Seni Budaya

#PerkumpulanOrangBetawi

Orang Betawi & Perhimpoenan Kaoem Betawi

Administrator | Senin, 22 Juli 2019 - 08:21:04 WIB | dibaca: 104 pembaca

JAKARTA (Parahyangan-Post.com) - Perkumpulan Betawi Kita yang selama ini konsisten menggulirkan semangat maen pikiran di Betawi, kembali menggelar diskusi (seri ke-33) pada 21 Juli 2019. Acara yang bertempat di Zona Embrio,  Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan ini menghadirkan dua pembicara wanita, Dr. Halimatusa'diah, M.Si dan Dr. Siswantari Sijono, M.Hum.

Pembicara pertama, Halimatusa'diah peneliti Lembaga Ilmu  Pengetahuan Indonesia  mengulas tentang Menjadi Orang Betawi. Lalu, Siswantari, dosen Universitas Indonesia Fakultas Ilmu Budaya yang akan mengulas tentang Perhimpoenan Kaoem Betawi. 

Menjadi Orang Betawi
Halimatusa'diah  dalam diskusi ini akan memaparkan hasil penelitiannya (disertasi) yang berjudul Menjadi Orang Betawi. Dalam makalahnya, Halimah memberi judul Menjadi Orang Betawi: Mengungkap 'Rasa', Membangun Makna. Sebuah telaah pengalaman komunikasi individu bicultural di Jakarta.

Halimatusa’diah yang merupakan peneliti Kajian Komunikasi Antarbudaya Puslit Masyarakat dan Budaya LIPI membuka diskusinya dengan bercerita tentang pernikahan  yang dilakukan orang Betawi dengan etnis lain. Lalu,  melahirkan generasi-generasi baru yang
mewarisi identitas-identitas yang dimiliki kedua orang tuanya, namun anak-anak dari hasil pernikahan etnis ini banyak yang tidak merasa sebagai anak Betawi atau sebagai anak dari etnis orang tuanya. Jika hal terjadi maka dikhawatirkan budaya Betawi kehilangan pendukungnya. Ujung-ujungnya budaya Betawi bisa punah. 

Di tengah kegelisahan orang Betawi akan ancaman atas eksistensi dan pendukung
budayanya, justru ditemukan individu-individu yang terlahir dari pernikahan antaretnis di Jakarta, mengidentifikasi dirinya sebagai Orang Betawi.

Seperti dikemukakan Knorr (2014: 195), “Young people in Jakarta also tend to describe themselves as Betawi”. Menurut Knorr, selain dikenal sebagai kelompok etnik lokal Jakarta, Betawi juga telah menjadi pilihan bagi pemuda-pemuda migran yang lahir di Jakarta untuk mengidentifikasi dirinya.

Fenomena ini menarik untuk diteliti, mengingat dalam beberapa kasus seperti yang telah peneliti uraikan sebelumnya, anak-anak hasil perkawinan antaretnis di Betawi justru mengidentifikasi dirinya dengan identitas etnik orang tuanya yang lebih unggul, dan bahkan malu mengakui identitasnya sebagai Orang Betawi (Shahab, 1997).

Anak-anak dari hasil perkawinan antaretnis yang mengidentifikasi diri sebagai Betawi ini dapat digambarkan sebagai individu bicultural, yakni individu yang identitasnya terdiri dari dua warisan budaya/warisan rasial dengan satu orang tua dari satu kelompok etnis/ras tertentu dan orang tua lainnya dari kelompok etnis/ras lain yang berbeda (Renn, 2004; Root, 2001).

Perhimpoenan Kaoem Betawi
Menurut Siswantari, Perhimpoenan Kaoem Betawi merupakan perkumpulan politik
pertama dari masyarakat Betawi yang menggunakan  nama Betawi sebagai identitasnya. Hal ini merupakan tonggak bagi perkembangan masyarakat Betawi karena sebelum itu masyarakat Betawi lebih banyak menyebut dirinya berdasarkan identitas tempat tinggal mereka, seperti “Orang Kemayoran”, Orang Kebayoran”, "Orang Tambun”, “Orang Depok”, dan lain-lain.

Selama ini berdasarkan beragam referensi  dikatakan bahwa Perhimpoenan Kaoem Betawi merupakan organisasi kecil, yang tidak berlangsung lama, dan berakhir pada tahun 1930-an, saat fusi dengan Parindra. Siswantari  tidak sepakat dengan pendapat
tersebut. Dari data yang didapatnya, ternyata Perhimpoenan Kaoem Betawi tetap eksis sampai dengan masa akhir Hindia Belanda.

Berbagai kegiatan telah dilakukan organisasi ini. Hal itu dapat dilihat dari majalah terbitan organisasi ini yaitu Tjahaja Betawi dan Berita Kaoem Betawi. Dari terbitan berkala ini penulis mendapat informasi tentang gerakan Perhimpoenan Kaoem Betawi yang tetap aktif menjalankan aktivitasnya sampai masa akhir Hindia Belanda.
 
(ratman/rls/pp) 










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)