Nusantara

Potensi Daerah

Menyelamatkan Ikan Bilih Danau Singkarak

Administrator | Sabtu, 30 November 2019 - 10:59:31 WIB | dibaca: 169 pembaca

Kepala Dinas Perikanan dan Pangan Kabupaten Solok drh. Kenedy Hamzah, M.Si (foto aboe)

Solok, parahyangan-post.com-Ingat danau Singkarak, ingat ikan bilih. Belum afdhol mengunjungi danau tercantik di Sumatera Barat ini sebelum menikmati lezatnya bilih. Baik yang sudah matang, yang bisa dijumpai di semua warung Padang di sepanjang pinggiran danau maupun yang masih mentah untuk dibawa pulang sebagai oleh oleh.

Penjual ikan bilih bisa ditemuai di beberapa titik di sepanjang pinggiran danau yang dilewati jalan Lintas Sumatera ini. Mulai dari Batu Tebal, Ombilin, Kacang hingga dermaga Singkarak. Di sepanjang jalan itu banyak pula rumah makan khas Minang menyediakan aneka masakan bilih yang mengundang selera.

Inilah daya tarik utama danau Singkarak sehingga menjadi salah satu destinasi wisata alam terbaik di Indonesia. Tidak hanya dikunjungi oleh wisatawan domestik tetapi juga dari mancanegara. Bahkan balap sepeda “Tour de Singkarak” juga diinspirasi dari keindahan dan kekhasan danau ini.

Bisa Tinggal Kenangan

Namun kekhasan danau seluas 11.200 ha, yang terbentuk oleh aktivitas tektonik ini akan tinggal kenangan. Karena spesies bilih (Mystacoleucus padangensis) akan punah. Penyebabnya adalah aktivitas warga yang menangkap ikan dengan alat yang tidak ramah lingkungan.

Kepala Dinas Perikanan dan Pangan Kabupaten Solok drh. Kenedy Hamzah, M Si menjelaskan, hasil penelitian dari Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Solok bekerjasama dengan Universitas Bung Hatta tahun 2016, memperlihatkan bahwa 52 % hasil tangkapan bagan tidak layak dikonsumsi karena masih berupa larva dan juvenil dan ini dibuang oleh nelayan. Bagan memiliki jaring yang sangat halus malahan ada yang memakai  kain kelambu yang pori-porinya kurang dari 3/4 inci.

“Pengalaman di Danau Toba, penangkapan ikan bilih yang dikembangkan dari Danau Singkarak pada tahun 2004 dengan bagan mengakibatan ikan itu punah, dan tidak ada lagi ditemukan di perairan Danau Toba.  Kita tidak ingin ikan bilih bernasib seperti itu, karena bilih  ini hanya ada di danau Singkarak,” tutur Kenedy kepada tabloid Alinea Baru, belum lama ini.

Selain penangkapan ikan dengan bagan, pendirian karamba juga berpotensi mempercepat kepunahan bilih danau Singkarak.

“Karamba tidak cocok di danau Singkarak, karena danau ini terbentuk dari aktivitas tektonik. Arus bawah airnya cenderung tenang. Pakan sisa makanan ikan karamba akan menumpuk di dasar sehingga mencemari danau,” tambahnya.

Selain itu, para juragan karamba juga membudidayakan ikan yang dilarang dibudidayakan di danau dan di air sungai yang mengalir terbuka,  seperti nila.

“Nila itu sebenarnya tidak boleh dibudidayakan di danau atau di sungai  yang terbuka. Nila hanya boleh di kolom yang alirannya tertutup,” tambah Kenedi.

Penyelamatan  

Guna menyelamatkan ikan bilih dari kepunahan pemerintah daerah menargetkan danau Singkarak bersih dari alat tangkap bagan

Pemusnahan bagan  sudah diatur dalam Peraturan Gubernur Nomor 81 Tahun 2017. Penggunaannya dilarang arena tidak hanya menangkap bilih ukuran besar, namun juga mengangkut bilih-bilih kecil karena jaringnya yang rapat. Dengan demikian bisa menyebabkan kepunahan.

Ikan Bilih hanya bisa hidup di danau Singkarak dan tidak bisa dibudidayakan.

“Makanya benihnya harus kita jaga. Salah satunya dengan menertibkan bagan dan keramba itu," tambahnya.

Maraknya keramba di danau Singkarak, tidak saja mengancam ekosistem bilih, tetapi juga tidak sedap dipandang mata dan menganggu industry pariwisata. Padahal danau Singkarak merupakan destinasi wisata alam terkemuka di ranah Minang ini.

“Selain bagan dan keramba, alat tangkap lain yang merusak lingkungan seperti putas, setrum, serta menggunakan jaring langli (pukat) juga ditertibkan,” tegasnya.

 

Basipakak

Namun pembersihan bagan, karamba dan alat penangkap ikan lain yang merusak lingkungan di danau Singkarak tidak berjalan mulus. Banyak juragan karamba membandel. Mereka memakai ilmu basipakak (acuh dan tidak peduli). Bahkan cenderung menentang.

“Kami sudah melakukan dengan cara yang persuasif, mulai dari memberi arahan, menghimbau dan  merazia. Kalau masih ada yang membandel  tentu akan kita kenakan  sangsi hukum, sesuai dengan undang-undang yang berlaku,” tegasnya.

Diakui Kenedy, jumlah bagan yang terdapat di danau Singkarak, sejak diterapkannya Pergub tersebut makin berkurang. Dari semula sekitar 500-an bagan dan 270 an karamba, kini  tinggal belasan. Targetnya adalah tahun 2020 danau Singkaran nol karamba, nol bagan.

 

“Yang membandel tersebut umumnya bukan juragan ikan Singkarak asli tetapi dari luar yang mempunyai modal besar. Kita akan terus tertibkan sampai singkarak benar-benar bersih dari bagan dan keramba,” tutupnya.*** (aboe)

 

 

 










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)