Seni Budaya

Nuansa Mistis dalam Tari Belian Bawo dari Kutai Barat, Kalimantan Timur

Administrator | Rabu, 11 September 2019 - 11:33:56 WIB | dibaca: 141 pembaca

Penampilan Sanggar Seni Swalas Gunaq di Graha Bhakti Budaya dalam Festival Musik Etnic, Selasa (10/09), Cikini, Jakarta Pusat (sumber foto : Hafis/pp)

Sausana hening, dan para penonton menyimak dengan serius, mengikuti setiap gerak dari para penari, sementara alunan musik dari instrumen musik yang begitu khas ditambah penataan cahaya lampu dengan latar belakang siluet, terkesan nuansa mistis dalam Tari Belian Bawo  pada Selasa (10/09) di Graha Bhakti Budaya, TIM, Cikini, Jakarta Pusat.

Belian Bawo dipersembahkan oleh Sanggar seni Swalas Gunaq dari Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur. Kelompok ini dipimpin oleh Herman, S.Pd, M.Si, Kepala Dinas Pariwisata Kutai Barat, bersama Dekranasda, UPT Taman Budaya, Ibu Sekda Kresensia Rikam beserta Kabid Pengembangan Destinasi, Ibu Seki, M.Pd. 

Tari Belian Bawo dibawakan dengan apik pada rangkaian Etno Musik Festival di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Selasa (10/09). Selain Tarian Belian Bawo, malam itu juga tampil Tari dan Musik Ma Calong oleh Komunitas Budaya Sossoroang (Sulawesi Barat), Musik Selonding Roras Ensemmble (Denpasar, Bali) dan Tari Reak oleh Sanggar Tibelat (Bandung Timur, Jawa Barat). 

Belian Bawo adalah salah satu tarian tradisional suku Dayak di Kalimantan Timur. Nama Belian Bawo berasal dari kata “Belian” yang artinya menyembuhkan orang sakit, dan “Bawo” yang berarti gunung atau bukit. Tarian ini tremasuk yang bersifat mistis, hanya dibawakan oleh para dukun atau pawang. 

Belian Bawo dijumpai dalam berbagai acara adat, biasanya digelar untuk mengobati orang sakit, dibawakan oleh para dukun yang bertindak sebagai medium dari roh yang nantinya akan memberitahukan sakitnya dan cara-cara pengobatanya. 

Selain itu suku Dayak menggelar tari Belian Bawo sebagai ucapan terima kasih kepada dewata sesuai keyakinan mereka. Dalam melakukan tarian sang dukun/pawang menggunakan bahasa khusus untuk berdialog dengan roh-roh halus (“memang”) yang akan membantunya mengusir roh-roh jahat. 

Irama dan ritme pada tari Belian Bawo tidak mentolerir adanya kesalahan, karena akan mengakibatkan kegagalan dalam ritual dan kesurupanya para dukun/pawang yang menari. Untuk mengembalikan keadaan menjadi normal maka musik harus dinetralkan seperti semula. Ritual yang dilakukan adalah untuk mengambil penyakit.

Jika penyakitnya disebabkan oleh santet maka pasien dapat memutuskan apakah akan mengirim balik santet tersebut, atau memindahkannya kepad atumbal yang berupa hewan, seperti ayam atau babi. Namun jika bukan karena pengaruh magis dan memerlukan obat-obatan, maka salah satu penari akan menghilang kurang lebih satu jam untuk mencari obat-obatan. Jika ritual pengobatan sudah selesai, biasanya irama dan ritme musik berubah menjadi lembut. 

Beberapa alat/instrumen musik yang digunakan untuk mengiringi dalam Tari Belian Bawo, yaitu : 
Gimar : Gimar adalah sebuah instrumen musik perkusi yang terbuat dari batang kayu yang sisinya berlubang dan ditutupi dengan membrane yang terbuat dari kulit binatang. Gimar di pukul dengan menggunakan telapak tangan dan menghasilkan bunyi yang berirama. 

Klentengan :
adalah sebuah alat musik pukul yang terdiri dari enam buah tumpukan kecil yang disusun rapi di sebuah tempat sudah dibentuk dan diukur sesuai  ukuran dan urutan nadanya yang alat pemukulnya berua dua batang kayu. Glukning : adalah sebuah alat musik pukul yang bilah-bilahnya terbuat dari kayu ulin. 

Sekilas tentang Sanggar Seni Swalas Gunaq : 

Sanggar Seni Swalas Gunaq berdiri tahun 2007 atas dasar kegelisahan anam remaja yang melihat beberapa fenomena remaja di eranya meninggalkan akar tradisi di Kota mereka. Atas kegelisahaan tersebut remaja ini mendatangi guru seninya untuk mengutarakan niatnya untuk membuat sanggar, di sambut kagum oleh gurunya lalu diberi nama Sanggar Seni Swalas Gunaq.

Adapun Sanggar Seni ini berkreasi di bidang musik. Terhitung dari berdirinya sanggar ini puluhan karya yang mereka buat, dan mengikuti puluhan event di dalam dan luar daerah seperti Bandung, Jakarta, Bali dan Kaliamnatan Selatan. 

Berikut Pengurus Sanggar Seni Swalas Gunaq : 

Pimpinan :
Seki, S.Pd, M.Pd. Penampil : Gimar : Yogi Kondala. M, Darmo, Heri Kristianus, Nuryadin. Vokal : Yogi Kondala.M, Darmo, Nuryadin. Glunking : Ronanda, Nuryadin. Klentangan : darmo. Ketopong : Yogi Kondala.M, Ronanda. Suling : Nuryadin. Kepala Ritual : Heri Kristianus.

(ratman/hafis/pp)

 










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)