasarkan atas kemampuan asset profolio dalam menciptakan free cash flows pada di masa datang. 

Perusahaan teknologi,
start-up ataupun fintech menghadapi tantangan dalam mempertahankan dan menaikkan jumlah pelanggan mengingat hal tersebut sangat terkait dengan kinerja keuangan. Pelanggan/pengguna produk perusahaan tersebut pada saat yang sama dapat menggunakan produk perusahaan kompetitor yang menawarkan atribut mirip. Perusahaan-perusahaan tersebut umumnya pada tahap perkenalan (introduction) maka penting untuk mewujudkan persepsi produk yang bermanfaat, handal, dan dapat dipercaya. Facebook, misalnya, mengidentifikasi paling tidak ada 23 faktor terkait kompetisi yang dapat berdampak negatif terhadap retensi dan pertumbuhan pelanggan. 

Keberadaan perusahaan tersebut di atas juga tidak luput dari risiko operasional terutama terkait keamanan sistem dan data. Pada era digitalisasi saat ini
, hampir semua perusaahaan terpapar cyber-attacks dari pihak lain yang mencoba mendapat akses illegal baik untuk menganggu/menghentikan layanan ataupun mendapat data pengguna/pelanggan perusahaan. Informasi seperti data pribadi, data keuangan/pembayaran atau data lain dapat disalahgunakan dan merusak reputasi serta posisi kompetitif perusahaan. Misalnya, data dari pelanggan berpotensi disalah gunakan oleh platform developer untuk mendapat keuntungan dengan menjualnya ke pihak ketiga. 

Prof. Agus Sartono juga memaparkan secara detail terkait metode penilaian. Khusunya, pada perusahaan teknologi ataupun
start-up dimana technology life cycle cenderung semakin pendek, proyeksi aliran kas sangat tidak mudah dilakukan karena faktor ketidakpastian yang sangat tinggi dari sifat dan tahapan hidup bisnisnya dan bahkan perusahaan mungkin tidak memiliki penjualan sama sekali seperti pada WhatsApp. Pendekatan DCF juga dapat dilakukan dengan menggunakan Adjusted Present Value (APV) dimana nilai perusahaan di estimasi dengan asumsi pendanaan ekuitas yang kemudian disesuaikan nilainya oleh adanya dampak keuangan karena pendanaan tambahan berbentuk utang. 

Kemunculan perusahaan digital dan kemudian diikuti dengan kejatuhan industri pernah terjadi sebelumnya. Pada akhir 1990an bermunculan berbagai perusahaan rintisan yang saat itu dikenal dengan perusahaan dot com. Salah satu contoh yang sangat fenomal saat itu adalah pets.com, sebuah perusahaan
e-commerce yang menjual berbagai produk terkait hewan piaraan melalui internet. Perusahaan ini didirikan pada bulan November 1998 dan dinyatakan bangkrut pada November 2000 setelah sepuluh bulan sebelumnya (Februari, 2000) go public di bursa NASDAQ dan berhasil mendapatkan modal US$82 juta. 

Ada banyak perusahaan sejenis saat itu yang juga mengalami nasib yang sama dengan pets.com, meskipun umurnya tidak sependek pets.com, namun memiliki karakteristik yang sama yaitu: menarik dana dari para investor di bursa saham dengan menjanjikan bahwa dimasa depan nilai perusahaan akan semakin bertumbuh seiring dengan pertumbuhan penjualan, jumlah user, jumlah visitor ke gerai online, dan
user review

Perusahaan-perusahaan tersebut belum menghasilkan profit, bahkan beberapa diantaranya belum menghasilkan
revenue karena layanan yang diberikan bersifat gratis. Biaya operasi meningkat tajam terutama untuk mendukung kegiatan promosi yang agresif untuk meningkatkan jumlah user, visitor, dan penjualan. 

Namun demikian, biaya promosi tersebut jauh melampaui penjualan yang dihasilkan. Pets.com menggelontorkan dana US$11,8 juta untuk iklan padahal nilai penjualannya hanya US$ 619 ribu. Fenomena ini menjelaskan
dot com bubble yang akhirnya pecah diakhir tahun 2000. Pertanyaannya, apakah bermunculannya berbagai teknologi akhir-akhir ini adalah sekedar gelembung (bubble) yang nantinya akan pecah? 

