Opini

Kolom Ismail Lutan

Oplas, atau Hanya Sebuah Tragedi?

Administrator | Rabu, 31 Oktober 2018 - 20:40:31 WIB | dibaca: 297 pembaca

Oplas, atau hanya Sebuah Tragedi?

Oleh Ismail Lutan

 

Menjadi cantik merupakan impian setiap perempuan dan mereka melakukan segalanya untuk itu.

 

Kecantikan perempuan memang menawan dan mampu menaklukkan keperkasaan laki-laki yang tak terkalahkan dalam medan perang. Dalam sejarah klasik, misalnya, kita mengenal Cleopatra, Ratu Mesir yang menaklukkan hati Julius Caesar Raja Romawi yang perkasa.

Cleopatra menjadi simbol kekuatan dan kecantikan perempuan sejagad.

Dalam sejarah yang lebih kekinian Puteri Diana dari Inggeris menjadi idola perempuan dunia dengan kecantikannya yang menawan. Segala gerak-gerik dan asesoris yang melekat padanya menjadi referensi dan ditiru perempuan untuk kelihatan  tampil menarik.

Bahkan setelah dia meninggal dalam kecelakaan di sebuah terowongan Prancis bersama selingkuhannya, dia pun tetap dipuja sebagai pahlawan.

Sama seperti Cleopatra, dunia  mengenyampingkan dosa perselingkuhannya, dan memutar dosa perselingkuhan itu menjadi simbol emansipasi.

*

Perempuan modern pun tak kalah mempesonanya dengan perempuan-perempuan sejarah itu. Mereka ingin selalu kelihatan cantik dan melakukan semua cara untuk tampil menawan. Sebagian besar waktunya dihabiskan untuk berdandan dengan alat-alat kencatikan bermacam-macam. Dan tentunya dengan biaya yang miliaran.

Bahkan perempuan  yang terlahir tak menawan pun ingin melawan kodrat untuk tampil di luar dirinya, tampil di luar wajah yang dititipkan Tuhan.

Bagaimana caranya? Ya, dengan Operasi Plastik  alias Oplas.

Banyak perempuan modern melakukan oplas agar terlihat  cantik dan awet muda. Serbuan iklan  Korea dan Jepang yang menggoda menyedot impian mereka tentang kecantikan itu.

Mereka mengeyampingkan resiko buruk dan mengerikan yang menyusul setelah oplas.  Perempuan korban oplas yang meringkuk di bangsal kumuh rumah sakit menunggu ajal mereka abaikan. Sesal perempuan-perempuan korban oplas itu tak terdengar oleh telinga mereka, yang mungkin juga sudah di oplas. Padahal korban olas itu sangat banyak.

Yang terlihat dalam impian perempuan adalah wajah mulus-putih-bersih tanpa kerut sedikit pun, mirip boneka berbie. Bahkan kalau dia melihat selembar kerutan memanjang di keningnya, sebagai penanda usianya yang bisa ditahan, dia seperti orang kesetanan. Kaget luar biasa.

Dan untuk menjaga penampilan agar segar-bugar itu pun mereka mengenyampingkan keruwetan. Misalnya untuk membersihkan setetes keringat yang menempel di keningnya, mereka sangat repot, karena mereka tak akan mau mengusapnya dengan telapak tangan.

*

Untuk apa perempuan-perempuan itu tampil cantik menarik bahkan dengan cara melawan kodratnya? Apakah untuk menjadi penakluk atau cuma termakan iklan?

Tragedi Ratna menggelitik nurani pria untuk memaknai kecantikan itu. Entahlah dengan hati wanita. Apakah mereka tergelitik juga?***

 










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)