Opini

In Memorium Nurila binti Sulin

MakDen, Oleh: H. Ismail Lutan

Administrator | Selasa, 16 September 2014 - 01:22:23 WIB | dibaca: 1748 pembaca

Almarhumah Nurila binti Sulin, Ibunda H. Ismail Lutan, Pemred Parahyangan Post. (foto Ist)

Berdiri aku di pusaramu yang masih basah, pagi belum begitu terang. Bau kembang kematian yang ditebar pelayat masih wangi, menusuk hidungku  sampai ke hati.

Kematian telah menjemputmu, dan kau kini abadi di sisi-Nya.

Di dalam tanah ini, kau terbujur kaku. Meski tak melihat jasadmu namun aku hafal setiap garis-garis kening dan raut wajahmu. Wajah yang selalu menginspirasiku untuk  selalu tegar menantang dunia.

Puluhan tahun lalu, di tanah yang kini jadi pusaramu , aku kau suruh merambahnya dengan sabik, ladieng dan pangkua. Katamu ketika itu, kita orang miskin, makanya  harus bekerja keras, tidak boleh menyerah.

Dan katamu lagi padaku, jika di suatu tempat  harapan terputus  maka carilah tempat lain dan jika susah di kampung pergilah ke tempat yang ramai, pergilah ke pasar. Lihatlah orang-orang berjalan, lihatlah bagaimana mereka bekerja dan berusaha.

Aku tak begitu paham ketika itu, bahkan juga enggan menuruti perintahmu,  namun perjalananku yang jauh membuktikan, apa yang kau katakan adalah sebuah keharusan. Sebuah kebenaran! Hidup memang harus bekerja keras dan tak boleh menyerah pada nasib.

*

Hidup harus lurus dan jujur katamu di saat yang lain.

Aku sebenarnya tak begitu mengerti, namun aku melihat kau mempraktekkannya. Tak sesisir pisang  pun kau curi di kebun orang yang mempercayakan perawatannya kepada kita, tak sesukat padi pun kau gelapkan di sawah  yang  pengolahannya diserahkan kepada kita,  dan tak serupiah nilai transaksi pun kau selewengkan di Pakan Kamih saat kau berdagang.

 Karena kelurusan dan kejujuran itulah kau dipercaya banyak orang untuk merawat kebun pisang,  sawah, dan menjualkan barang dagangannya di pasar. Meski dengan sikapmu itu kita harus bekerja keras,  lebih keras berkali-kali lipat dari yang orang lain kerjakan,  dan kau  tak mengenal letih, tak punya waktu santai  walau hanya untuk beristirahat mengeringkan keringat barang sejenak.

Namun kau bangga. Kau tak tergoda berlaku curang walau sebesar biji bayam, karena katamu, jika kita mengambil milik orang,  nanti perut kita buncit, di hari tua akan  sengsara dan ketika mati tidak diterima tanah. Aihh…,  aku ngeri ketika itu.

*

Hidup harus taat beribadah, harus dekat selalu dengan Tuhan, titahmu di hampir setiap saat.

Aku sebenarnya tak begitu mengikuti, bahkan  menunaikan sholat hanya  karena takut kau lidih. Namun pada kenyataannya, dalam perjalananku yang jauh, baik  berjalan dengan langkah kaki yang terseok, maupun dalam berkelana dalam imajinasi yang tak berujung, Tuhan harus selalu hadir dalam hati. Kalau tidak, aku akan tersesat jauh dan tak tahu jalan pulang.

Mak,

Tentu kau tak mengutip  Carnegie untuk meraih kesuksesan dengan belajar dari orang lain, tak  mengutip Multatuli  untuk merasa bangga memanen padi yang ditanam sendiri,  dan pasti  tak mengutip  Rumi, untuk menghadirkan Tuhan dalam setiap gerak tubuhmu,  karena pada hakekatnya,  untuk hidup lurus, jujur, bekerja keras dan dekat dengan Tuhan tak perlu mengutip kitab yang tebal-tebal, tak perlu sekolah yang tinggi-tinggi amat. Cukup dengan kebersahajaan iman dan kesederhanaan ilmu.

Kau memperoleh kebersahajaan iman dan keserhanaan ilmu  melalui keyakinanmu.   Dan dengan itu pulalah ibadahmu khusuk, ritualmu runtut dan jalan kematianmu sangat lempang. Tanpa sakit, tanpa derita.

Malaikat begitu sayang padamu.

*

Di perjalananku yang jauh,  aku mencoba mengikuti sebagian jalan lurusmu, namun   aku tak begitu kuat, di kiri kananku terlalu banyak godaan, terlalu banyak rintangan yang membuat  benteng pertahananku  goyah.

Bahkan, ketika aku duduk termenung lama  di Gua Hira’ tempat Rasulullah pertama kali menerima Iqra’ aku pun masih gamang. Begitu dalam iman yang harus digali untuk mencapai  kesempurnaan ibadah. Seandainya ketika itu, sepotong ayat turun kepadaku dan aku disuruh menyampaikannya kepada orang banyak, tentulah aku tak akan sanggup memikul. Menyampaikan kebenaran itu amatlah berat.

 Juga ketika jari-jemariku  mencoba memegang  pagar pintu  makam Rasulullah lebih kuat dan lebih lama,  agar aku dapat mengungkap rahasia hidup lurus  dalam kematian Sang Nabi, sampai-sampai askar yang kekar itu menarik lenganku agar aku cepat berlalu dari situ,  namun aku pun masih tak mampu menjawab pertanyaan dasar dan hakiki tentang makna hidup. Terlalu banyak rahasia  yang tak mungkin terungkap.  

Meski begitu  aku tetap berusaha untuk tak tersesat jauh dan berpedoman pada jalan lurusmu.

Mak,

Kematianmu begitu indah, begitu damai  dan begitu sederhana. Akan kami  jadikan pelajaran  untuk menempuh  kehidupan dunia  yang masih panjang.

Selamat jalan Mak, semoga Allah SWT  memberimu tempat  terbaik di sisi-Nya. Amin .***

 

Cat:

Makden: Ibuku

Sabik, ladieng, pangkua : Alat-alat pengolah sawah/ladang

Pakan Kamih : Pasar yang terdapat di Salayo

Lidih : Lidi yang  dipilin-pilin, biasa digunakan guru ngaji/orang tua untuk menghukum murid yang bandel

Carnegie : Dale Carnegie, motivator terkemuka  Amerika Serikat

Multatuli : Nama lain dari Eduard Douwes Dekker, pengarang buku Max Havelaar

Rumi: Jalaluddin Rumi, penyair Sufi kelahiran Afganistan

Askar: Polisi penjaga keamanan dan ketertiban di tanah suci

 










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)