Profil

Natasha Dematra Sampaikan Pidato Kebudayaan Tentang Rohingya di Hari Toleransi Dunia

Administrator | Rabu, 07 Desember 2016 - 15:30:35 WIB | dibaca: 496 pembaca

Hari Toleransi Sedunia

BALI, Parahyangan-post.com - Para penggiat perfilman dan toleransi baru-baru ini berkumpul di Bali dalam rangka memperingati Hari Toleransi Sedunia. Acara yang difasilitasi oleh International Film Festival for Spirituality, Religion and Visionary (IFFSRV) dan World Tolerance Awards (WTA) ini diadakan bekerjasama dengan Puri Negara Jembrana, Bali dibawah pimpinan Raja Puri Agung Negara Anak Agung Gde Agung B. Sutedja. 

Natasha Dematra selaku Duta Toleransi menyampaikan pidato kebudayaan tentang Rohingya di Hari Toleransi Sedunia. Dalam pidatonya ini Natasha mengungkapkan bahwa kejadian yang menimpa kaum Rohingya merupakan salah satu kejadian intoleran terbesar yang terjadi di era ini, dan bahwa pembunuhan kaum Muslim oleh para biksu garis keras merupakan sebuah tindakan yang memperburuk tragedi ini. "Salah satu cara yang dapat menyelesaikan tragedi ini adalah persatuan sebuah bangsa itu sendiri,” ucapnya.

Dalam pidato yang memperoleh sambutan meriah ini, Natasha menyerukan kepada PBB dan para pemimpin dunia yang mempunyai pengaruh untuk menyelesaikan tragedi ini. “Toleransi adalah cara untuk mencapai perdamaian di dunia,” ucap gadis berusia 18 tahun tersebut.

Cheryl Halpern, Perwakilan alternatif untuk Amerika Serikat di PBB tahun 2008-2009, yang turut hadir mengatakan bahwa pidato Natasha telah menyentuh hatinya, dan bahwa apa yang diucapkannya tersebut merupakan hal yang perlu didengungkan kepada dunia internasional khususnya negara-negara Barat.

Kaum Rohingya sendiri merupakan imigran asal Bangladesh yang menetap di Myanmar. Hingga 2013, populasi mereka telah mencapai 1,3  juta orang. Hingga kini, pembataian pada kaum Rohingya terus terjadi atas berbagai alasan, yang salah satunya karena mereka beragama Islam. Dalai Lama sendiri mengecam tindakan ini dan mengatakan bahwa jika Buddha masih ada, ia akan melindungi saudara-saudara Muslim.

Damien Dematra selaku founder dan director festival juga menyampaikan bahwa toleransi sedang dalam ancaman menyusul terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat. Janji-janji kampanye Trump yang akan melarang umat muslim masuk Amerika dan akan menutup masjid-masjid di AS, merupakan sebuah ancaman bagi perdamaian dunia. “Dunia sedang dalam ancaman akan memasuki masa kelam peradaban. Dengan perayaan ini diharapkan para pemimpin dunia semakin menyadari pentingnya toleransi; karena tanpa toleransi dunia ini akan hancur,” ucap pria berambut panjang ini.

Sedangkan Raja Suteja dalam sambutannya menyatakan bahwa Indonesia pada umumnya dan Bali pada khususnya sangat menghargai perbedaan dan toleransi. Kita harus selalu menghargai satu sama lain untuk dunia yang lebih baik.

Hari Toleransi Sedunia ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 1996, dengan harapan untuk memperkuat toleransi dengan meningkatkan rasa saling pengertian antar budaya dan bangsa. Perayaan ini dimulaikan di era ketika meningkatnya ekstremisme kekerasan dan pelebaran konflik yang ditandai dengan mengabaikan kehidupan manusia lainnya. 

Rangkaian perayaan ini dilanjutkan dengan pemutaran film di Pusat Kebudayaan Rusia, Jakarta dan akan ditutup pada tanggal 13 Desember nanti di Jakarta. Dalam mensukseskan perayaan ini IFFSRV dan WTA bekerja sama dengan International Student, Newcomer, and Woman Movie Awards (ISENMA), Filmmakers of the Year Film Festival (FOTY), International Film Festival for Documentary, Short, and Comedy (IFFDSC), Directors Awards (DIRA), dan Royal World Prize (RWP), dan didukung penuh oleh Dewan Kreatif Rakyat (DKR), iHebat International Volunteers, World Film Council, Russian Culture Center, Cinema XXI, dan Radio Republik Indonesia (RRI) sebagai media partner.

(ratman/rls/pp)










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)