Husada

Kesehatan

Low Vision Bukan AKhir Dari Segalanya

Administrator | Rabu, 14 Oktober 2015 - 17:09:20 WIB | dibaca: 1280 pembaca

Low Vision (sumber foto : SYamsi Dhua Foundation)

SESEORANG dengan low vision (lovi) biasanya akan mengalami kendala dalam menjalani aktifitas sehari-hari. Ia mengalami kesulitan  baca tulis, berjalan di tempat asing, atau mengenali wajah orang. Namun, lovi bukanlah buta total.  Dia masih bisa melihat walaupun sangat minimal.

Apakah low vision itu?

Tidak banyak orang tahu apa itu low vision, meski  jumlah penyandangnya di seluruh dunia enam kali lebih banyak dari buta total (totally blind), sekitar 245 juta jiwa (data Organisasi Kesehatan Dunia-WHO). Menurut definisi WHO, lovi adalah gangguan penglihatan berupa penurunan tajam penglihatan atau lantang pandang permanen setelah mendapat pengobatan maksimal maupun menggunakan alat optik standar.

Alat optik standar antara lain kacamata atau lensa kontak. Jika seseorang mengalami gangguan penglihatan namun masih bisa melihat dengan baik ketika dikoreksi dengan kacamata atau lensa kontak, maka dia bukan seorang penyandang lovi. Cara yang biasa dipakai dalam mengukur tajam penglihatan adalah dengan menggunakan Snellen Chart seperti terlihat dalam gambar berikut.

(gambar Snellen Chart)

Pada Snellen Chart ini, ada angka kecil dalam setiap baris huruf yang menunjukkan jarak baca orang berpenglihatan normal, misalnya dari jarak 60, 36, 24, 18, 12, 9 atau 6 meter. Jika seseorang yang berjarak 6 meter dari tabel itu dapat membaca baris yang berisi huruf-huruf untuk jarak 6 meter, maka ¬†ketajaman penglihatannya adalah 6/6 atau ‚Äúnormal‚ÄĚ. Jika dia dapat membaca hanya hingga baris yang berisi huruf-huruf untuk jarak 24 meter, maka ketajaman penglihatannya adalah 6/24. Angka yang di atas (pembilang) selalu menunjukkan jarak pembaca dari tabel, dan angka bawah (penyebut) menunjukkan jarak mata normal dapat membaca huruf-huruf itu. Dengan kata lain, bila ketajaman penglihatan seseorang adalah 6/24, ini berarti bahwa huruf-huruf yang dapat dibaca oleh mata normal dari jarak 24 meter, dapat dibaca dari jarak 6 meter oleh orang tersebut.

Berdasarkan hasil tes Snellen Chart, WHO mengklasifikasikan penglihatan sebagai berikut:

Normal  vision:  6/6 hingga 6/18

Low vision       :  <6/18 hingga >3/60

Blind                : <3/60

Sedangkan lantang pandang adalah luas area yang dapat dilihat seseorang tanpa menggerakkan bola matanya. Lantang pandang untuk mata normal adalah  180 derajat.  Pemeriksaan dilakukan  dengan cara merentangkan kedua tangan. Fokus penglihatan tetap ke depan. Seseorang yang mempunyai lantang pandang normal akan dapat melihat tangan kiri dan kanan tanpa harus mengerlingkan mata  atau menoleh. Lantang pandang penyandang lovi sangat sempit sehingga seperti melihat dari lubang kunci.

 Penyebab low vision

Low vision menyerang tanpa melihat batasan umur,  bisa mulai sejak lahir hingga usia tua. Pada anak-anak, low vision biasa disebabkan gangguan kongenital (bawaan sejak lahir) atau kecelakaan.  Adapun pada usia tua biasanya karena penyakit degenerasi makula (age related macular degeneration/ARMD) atau diabetic retinopathypada mereka yg mempunyai latar belakang diabetes melitus. Penyebab lainnya adalah katarak,  glaukoma, kekurangan vitamin A, infeksi, retinitis pigmentosa, trauma benda tajam/tumpul, kecelakaan, atau efek samping obat tertentu.

Gejala yang dialami oleh penyandang lovi tergantung dari kelainan yang ada, namun semua dapat berdampak pada aktivitas sehari-hari. Orang dengan keterbatasan penglihatan jauh akan sulit mengenali orang dan benda, susah memahami komunikasi non verbal, dan tidak mandiri mobilitas seperti menghindari rintangan atau saat menyebrang jalan.

