Opini

Kolom Ismail Lutan

Lebaran di Titik Nol

Administrator | Kamis, 30 Mei 2019 - 09:26:31 WIB | dibaca: 466 pembaca

Selalu kita dinyatakan telah bersih   -suci lahir batin-, setelah menunaikan ibadah puasa. Makanya kita merayakan Idul Fitri dengan baju baru. Tetapi seberapa bersihkah batin kita?

Puasa Ramadhan, secara syar’i diyakini  akan  membersihkan dosa dan noda batin yang menempel. Itulah iman yang melekat dalam keyakinan kita beragama,  iman yang memaksa dan membuat kita takut untuk melanggarnya.

Dosa akan dihapus Allah SWT jika kita menunaikan puasa sebulan penuh dengan mengikuti semua yang ditentukan secara syar’i. Sedangkan noda batin yang menempel kita sendirilah  yang menghapusnya.

Banyak cara untuk membersihkan noda batin itu, diantaranya dengan melakukan ritual-ritual yang, terkadang  tidak dicontohkan Rasulullah.  Namun sepanjang ritual itu tidak dilarang, tentu diperbolehkan. Dalam bahasa agamanya mungkin termasuk mubah. Dikerjakan tidak berpahala, ditinggalkan tidak berdosa. Tidak haram dan tidak wajib! 

Ritual-ritual dalam upaya memberishkan diri di bulan puasa, bahkan juga sebelum puasa ini cukup banyak. Baik yang berkembang secara tradisi (adat-istiadat) maupun dikembangkan dengan kreasi sendiri.

Di Minangkabau, misalnya ada Balimau. Arti harafiahnya adalah mandi air jeruk. Tetapi pada kenyataannya adalah mandi beramai-ramai di sungai atau danau yang berair jernih.

Di Ciamis, Jawa Barat ada Nyepuh, yakni berjalan kaki dengan pakaian putih-putih menuju makam KH Penghulu Gusti,  dengan membawa air dari mata air Geger Emas.

Dan di Jawa  ada yang namanya Padusan yang arti harfiahnya mandi (adus).

Semua ritual itu dimaksudkan untuk membersihkan noda batin, sehingga setelah menunaikan ibadah puasa terlahir kembali, putih bersih, seperti bayi yang baru lahir.

Namun kembali ke pertanyaan di atas, seberapa bersihkan batin kita setelah menunaikani badah puasa sebulan penuh?

Kebersihan batin sulit diukur, namun bisa dideteksi  dengan beberapa instrument ukur. Yang mengukur adalah diri pribadi, bukan orang lain.

Salah satu alat ukurnya adalah  kesungguhan tekad untuk memulai sesuatu yang baru,  yang selama ini mungkin hanya sebatas wacana.

Memulai sesuatu yang baru dengan batin yang bersih dan tekad yang bulat, sangat mungkin untuk memperoleh kesuksesan. Karena fondasinya kuat. Selama ini mungkin banyak kegagalan yang kita dapatkan karena kita masih terbelenggu oleh noda batin masa lalu. Kesalahan yang dilakukan itu  menghambat terus-menerus setiap usaha. Disamping itu, sering pula  kesalahan tersebut dijadikan sebagai pembenar atas kegagalan-kegagalan yang muncul. Ada jawaban dalam diri kita ‘aku gagal karena aku mempunyai noda batin  masa lalu yang selalu melekat’.

Rantai inilah yang  harus dihapus setelah Ramadhan. Makanya kita  memproklamirkan  lebaran sebagai titik Nol. Sebagai langkah pertama  mengubah nasib, menuju sukses.

Titik Nol  lebaran adalah momentum yang kuat untuk berjuang menggapai menjadi yang terbaik. Karena secara batin di back-up dengan hati yang bersih, dan secara agama ditopang dengan amal saleh. Kedua modal ini akan menjadi kekuatan dahsyat untuk menyingkirkan semua halang rintang.***










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)