Nusantara

Bedah buku : "Siyasah Kebangsaan".

Masih adakah bangsa dan negara ini tahun 2028 ?

Administrator | Minggu, 09 Oktober 2016 - 17:24:16 WIB | dibaca: 1079 pembaca

Pertanyaan yg dilontarkan secara retoris oleh penulis buku ini, Randi Michariman, alumni S1, S2 UGM. Keduanya kelahiran tahun 1987 (usia 29 tahun), Randi adalah mantan Ketum PB PII tahun 2012 - 2015, dlm sebuah acara bedah buku "Siyasah Kebangsaan", bersama Helmi Al Djufri, alumni UIN SGD Bdg dan S2 UI Jkt ini.

Memulai tesisnya dgn menggunakan teori pemikiran Ibnu Khaldun (pemikir muslim abad 13) ttg jatuh bangunnya sebuah negara yaitu siklus 100 tahunan, dgn berpatokan pada sumpah pemuda 1928.

Apakah bangsa negara ini masih bisa bertahan ditengah hegemoni negara-negara adi kuasa seperti Amerika, Rusia dan China. Dan sebagai contoh negara Sovyet ambruk setelah 75 tahun, saat dibukanya program pembaharuan oleh Mikhail Gorbachev dgn Perestorika nya atau negara2 Eropa Timur yg juga bubar abad ini, atau negara2 Timur Tengah (Libya, Suriah, Irak) yg berantakan krn telah dijadikan objek sebagai arena konflik oleh negara2 adi daya.

Apa yg menjadi alasan bangsa dan negara Indonesia ini, bisa bertahan sampai tahun 2028. Dengan kondisi pemerintahan yg sedemikian lemah dari intervensi negara asing, dan kedalam negeri pemerintah juga gagal membuat terciptanya keadilan sosial dan kesejahteraan rakyatnya.

Akibatnya jurang kaya miskin bertambah melebar tdk terkendali, hukum sebagai tumpuan tercapainya keadilan juga blm dpt diwujudkan. Dan, korupsi malahan seolah-olah menjadi budaya yg sulit diberantas yg menggerogoti sendi2 kehidupan.

Sedangkan tantangan budaya dari luar dgn adanya ketergantungan kepada ekonomi kapitalisme, sulit dihindari dan bahkan telah membawa ke jurang kehancuran dgn hutang yg bertumpuk.

Inilah yg akan mengancam keberlangsungan bangsa ini yg semakin mengaburkan identitas budayanya. Apabila tdk diantisipasi solidaritas sosialnya sebagai perekat bangsa ini, dikhawatirkan akan memporak porandakan eksistensinya di masa jelang pergantian bangsa siklus 100 tahunan.

Jangan biarkan bangsa ini terbawa pada arus budaya barat yg sekuler yg hanya berhenti pada tataran akal saja (rasionalisme) tanpa memperhatikan sisi batiniah atau ruhaninya. Sebab kekosongan batiniah ini telah menggiring bakal ambruknya negara2 Eropa dan Amerika saat ini.

Pilihannya menurut penulis buku ini, harus menempatkan Islam sebagai basis budaya Indonesia yg merupakan identitas yg mewarnai solidaritas sosialnya. Inilah yg akan merekatkan bangsa dan negara ini, sehingga akan dpt bertahan sd tahun 2028. Tiada pilihan lain maka Islam lah pijakan budaya bangsa Indonesia ke depan, berdasarkan sejarah yg telah teruji selama ini.

 

(rls/pp) 










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)