Mereka yang menderita keterbatasan penglihatan dekat akan menemui kesulitan baca tulis, menjaga kebersihan pribadi, memilih dan menggunakan pakaian, makan dan minum. Dia juga sulit  mengerjakan hal  detail yang terkait profesi misalnya menjahit, memahat, dan lain-lain. Sedangkan mereka yang mempunyai keterbatasan lantang pandang akan kesulitan saat harus menemukan benda. Kemandirian mobilitasnya terganggu ketika pencahayaan berubah, berada di tempat asing,  atau saat berada di lingkungan yang kompleks dan padat seperti suasana pesta dan pasar.

Bukan akhir dari segalanya

Meski terhambat dalam menjalani keseharian, menjadi penyandang lovi bukanlah akhir dari segalanya. Harapan selalu ada jika dia berikhtiar merehabilitasi fungsi penglihatan sesegera mungkin. Tujuannya bukan untuk memperbaiki fungsi penglihatan, namun  mencari alat bantu yang paling efektif untuk memaksimalkan sisa penglihatan. Dia juga harus beradaptasi agar dapat mempertahankan aktivitas harian, tidak tergantung dengan orang lain, serta meningkatkan kualitas hidup.

Alat bantu low vision sudah berkembang, dan digolongkan menjadi dua, yaitu alat bantu optik dan non optik. Alat bantu optik misalnya kaca pembesar (magnifier), teleskop, teropong, dan closed-circuit television (CCTV). Adapun, alat bantu non optik dari yang paling sederhana, yaitu  alat pengontrol silau, garis tebal pena dan kertas, pemandu menulis, jam dinding kontras. Juga ada berbagai alat elektronik lovi friendly yang dilengkapi suara, seperti jam tangan dan kalkulator. Alat yang paling canggih, yaitu program komputer dan telepon genggam bersuara. Seorang penyandang low vision tidak perlu takut gaptek. Hal yang penting adalah kemauan untuk mempelajari hal-hal baru.

Selain alat bantu, penyandang low vision  perlu beradaptasi dengan mengikuti latihan orientasi mobilitas agar bisa hidup lebih mandiri. Paling tidak, seorang penyandang lovi masih bisa melakukan aktifitas sehari-hari. Keluarga penyandang low vision harus mendukung dengan tidak bertindak over protektif. Perlindungan berlebihan malah akan memperburuk keadaan.  Bekali  penyandang low vision dengan berbagai pelatihan adaptasi serta menggali potensi diri agar hidup lebih mandiri dan berkualitas.

Perlu diketahui bahwa seorang anak penyandang low vision tidak harus bersekolah di sekolah luar biasa. Dia dapat bersekolah di sekolah umum dengan dengan menyesuaikan posisi dan lokasi tempat duduk,  juga menyesuaikan pencahayaan.

Pencegahan

Low vision tidak perlu terjadi jika kelainan pada mata segera terdeteksi, misalnya pada glaukoma dan katarak. Jika penderita datang ke dokter pada stadium awal, selain lebih mudah diobati, penyakit awal dapat dicegah agar tidak menjadi lebih parah. Perlu diingat, low vision dapat diketahui sejak anak-anak, sehingga orang tua dan para guru harus jeli pada perubahan sikap anak sehari-hari. Perhatikan, apakah anak memicingkan mata saat melihat atau menonton televise. Apakah dia melihat tulisan di papan tulis harus dalam jarak dekat, sering terjatuh dan tidak mengenali wajah orang. Semakin dini memeriksakan, semakin cepat penyandang low vision menemukan alat bantu yang sesuai dan beradaptasi dengan maksimal.

Selain itu, sangat penting untuk mengetahui pencegahan trauma pada mata agar cacat permanen dapat dihindari. Jika bekerja pada kondisi yang berisiko melukai mata, gunakanlah alat pelindung dengan baik dan benar. Jika trauma tidak bisa dihindari dan sudah terjadi, segeralah  pergi ke pelayanan medis untuk mendapat pertolongan pertama dengan cepat.

(sumber : http://syamsidhuhafoundation.org/id_ID/2015/05/12/info-low-vision-3/)

 

 










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)