Edukasi

MASIHKAH ANDA INGIN MENJADI GURU DI INDONESIA?

Administrator | Senin, 25 November 2019 - 08:22:14 WIB | dibaca: 143 pembaca

Foto : ilustrasi sosok seorang guru (sumber foto: net)

Oleh: J. Faisal 
Pemerhati Pendidikan/Mahasiswa Doktoral Sekolah Pascasarjana UIKA Bogor

 

Isi pidato menteri pendidikan Nadiem Makarim dalam rangka menyambut Hari Guru Nasional 25 November 2019 ini sudah beredar di media sosial. Dari banyak komentar netizen yang bermunculan, ada yang mendukung, dan adapula yang menganggap isi pidato tersebut biasa saja. Saya sendiri mempunyai pendapat bahwa isi pidato menteri pendidikan baru tersebut hanya bersifat teoritis empris, dan tidak menyentuh solusi dari semua permasalahan tentang guru Indonesia, yang dituliskan oleh sang mas menteri sendiri dalam pidatonya tersebut. 

Tulisan inipun saya peruntukkan untuk istri saya yang juga seorang guru ASN di sebuah SMP Negeri di daerah Cijantung, Jakarta, dan juga untuk seluruh guru di Indonesia. Salam cerdas dan beradab untuk seluruh guru Indonesia! 

Persoalan Klasik Guru 

Mungkin agak sedikit bosan juga untuk berbicara tentang masalah guru di Indonesia. Masalah yang selalu timbul dari tahun ke tahun dan dari masa ke masa ya itu-itu saja. Masalah kemampuan guru dalam hal ajar-mengajar, kesejahteraan guru yang masih sangat memperihatinkan, ketidakmerataan penyebaran guru di daerah 3T (Terluar, Terdepan, dan Tertinggal), masalah guru honorer, dan masalah-masalah klasik lainnya. Pertanyaannya, sudah berganti lebih dari setengah lusin Presiden, dan berlusin-lusin menteri pendidikan, tetapi ko masalahnya masih belum selesai-selesai juga? Tidak mampu menyelesaikannya, atau memang tidak ada keseriusan dalam menyelesaikannya?
Wallahu’alam. 

Jika hanya untuk mencari solusi dari masalah-masalah di atas mudah saja. Jika Guru kurang mampu mengajar, berikan pelatihan yang tepat sasaran kepada guru. Pensiunkan guru-guru yang sudah tua dan tidak mau belajar tentang teknologi terbaru. Ganti dengan guru-guru muda yang lebih enerjik dan
fresh, serta mempunyai inovasi dalam mengajar. Berikan pelatihan-pelatihan pedagogic yang mumpuni dan dengan metode pengajaran dan pembelajaran yang terbaru. 

Jika guru tidak merata penyebarannya di daerah pelosok atau 3T, pemerintah pusat dan daerah bisa memberikan insentif lebih kepada guru- tersebut agar mau mengajar di daerah pelosok. Misalnya dengan memberikan fasilitas hidup yang layak, seperti rumah dan tanah. Itu
  hanya masalah kemauan dari pemerintah pusat dan daerah saja dalam hal memajukan pendidikan. 

Meskipun anggaran pendidikan tersedia banyak, tetapi jika penggunannya tidak tepat sasaran, maka pendidikan di daerah akan terbengkalai. Terbukti dengan robohnya sekolah-sekolah yang ada di daerah. Pemerintah daerah harus mempermudah dan mempercepat proses penurunan dana untuk membangun sekolah-sekolah yang telah rawan roboh untuk diperbaharui. Konsultasikan dahulu dengan pemerintah pusat dalam hal penggunaan dananya. Jangan sampai salah administrasi, nanti bisa-bisa dianggap korupsi. Tetapi, jangan menunggu korban terlebihdahulu juga, atau jika sudah terekspos oleh media massa atau media sosial barulah bergerak seperti kebakaran jenggot. Memang seperti inilah tipikal kerja hampir rata-rata seluruh pemerintah daerah di Indonesia. 