Sementara kemunculan perusahaan teknologi setelah
dot com bubble burst menunjukkan dinamika dan pertumbuhan nilai perusahaan yang gradual, tidak eksplosif secara eksponensial seperti yang terjadi di era dot com bubble. Beberapa start-up yang kemudian menjadi raksasa teknologi yang kita kenal hingga saat ini diantaranya Facebook yang berdiri di 2004 dan baru melakukan IPO di 2012, Google yang mendaftarkan domain name-nya di 1997 namun baru melakukan IPO di 2004, Twitter di 2006, AirBnB di 2008, Uber di 2010, dan seterusnya. 

Kebanyakan dari perusahaan-perusahaan ini tidak sekedar meng-
online-kan proses bisnisnya, namun benar-benar menciptakan business model yang baru. Meskipun demikian, bila kita mencermati nilai perusahaan dibandingkan dengan penjualan (revenue), maka fenomena yang terjadi di era dot com bubble nampak mirip. Sebagai contoh, Snapchat, hingga Juli 2015, nilai penjualannya NOL, namun nilai perusahaannya US$ 16 Milyar. 

Contoh lainnya, Pinterest, penjualannya hanya US$ 15juta, namun nilai perusahaannya US$ 11 Milyar. Secara umum fenomena ini ditampilkan di Gambar 3 yang mana nilai penjualan hanya dalam jutaan dollar sementara nilai perusahaannya dalam milyaran dollar. 

Berbagai data yang ditampilkan sebelumnya memunculkan pertanyaan baru, apakah metode penilaian perusahaan menjadi tidak lagi relevan atau tidak dapat diaplikasikan untuk menilai perusahaan-perusahaan teknologi? Padahal metode seperti
Discounted Cash Flow (DCF) yang dijelaskan sebelumnya, adalah metode yang selalu kita ajarkan di kelas. Bagaimana bisa perusahaan yang revenue-nya nol (selanjutnya Free Cash Flow-nya negatif) dapat bertahan hidup dan mendapat apresiasi dari investor (terutama pemegang saham) yang ditunjukkan dengan nilai perusahaan yang terus bertumbuh dengan nilai yang berkali-kali lipat dibandingkan dengan nilai penjualannya? 

Nilai penjualan yang rendah bahkan nol, disebabkan karena model bisnis yang diciptakan oleh
. Model bisnis seperti sharing (Uber), marketplace (contoh: AirBnB, aset fisik bukan milik AirBnB namun mitranya, AirBnB hanya menyediakan lapak untuk bertemunya user dan mitra), free services (Whatsapp) menjelaskan mengapa nilai penjualannya saat ini masih sangat rendah bahkan nol. Mereka meyakinkan para investornya bahwa dengan jumlah pengguna dan mitra yang besar maka dimasa depan ketika monetisasi mulai dilakukan, revenue akan meningkat dengan cepat (jump), Free Cash Flow positif akan tercipta, sehingga nilai perusahaan justru akan semakin tinggi. Masalahnya, apakah user sama dengan customer

Jika jawabannya iya, pertanyaan berikutnya apakah
start-up tersebut memiliki customer yang loyal? Ini patut ditanyakan karena tingkat kompetisi di pasar yang sama dengan model bisnis yang sama sangatlah tinggi. Dikhawatirkan, ketika mulai melakukan monetisasi, user dengan mudah beralih ke aplikasi pesaing yang harganya lebih murah atau bahkan masih gratis. 

Masalah berikutnya adalah tentang
cost structure atas layanan yang disediakan oleh  tersebut. Investor diyakinkan oleh para pendiri  bahwa dengan model bisnis yang mereka jalankan, meskipun average revenue per paying user (ARPPU) rendah atau ARPU (average revenue per user) sama dengan nol (ketika belum dimonetisasi atau untuk layanan gratis), average cost per user (ACPU) juga akan semakin rendah seiring dengan semakin bertambahnya jumlah user sehingga investor dapat berharap FCF positif akan tercipta dimasa depan karena average margin per user (AMPU) akan semakin tinggi. 

ACPU yang berbanding terbalik
dengan jumlah user merupakan akibat dari berlakunya economies of scale, hal ini terutama disebabkan karena start-up yang kemudian menjadi raksasa memiliki proporsi aset tetap yang rendah, fixed cost rendah, sehingga dengan semakin banyaknya user, maka biaya total per unit layanan akan semakin rendah pula. Namun faktanya, ternyata tidak demikian.

 

.......(bersambung) ......



 

 










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)