Untuk masalah guru honorer, harusnya diutamakan pengangkatan statusnya untuk menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN). Untuk guru honorer yang telah berusia di atas 35 tahun, mantan Mendikbud Muhajir Effendi telah megeluarkan solusi, yaitu
para guru honorer berusia lebih dari 35 tahun dapat mengabdi untuk negara melalui pengangkatan sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Proses seleksi itu akan dilakukan setelah seleksi CPNS 2018 selesai. 

Harapan Kepada Mas Menteri Pendidikan yang Baru 

Tahun ini merupakan tahun yang istimewa bagi dunia pendidikan Indonesia. Pasalnya, sang menteri pendidikan yang dipilih oleh presiden saat ini adalah seorang pengusaha, yang notabene belum mempunyai pengalaman atau
track record yang jelas dalam dunia pendidikan. Entah apa yang ada di dalam pemikiran sang presiden, sehingga bisa memilih seorang Nadiem Makarim menjadi menteri pendidikan. Atau mungkin karena presiden ingin agar pendidikan kita diarahkan kepada pendidikan yang berbasis teknologi, sehingga terjadi kesatuan antara teknologi dan pendidikan, yang mana presiden melihat kemampuan tersebut ada pada seorang Nadiem Makarim?  Atau ini hanya balasbudi presiden terhadap Nadiem Makarim yang telah ‘berjasa’ karena telah dianggap berhasil mengurangi pengangguran di Indonesia dengan banyaknya mitra ojek Online nya (ojol)? Padahal sejatinya pengangguran di Indonesia semakin bertambah, dan tidak bisa diukur berkurang hanya karena banyak masyarakat yang menjadi driver ojol. Atau ada transaksi-transaksi politik lainnya? Padahal banyak para praktisi dan akademisi yang benar-benar mengerti tentang pendidikan di Indonesia, tetapi diabaikan begitu saja. Wallahu’alam. 

Bukannya
underestimate terhadap mas menteri pendidikan baru yang sekarang, tetapi ini hanya rasa cemas saya sebagai praktisi dan pemerhati pendidikan Indonesia. Saya juga mengerti jika menteri adalah jabatan politis yang bisa saja berhenti di tengah jalan. Kita lihat saja nanti apakah mas menteri pendidikan yang sekarang, Nadiem Makarim mampu memecahkan persoalan-persoalan pendidikan di Indonesia, khususnya masalah guru? 

Jadi, bukanlah puisi-puisi atau lagu-lagu tentang jasa guru yang diberikan kepada para guru-guru di Indonesia untuk menghibur hati mereka saat ini. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah harus mampu untuk memberikan solusi terhadap masalah-masalah guru yang telah diutarakan di atas. 

Kemajuan teknologi dalam bidang pendidikan boleh saja dijadikan prioritas dalam membangun dunia pendidikan kita. Atau inovasi dalam bidang kurikulum dan waktu lamanya menempuh pendidikan, boleh saja diterapkan oleh mas menteri pendidikan yang baru, selama itu memang memajukan pendidikan Indonesia dan tidak mereduksi nilai-nilai agama dan adab. Tetapi harus diingat, jutaan guru di Indonesia juga punya hak untuk diberikan kesejahteraan yang lebih layak, baik dalam kebutuhan fisik, maupun kebutuhan rohani. Perbaiki system kerja mereka yang seharusnya hanya fokus mengajar, dan tidak dibebankan dengan tugas-tugas administrasi lainnya. Untuk di kota-kota besar di Indonesia, mungkin para guru sudah banyak yang bisa hidup layak. Tetapi bagaimana dengan nasib kesejahteraan para guru yang ada di daerah terpencil dan terpelosok? 

Pikirkan dan berikan solusinya ya mas menteri, jangan hanya bisa melemparkan issue-issue yang tidak jelas ke tengah masyarakat. Kami para guru, praktisi, dan pemerhati pendidikan siap membantu dan meberikan sumbangsih pemikiran kepada anda selama anda menjabat. Itupun jika anda perlukan. 

Jadi, masihkah anda berminat untuk menjadi guru di Indonesia, dengan tujuan mulia untuk mencerdaskan kehidupan anak-anak bangsa, terutama di daerah pelosok? 

Selamat Hari Guru Nasional 2019  

Wallahu’alam bissowab










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)